Nur Sangadji Raih Gelar Guru Besar di Tadulako, Sang Penjaga Nalar Lingkungan dari Kampus hingga Desa

  • Whatsapp
Mohd Nur Sangadji dan istri yang juga meraih Guru Besar pada momen yang sama bersama ananda (dok: Istimewa)

Prof Dr Ir Muhammad Nur Sangadjim DEA adalah juga salah satu pendiri The COMMIT Foundation, LSM yang berbasis di Makassar.

 

PELAKITA.ID – Di tengah dinamika pembangunan yang kerap berhadapan dengan kepentingan lingkungan, nama Muhammad Nur Sangadji hadir sebagai salah satu suara yang konsisten menjembatani ilmu pengetahuan, kebijakan, dan realitas masyarakat.

Bagi civitas akademika Universitas Tadulako, sosoknya bukan sekadar dosen—melainkan representasi dari intelektual kampus yang hidup dan bekerja di tengah persoalan nyata.

Mengawali perjalanan akademiknya sejak era 1980-an di Universitas Tadulako, Sangadji kemudian menapaki jalan panjang sebagai dosen di Fakultas Pertanian sejak awal 1990-an. Pengalaman akademiknya tidak berhenti di dalam negeri.

Ia, yang juga Kepala PPLH Universitas Tadulako ini menempuh pendidikan lanjut di Prancis, membawanya pada perspektif global yang kelak mewarnai cara pandangnya terhadap pembangunan, lingkungan, dan masyarakat.

Yang membuat Sangadji berbeda bukan semata gelar akademiknya, melainkan keberaniannya keluar dari batas ruang kelas.

Ilmu yang Membumi

Sebagai akademisi di bidang agroteknologi, kepakaran Sangadji berakar pada ekologi dan pertanian. Ia tidak melihat pertanian hanya sebagai soal produksi, tetapi sebagai sistem yang terhubung erat dengan lingkungan, sosial, dan kebijakan.

Keterlibatannya dalam berbagai kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) dan perencanaan wilayah menunjukkan bahwa ilmunya tidak berhenti di jurnal ilmiah. Ia hadir dalam ruang-ruang pengambilan keputusan, memberi perspektif ekologis pada pembangunan daerah.

Baginya, pertanian bukan sekadar menanam dan memanen, tetapi tentang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Dari Laboratorium ke Masyarakat

Di luar aktivitas akademik, Sangadji aktif dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat. Ia terlibat dalam pengembangan produk pangan lokal, inovasi sederhana berbasis sumber daya desa, hingga penguatan ekonomi komunitas.

Pendekatannya sederhana namun kuat: ilmu harus bisa dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Dari pengolahan pangan berbasis kelor hingga pengembangan produk lokal, ia menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus kompleks—yang penting relevan.

Dalam banyak kesempatan, ia hadir bukan sebagai “pakar yang mengajar”, tetapi sebagai fasilitator yang belajar bersama masyarakat.

Intelektual yang Bersikap

Di lingkungan kampus, Sangadji dikenal sebagai sosok yang kritis. Ia tidak ragu menyuarakan pandangan terkait tata kelola, transparansi, dan arah kebijakan institusi.

Perannya dalam berbagai forum akademik dan organisasi menunjukkan komitmennya pada nilai-nilai integritas dan kebebasan berpikir.

Sikap ini menjadikannya bukan hanya akademisi, tetapi juga penjaga etika akademik.

Selain bidang keilmuan, Sangadji juga dikenal sebagai penggerak literasi, khususnya dalam penguasaan bahasa asing. Ia percaya bahwa mahasiswa daerah harus mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar lokalnya.

Melalui berbagai inisiatif, termasuk komunitas belajar bahasa, ia mendorong generasi muda untuk membuka diri terhadap dunia yang lebih luas termasuk memberikan petimbangan-pertimbangan baik program pemberdayaan The COMMIT Foundation, salah satu LSM di Indonesia yang mendorong tranformasi masyarakat di tengah deru modernisasi pembangunan.  Nur Sangadji adalah salah satu ‘the man behind the gun-nya’ organisasi imi.

Warisan Pemikiran

Jejak yang ditinggalkan Muhammad Nur Sangadji tidak hanya berupa publikasi atau jabatan, tetapi cara berpikir.

Ia mengajarkan bahwa pembangunan tidak bisa dilepaskan dari ekologi, bahwa ilmu harus hadir untuk masyarakat, dan bahwa kampus harus tetap menjadi ruang kritis.

Di tengah arus pembangunan yang seringkali pragmatis, Sangadji berdiri sebagai pengingat bahwa keberlanjutan bukan pilihan, melainkan keharusan.

Muhammad Nur Sangadji adalah potret akademisi yang tidak berhenti pada teori—ia menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, dan kampus sebagai titik awal perubahan.

Selamat atas pencapaian Guru Besar-nya, sensei!

__
Penulis Denun di Sorowako