Catatan Mugniar | Menyoal Kepedulian Lelaki dalam Menyikapi Isu Perempuan

  • Whatsapp
Keadilan gender adalah kondisi ketika perempuan, laki-laki, dan kelompok gender lainnya memperoleh hak, kesempatan, perlindungan, dan manfaat yang adil dalam seluruh aspek kehidupan—sosial, ekonomi, politik, budaya, dan hukum—dengan mempertimbangkan perbedaan kebutuhan, pengalaman, dan kerentanan yang mereka alami. Keadilan gender tidak selalu berarti perlakuan yang sama, melainkan perlakuan yang setara secara proporsional, agar setiap orang memiliki peluang yang sama untuk berkembang dan berpartisipasi.

Penulis Mugniar, www.mugniar.com)

“Masalah perempuan yang sering ditemui adalah pelecehan tapi ini adalah masalah yang tidak kelihatan. Kalau datang ke desa, mengobrol dengan ibu-ibu, banyak masalah yang tidak muncul ke publik,” Muhammad Fathul Fauzy, Bupati Bantaeng memulai uraiannya pada Lokalatih Jurnalisme Warga dan Suara Perempuan: Membangun Narasi Melalui Jurnalisme Kritis di Rumata’ Artspace pada 29 Januari 2026.

Ilustrasi kegiatan (dok: Istimewa)

Memberi Kesempatan, Tak Hanya Mengakui

Olehnya itu, setelah memenangkan pilkada, pada tahun pertama, bupati yang akrab disapa dengan Uji Nurdin ini mendukung pendirian YPA  (Yayasan Perempuan dan Anak) Bangkit. YPA Bangkit adalah tempat pengaduan bagi perempuan dan anak, membuka ruang atau konsultasi atau mengadu ke aparat penegak hukum secara gratis.

“Setelah terbentuknya forum ini, ternyata banyak pengaduan baik verbal maupun nonverbal.

Jadi perempuan berat karena banyak tuntutan, di sisi lain jadi obyek pelecehan,” ujarnya lagi.

Kemenangan Uji pada pilkada juga merupakan kemenangan bagi perempuan mengingat banyaknya pemilih perempuan di Bantaeng.

Kepeduliannya bukan sekadar jargon. YPA Bangkit adalah manifestasi dari kepedulian itu.

Bukan hanya itu, Uji mengakui kompetensi para perempuan dalam jajarannya.

Dari 8 kecamatan di Kabupaten Bantaeng, empat kecamatan dipimpin oleh camat perempuan.

“Dalam hal ketelitian, laki-laki tidak bisa menyaingi perempuan, termasuk dalam hal-hal strategis. Kerangka berpikir perempuan lebih hebat dari laki-laki. Cara kerja perempuan berbeda, efektivitasnya juga berbeda,” pungkas Uji, menegaskan alasan mengapa beberapa jabatan penting di Pemda Bantaeng dipegang oleh perempuan.

Mengakui bahwa performa kerja perempuan lebih bagus ketika diberi kesempatan, dirinya tak terjebak dengan mitos bahwa “posisi perempuan harus di bawah laki-laki” sehingga memberi kepercayaan penuh kepada perempuan yang memang mampu mengemban amanah.

Mengambil Peran, Memberi Kesempatan, Bukan Sekadar Mengutuk

“Kita bareng-bareng menjadi bagian dari perencanaan pembangunan daerah atau perbaikan situasi di daerah yang diharapkan menjadi ruang atau wahana bagi perlindungan atau keadilan gender. Perempuan atau siapapun yang peduli dengan keadilan gender itu harus bersama-sama menyusun narasi untuk mengatasi sesuatu yang ‘not right’ tentang isu perempuan. Banyaknya tekanan, pelecehan seharusnya membuat kita semua bersuara dengan memanfaatkan peluang dari gadget dan internet yang ada,” Kamaruddin Azis, founder Pelakita.id menanggapi data yang dipaparkannya terkait banyaknya kekerasan terhadap perempuan di dunia nyata dan ranah digital.

