Terobosan Waste-to-Energy Makassar: Mengubah 1.000 Ton Sampah Menjadi Energi Listrik

  • Whatsapp
Ilustrasi terkait PSEL di Kota Makassar (dok: by Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Kota Makassar memasuki babak baru dalam keberlanjutan perkotaan melalui proyek ambisius pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy/WTE) di TPA Tamangapa.

Dirancang untuk mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari, inisiatif ini bertujuan mengubah persoalan sampah yang kian meningkat menjadi sumber energi terbarukan yang mampu menghasilkan listrik sebesar 20–25 megawatt.

Dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun, proyek yang dikenal sebagai Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) ini menjadi salah satu investasi infrastruktur lingkungan terbesar di Indonesia Timur.

Lebih dari sekadar pengelolaan sampah, proyek ini merupakan langkah strategis menuju ekonomi sirkular, di mana sampah tidak lagi dibuang, melainkan dimanfaatkan kembali sebagai sumber daya.

Dari Sampah Menjadi Listrik: Cara Kerja Sistem

Di jantung fasilitas ini terdapat proses multi-tahap yang dirancang secara cermat. Sampah yang dikumpulkan dari seluruh penjuru kota—bahkan dari wilayah sekitar—pertama-tama dipilah menggunakan sistem separator.

Tahap ini sangat krusial untuk membedakan material yang layak diolah menjadi energi dan yang tidak.

Sampah dengan nilai kalor tinggi, khususnya plastik, menjadi bahan bakar utama dalam proses pembangkitan energi. Material ini dipilih karena efisiensinya dalam pembakaran, sehingga mampu menghasilkan energi secara optimal.

Sebaliknya, sampah organik, logam, dan kaca dipisahkan sejak awal guna menghindari inefisiensi dan risiko lingkungan.

Setelah dipilah, sampah yang terpilih kemudian melalui proses pembakaran terkontrol dengan teknologi ramah lingkungan. Panas yang dihasilkan dari proses ini selanjutnya dikonversi menjadi listrik yang disalurkan ke jaringan listrik lokal dan berkontribusi pada pasokan energi kota.

Mengapa Makassar Membutuhkan Dukungan Daerah Sekitar

Salah satu aspek unik dari proyek ini adalah ketergantungannya pada kolaborasi regional. Saat ini, Makassar hanya menghasilkan sekitar 800 ton sampah per hari—jumlah yang belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan operasional optimal fasilitas tersebut.

Untuk menutup kekurangan ini, pemerintah kota menjalin kerja sama lintas daerah dengan Gowa dan Maros.

Dalam skema ini, Gowa menyuplai sekitar 150 ton sampah per hari, sementara Maros menambahkan 50 ton.

Strategi aglomerasi ini memastikan ketersediaan pasokan sampah “segar” sebanyak 1.000 ton per hari, yang sangat penting untuk menjaga efisiensi pembakaran dan konsistensi produksi listrik. Tanpa kolaborasi ini, fasilitas akan sulit beroperasi secara optimal.

Melampaui Open Dumping: Masa Depan Pengelolaan Sampah yang Lebih Bersih

Proyek ini juga menandai pergeseran besar dari praktik lama “open dumping” yang selama ini menimbulkan risiko lingkungan dan kesehatan masyarakat. Sebagai gantinya, Makassar beralih menuju sistem sanitary landfill modern yang terintegrasi dengan fasilitas WTE.

Tidak semua sampah dapat diolah menjadi energi—hanya sekitar 20–25 persen yang memenuhi kriteria. Sisa sampah lainnya dikelola melalui sistem landfill yang lebih terkontrol, sehingga mengurangi pencemaran.

Sistem separator kembali memainkan peran penting di sini. Dengan memisahkan material non-kombustibel seperti logam dan kaca, sistem ini tidak hanya meningkatkan efisiensi energi, tetapi juga membuka peluang untuk daur ulang dan pemulihan sumber daya.

Dampak Lingkungan dan Strategis

Manfaat proyek PSEL tidak berhenti pada produksi listrik. Dengan memprioritaskan sampah berkualitas tinggi dan menggunakan teknologi pembakaran yang lebih bersih, fasilitas ini mampu menekan emisi serta mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir.

Selain itu, penggunaan sampah segar—bukan sampah lama yang telah terurai—membantu menjaga stabilitas dan efisiensi proses konversi energi. Pendekatan ini juga mengurangi risiko asap berlebih, emisi metana, serta dampak lingkungan lainnya yang kerap muncul dari pengelolaan sampah yang buruk.

Dalam konteks yang lebih luas, proyek ini mencerminkan perubahan paradigma bahwa sampah perkotaan bukan sekadar beban, melainkan potensi aset. Melalui perencanaan terpadu dan kerja sama regional, Makassar mulai memposisikan diri sebagai model pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia.

Model untuk Masa Depan

Di tengah meningkatnya volume sampah dan kebutuhan energi di berbagai kota, inisiatif Makassar menawarkan cetak biru yang menjanjikan. Dengan menghubungkan pengelolaan sampah dan produksi energi, serta mendorong kolaborasi lintas wilayah, kota ini menunjukkan pendekatan holistik dalam menjawab tantangan perkotaan.

Jika berhasil diimplementasikan secara optimal, fasilitas waste-to-energy di Tamangapa tidak hanya akan mengurangi tekanan terhadap TPA, tetapi juga memperkuat ketahanan energi—mengubah persoalan lama menjadi solusi masa depan.

Editor: Denun