- Selama ini, kerja sama dengan berbagai NGO cenderung berfokus pada konservasi semata. Padahal, menurutnya, pendekatan yang menghubungkan konservasi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat akan lebih mudah diterima dan berkelanjutan.
- Ia menekankan bahwa pola pikir juga harus berubah. Jika dulu mahasiswa identik dengan kritik dan demonstrasi, maka kini saatnya bertransformasi menjadi bagian dari solusi.
PELAKITA.ID – Upaya membangkitkan kembali kejayaan tambak udang di Sulawesi Selatan tidak bisa lagi berjalan secara parsial.
Dalam pandangannya pada forum workshop tata kelola udang, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulsel menegaskan bahwa kunci utama ada pada kolaborasi—bukan hanya antar institusi, tetapi juga antar generasi alumni yang memiliki kapasitas keilmuan dan pengalaman lapangan.
Di hadapan akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan, Kadis DKP Sulsel menyampaikan apresiasi atas inisiatif Ikatan Alumni yang mulai mengubah pendekatan kegiatan.
Jika sebelumnya alumni lebih banyak berkumpul dalam forum seremonial, kini dituntut menghadirkan kontribusi nyata berbasis ilmu pengetahuan.
Menurutnya, para alumni—yang kini banyak berstatus magister hingga doktor, bahkan praktisi berpengalaman—memiliki tanggung jawab moral untuk menjawab persoalan sektor kelautan dan perikanan, khususnya budidaya udang.
Ia menekankan bahwa pola pikir juga harus berubah. Jika dulu mahasiswa identik dengan kritik dan demonstrasi, maka kini saatnya bertransformasi menjadi bagian dari solusi.
Kontribusi tersebut tidak hanya dalam bentuk rekomendasi kebijakan, tetapi juga aksi nyata seperti membangun model percontohan tambak yang dapat direplikasi oleh masyarakat.
Dalam konteks ini, Kadis DKP Sulsel juga mengapresiasi pendekatan baru yang diusung oleh Blue Forests, yang mencoba mengintegrasikan aspek konservasi dengan kepentingan ekonomi.
Selama ini, kerja sama dengan berbagai NGO cenderung berfokus pada konservasi semata. Padahal, menurutnya, pendekatan yang menghubungkan konservasi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat akan lebih mudah diterima dan berkelanjutan.
Salah satu persoalan mendasar yang diangkat adalah tingginya jumlah tambak yang tidak produktif. Dari sekitar 120 ribu hektare lahan tambak di Sulawesi Selatan, hanya sekitar 30 persen yang masih beroperasi.
Sisanya menjadi lahan tidur yang mencerminkan kegagalan sistemik dalam pengelolaan sektor ini. Berbagai program yang pernah dijalankan, seperti bantuan benur udang windu, dinilai belum menyentuh akar persoalan.
Lebih jauh, ia menyoroti fenomena kegagalan tambak intensif dan semi-intensif yang semakin sering terjadi. Pada awal pengembangan, banyak tambak menunjukkan hasil menjanjikan.

Dalam perjalanannya, berbagai kendala—mulai dari manajemen, penyakit, hingga kualitas lingkungan—membuat usaha tersebut tidak berkelanjutan. Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan memicu penurunan minat pelaku usaha dan berujung pada stagnasi sektor pertambakan.
Karena itu, ia menegaskan pentingnya mengidentifikasi akar masalah secara komprehensif. Tidak cukup hanya dengan intervensi teknis atau bantuan sesaat, tetapi perlu pendekatan sistemik yang mencakup tata kelola, kapasitas SDM, akses pembiayaan, hingga dukungan kebijakan.
Dalam hal pendanaan, ia juga menekankan bahwa keterbatasan anggaran bukanlah alasan utama. Berbagai skema seperti kredit usaha rakyat (KUR), kemitraan perbankan, hingga dana CSR dapat dimanfaatkan jika ada kemauan dan kolaborasi yang kuat.
Dalam perspektif yang lebih luas, Kadis DKP Sulsel mengingatkan bahwa persoalan tambak udang hanyalah satu bagian dari tantangan besar sektor kelautan dan perikanan.
Mulai dari perikanan tangkap hingga budidaya, masih banyak aspek yang perlu dibenahi. Namun, ia optimistis bahwa Sulawesi Selatan dapat menjadi titik awal perubahan—sebuah laboratorium kebijakan dan praktik yang nantinya bisa direplikasi secara nasional.
Ia pun menutup dengan ajakan reflektif kepada seluruh alumni, khususnya dari Universitas Hasanuddin. Menurutnya, menjadi alumni bukan sekadar identitas, tetapi tanggung jawab.
Dengan bekal ilmu yang dimiliki, sikap apatis tidak lagi relevan. Justru, inilah saatnya menunjukkan peran nyata dalam membangun sektor yang menjadi bidang keilmuan mereka.
Melalui forum ini, harapan besar pun disematkan: agar kolaborasi yang terbangun tidak berhenti sebagai diskusi, tetapi berlanjut menjadi gerakan bersama.
Dari Sulawesi Selatan, model tata kelola tambak udang yang kolaboratif, produktif, dan berkelanjutan diharapkan dapat lahir—dan menjadi inspirasi bagi Indonesia secara keseluruhan.