“Apa poinnya kita suarakan? Pelakita.id atau jurnalisme warga menawarkan platform untuk Anda-anda bersuara untuk menuliskan itu dan menjadi informasi atau asupan bagi pengambil kebijakan sepereti pemerintah daerah,” ungkap lelaki yang akrab disapa Denun ini.

“Masalah perempuan yang sering ditemui adalah pelecehan tapi ini adalah masalah yang tidak kelihatan. Kalau datang ke desa, mengobrol dengan ibu-ibu, banyak masalah yang tidak muncul ke publik,” Muhammad Fathul Fauzy, Bupati Bantaeng memulai uraiannya pada Lokalatih Jurnalisme Warga dan Suara Perempuan: Membangun Narasi Melalui Jurnalisme Kritis di Rumata’ Artspace pada 29 Januari 2026.

Menurutnya Denun, yang disebut strategi jurnalisme untuk agenda perubahan yang paling mumpuni adalah “menjadi kreatif di tengah problematika kita untuk tidak mengutuk, untuk tidak reaktif, untuk tidak menyalahkan pihak luar tapi mengambil inisiatif dari dalam diri kita”.

Lelaki yang masih aktif sebagai tenaga ahli pengembangan dan pemberdayaan masyarakat pada industri pertambangan di Luwu Timur ini bukan hanya menyadari perannya untuk menjadi bagian dari agen perubahan, dia juga mengadvokasi, mencoba menanamkan kesadaran pada orang lain, dan menawarkan solusi bagi mereka yang terkungkung dalam isu negatif untuk menjadi jurnalis warga.

Menyoal Kepedulian Lelaki

Pemaparan Uji Nurdin dan Denun memantik tanya mengenai KEPEDULIAN LELAKI ala mereka yang jarang kita dapatkan.

Hal ini penting mengingat pemaparan Lusia Palulungan, Program Manager Inklusi BaKTI mengenai aneka tantangan yang dihadapi perempuan dalam menghadapi isu gender.

Perempuan yang akrab disapa Lusi ini menjelaskan dengan cukup detail dan lugas mengenai tantangan partisipasi perempuan dalam media dan ruang publik.

Hambatan dan tantangan muncul dari dalam individu, juga dari keluarga, struktural, dan kultural.

Ada mitos yang dianggap oleh sebagian orang sebagai bagian dari kebudayaan yang tak dapat diubah yang membatasi ruang gerak perempuan dan mendudukkannya pada posisi serba sulit.

Ada pula potensi risiko di lapangan yang mendatangkan kekerasan terhadap perempuan.

Ditambah lagi adanya bias gender, bias diksi, bias pengabaian, dan bias pemilihan isu dari media membuat permasalahan esensial tak tampak di permukaan karena tertutupi oleh hal-hal yang dianggap lebih menguntungkan secara finansial ataupun politik.

“Jurnalisme warga diharap mengangkat informasi normatif yang secara komprehensif menerima prinsip hukum dan etika yang berlaku umum, bukan hanya satu sisi. Jangan yang dianggap penting saja di-head line sementara isu perempuan kecil saja. Penting ada media alternatif yang mengangkat infomasi yang memberikan pencerahan dan normatif sehingga mencerdaskan masyarakat,” pungkas Lusi.

Saat sesi pertanyaan, muncul pertanyaan yang menyinggung kepedulian lelaki.

“Kita butuh lelaki yang memiliki kepedulian yang secara tulus melihat dan mengakui pentingnya peran perempuan” demikian highlight pertanyaannya.

