- Bahkan, upaya pengelolaan tambak yang dilakukan kampus sendiri belum sepenuhnya berhasil. Bagi Dekan, hal ini justru menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Kegagalan bukan untuk ditutupi, melainkan dikaji secara ilmiah agar menjadi dasar perbaikan ke depan.
- Pertanyaan kritis seperti “mengapa tambak yang dikelola oleh ahli pun bisa gagal?” harus dijadikan pintu masuk untuk menemukan solusi yang lebih tepat
Rangkuman sambutan Dekan FIKP Unhas Prof Mahatma Lanuru dalam Workshop Tata Kelola Udang Sulsel
PELAKITA.ID – Upaya membangun kembali kejayaan tambak udang di Sulawesi Selatan tidak bisa lagi dilakukan dengan pendekatan lama.
Dalam sambutannya pada workshop tata kelola udang, Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin menegaskan bahwa momentum ini harus dimaknai sebagai titik balik: menata ulang sistem tambak secara menyeluruh, berbasis ilmu pengetahuan, dan berorientasi keberlanjutan.
Di hadapan para narasumber, praktisi, pemerintah, dan media, Dekan FIKP Universitas Hasanuddin menyoroti empat kata kunci utama dari tema workshop.
Pertama, “menata ulang tambak” sebagai respons atas berbagai persoalan klasik—penyakit, penurunan kualitas air, hingga produktivitas yang stagnan.
Kedua, fokus pada Sulawesi Selatan sebagai salah satu sentra utama produksi udang nasional, yang diharapkan menjadi model perbaikan tata kelola secara lebih luas di Indonesia.
Kata kunci ketiga yang ditekankan adalah pendekatan berbasis ekosistem.
Menurutnya, kegagalan banyak tambak dalam dua dekade terakhir tidak lepas dari rusaknya keseimbangan lingkungan, terutama akibat konversi mangrove yang sebelumnya berfungsi sebagai filter alami.
Pada masa kejayaan udang windu di era 1990-an, sistem tambak masih terintegrasi dengan ekosistem pesisir—air yang masuk ke tambak terlebih dahulu disaring oleh kawasan mangrove, sehingga kualitasnya lebih terjaga.
Kini, tekanan terhadap lingkungan membuat sistem konvensional tidak lagi memadai.
Kata kunci terakhir adalah tujuan besar: menciptakan tambak yang tangguh dan berkelanjutan. Tambak yang tangguh berarti mampu bertahan dari serangan penyakit dan fluktuasi lingkungan, sementara keberlanjutan menekankan pada keseimbangan antara produksi dan kelestarian ekosistem.
Jika dua hal ini tercapai, maka dampaknya tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penguatan ekonomi masyarakat pesisir dan penciptaan lapangan kerja.
Dalam konteks peran kampus, Dekan FIKP menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga harus mendorong hilirisasi dan komersialisasi hasil riset.
Sebagai perguruan tinggi berbadan hukum (PTNBH), Universitas Hasanuddin dituntut untuk lebih aktif menghadirkan solusi nyata bagi industri, termasuk sektor budidaya udang.
Dekan FIKP Unhas tamatan 1989 Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas itu juga secara terbuka mengakui bahwa praktik di lapangan tidak selalu berjalan mulus.
Bahkan, upaya pengelolaan tambak yang dilakukan kampus sendiri belum sepenuhnya berhasil. Bagi Dekan, hal ini justru menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.
Menurut alumni Doktor asal Jerman itu, kegagalan bukan untuk ditutupi, melainkan dikaji secara ilmiah agar menjadi dasar perbaikan ke depan. Pertanyaan kritis seperti “mengapa tambak yang dikelola oleh ahli pun bisa gagal?” harus dijadikan pintu masuk untuk menemukan solusi yang lebih tepat.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas aktor. Pemerintah, akademisi, praktisi, peneliti, hingga media memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem budidaya yang sehat.
Kebijakan pemerintah, seperti rencana menghidupkan kembali udang windu, perlu dikaji bersama agar selaras dengan kondisi lingkungan dan kesiapan teknologi saat ini.
Di sisi lain, pengalaman praktisi di lapangan menjadi sumber pembelajaran yang tidak kalah penting dibandingkan teori di kampus.
Workshop ini, menurutnya, bukan sekadar forum diskusi, tetapi ruang untuk menyatukan perspektif dan merumuskan langkah konkret.
Dengan menghadirkan berbagai pihak, diharapkan lahir pendekatan yang lebih komprehensif—tidak hanya berbasis produksi, tetapi juga mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Prof Mahatma menyebut menata ulang tambak udang di Sulawesi Selatan bukan pekerjaan satu pihak. Ia membutuhkan sinergi yang kuat, keberanian untuk mengevaluasi praktik lama, serta komitmen untuk beralih ke pendekatan berbasis ekosistem.
Dari sinilah harapan untuk menghadirkan tambak yang tangguh dan berkelanjutan dapat benar-benar diwujudkan—bukan hanya sebagai wacana, tetapi sebagai realitas di lapangan.
___
Pelakita.ID