Pentingnya Keluarga dan Kesadaran Diri

Peran Keluarga

Lusi menanggapi pertanyaan dengan mengungkapkan pentingnya membangun kesadaran lelaki dalam keluarga,

“Kesadaraan laki-laki harus dibangun dalam keluarga misalnya dibiasakan mengerjakan pekerjaan domestik, anak perempuan dibiasakan untuk berperan di publik, seperti mencari nafkah. Memiliki profesi tertentu adalah bagian dari kapasitas diri.” Lusi juga menekankan mengenai pekerjaan domestik penting untuk diajarkan juga pada anak laki-laki sebab hal tersebut merupakan life skill yang akan dibutuhkan suatu saat.

Dia mengingatkan catatan penting bagi perempuan: ketika terbuka kesempatannya, tetap ada pembagian peran.

Suami pun demikian, ketika istri mencari nafkah, terbuka baginya untuk membiasakan mengerjakan pekerjaan rumah. Penting edukasi bagi perempuan dan laki-laki mengenai kesetaraan gender.

Bukan berarti bahwa perempuan sama sekali tidak masak dan laki-laki mengerjakan semua pekerjaan rumah. Penting untuk mewujudkan keselarasan dan kesetaraan sehingga ending-nya KEHARMONISAN.

Diksi yang Menghargai dan Kesadaran Diri

Memilih menggunakan diksi ORANG TUA TUNGGAL ketimbang menggunakan kata JANDA merupakan bentuk kepedulian Denun.

Melalui pesan pribadi di aplikasi WhatsApp, Denun mengungkapkan alasannya menggunakan istilah “orang tua tunggal”: istilah janda terasosiasi pada stigma negatif sementara istilah ‘orang tua tunggal’ menandakan ketangguhan.

Denun mengatakan bahwa agenda perubahan harus lahir dari KESADARAN DIRI, lalu ditransformasikan ke lingkungan atau rumah tangga. “

Kita tidak bisa memaksa masyarakat berubah kalau bukan mereka sendiri yang menuyadari dan itu berpengaruh pada penghidupan mereka.

Misal air masuk dalam pekarangan rumah mereka, mungkin mereka bisa tolerir kalau belum masuk di pintunya. Tindakan secara kolektif diambil kalau terasa berdampak pada kenyamanan mereka,” ujarnya lagi.

Tidak Semua Laki-laki …

Uji Nurdin mengungkapkan patriarki adalah masalah sejak dulu. Sekarang sudah terlihat adanya perubahan, sudah banyak laki-laki yang tidak terlalu keras membelakukan masalah patriarki.

Selain menekankan kembali peran perempuan di Pemda Bantaeng, begitu pun sikapnya pada istrinya yang sebelum menikah berprofesi sebagai jurnalis di salah satu stasiun televisi nasional.

Setelah menikah dia tanyakan kepada istrinya apakah mau tetap bekerja ataukah mengurus keluarga di rumah, istrinya memilih berhenti bekerja untuk fokus mengurus keluarga.

“Perempuan sangat luar biasa. Rocky Gerung menyebut ‘perempuan penentu peradaban’. Kalau perempuan tidak mau hamil dan melahirkan, maka hancurlah peradaban. Perempuan indah sebagai fiksi, berbahaya sebagai fakta,” Uji mengutip ungkapan Rocky Gerung.

Menurut Uji, sudah ada pergeseran namun bukan berarti sama sekali tidak ada diskriminasi. Masih ada diskriminasi tapi sudah tergeser.

Sekarang perempuan yang jadi kepala daerah sudah semakin banyak. Mitos seputar perempuan merupakan PR kita bersama. Kesadaran laki-laki dalam memandang perempuan lebih rendah tidak bisa disamakan semua.

***

Untuk mendorong kesadaran dan partisipasi masyarakat, lokalatih ini telah menjadi gebrakan yang akan memicu tindakan ke arah perubahan yang dikehendaki kemanusiaan.

Para narasumber, pelaksana lokalatih, dan para peserta mengisyaratkan itikad baik untuk bergandeng tangan.

Setidaknya kesadaran diri, peran keluarga, lingkungan, dan mengantisipasi tantangan dengan solusi jurnalisme warga bisa digarisbawahi di sini.

___
Penulis: Mugniar