Logika Teropong Daun Pisang Muda Sang Abu Nawas

  • Whatsapp
Ilustrasi AI

Refleksi Alam Bawah Sadar dalam Mempertahankan Citra Sebagai “Orang Baik dan Ikhlas”

PELAKITA.ID – Dalam khazanah cerita rakyat Timur Tengah yang beredar luas di dunia Melayu–Islam, Abu Nawas kerap ditempatkan sebagai tokoh jenaka.

Di sisi lain, dengan membaca ulang kisah-kisahnya dengan kacamata reflektif menunjukkan bahwa Abu Nawas bukan sekadar pelawak istana, melainkan intelektual kritis yang bekerja dengan cara paling halus: mempermainkan logika kekuasaan melalui absurditas.

Salah satu kisah yang relevan untuk dibaca ulang hari ini adalah cerita tentang teropong daun pisang muda. Di permukaan, kisah ini tampak seperti humor klasik tentang kebodohan penguasa dan kecerdikan rakyat jelata. Namun jika ditelisik lebih dalam, ia justru menyimpan kritik tajam tentang politik citra, kejujuran simbolik, dan kecemasan moral yang hidup dalam struktur kekuasaan.

Abu Nawas digambarkan menciptakan sebuah teropong dari daun pisang muda—benda yang secara rasional mustahil memiliki fungsi optik. Dengan penuh keyakinan, ia menarasikan bahwa teropong tersebut mampu menembus alam akhirat, memungkinkan siapa pun yang menggunakannya melihat keadaan nenek moyangnya setelah kematian. Klaim ini tidak berdiri di atas ilmu pengetahuan, melainkan di atas wilayah paling rapuh dari kesadaran manusia: keyakinan metafisik dan rasa takut akan penilaian moral.

Sang raja, dalam kisah ini, sebenarnya tidak sepenuhnya percaya. Skeptisisme tetap ada. Namun kekuasaan jarang bergerak secara jujur di hadapan ketidakpastian. Raja tidak serta-merta menolak klaim Abu Nawas, melainkan memilih jalan pembuktian tidak langsung: menyuruh para menterinya mencoba terlebih dahulu teropong tersebut.

Di sinilah logika sosial mulai bekerja. Para menteri, satu per satu, mendapati bahwa mereka tidak melihat apa pun. Teropong itu kosong. Namun ketidakmampuan melihat justru menjadi ancaman simbolik.

Jika teropong itu benar-benar berfungsi—sebagaimana klaim Abu Nawas—maka ketidakmampuan melihat berarti ketidakjujuran dan ketidakikhlasan diri. Ketakutan akan stigma moral ini lebih kuat daripada komitmen pada kejujuran. Maka para menteri memilih berbohong kepada raja: mereka mengaku melihat keadaan keluarga mereka di akhirat.

Kebohongan ini bukan kebohongan biasa, melainkan kebohongan kolektif yang lahir dari kecemasan eksistensial. Abu Nawas dengan cerdik memindahkan arena kebenaran dari wilayah fakta ke wilayah citra. Yang diuji bukan fungsi teropong, melainkan keberanian moral untuk mengakui ketidakikhlasan.

Ketika giliran raja mencoba, ia menemukan apa yang sejak awal ia duga: teropong itu hanyalah akal-akalan. Tidak ada yang bisa dilihat. Reaksi yang muncul pun klasik dalam politik kekuasaan—amarah.

Abu Nawas dituduh berbohong dan diperintahkan untuk dihukum mati. Tuduhan ini penting dicermati: yang dipersoalkan bukan kebohongan para menteri, melainkan keberanian Abu Nawas membuka ruang di mana kebohongan itu menjadi telanjang.

Namun kecerdikan Abu Nawas tidak berhenti pada provokasi. Ia membalik logika tuduhan dengan satu argumen sederhana tetapi mematikan: teropong itu hanya dapat berfungsi bagi orang-orang yang benar-benar jujur dan ikhlas. Jika seseorang tidak melihat apa-apa, maka persoalannya bukan pada teropong, melainkan pada kondisi batin si peneropong.

Di titik ini, raja menghadapi dilema simbolik. Jika ia mengakui bahwa ia tidak melihat apa pun, maka ia harus menerima kesimpulan bahwa dirinya—sebagai raja—tidak jujur dan tidak ikhlas. Sebuah pengakuan yang berbahaya bagi legitimasi moral kekuasaan. Maka, seperti para menterinya, raja pun memilih berpura-pura melihat. Ia berbohong, bukan karena ia tertipu, melainkan karena ia terperangkap oleh citra yang harus dipertahankan.

Kisah ini menunjukkan bahwa kekuasaan sering kali tidak runtuh oleh kebohongan, tetapi oleh ketakutannya sendiri terhadap kebenaran. Teropong daun pisang muda tidak pernah benar-benar ditujukan untuk melihat akhirat, melainkan untuk memantulkan kecemasan batin para elite: bahwa kejujuran dan keikhlasan sering kali hanya menjadi simbol yang dipertahankan secara retoris, bukan nilai yang sungguh-sungguh dihidupi.

Dalam konteks kehidupan publik hari ini, kisah Abu Nawas terasa sangat aktual. Banyak institusi dan pemimpin yang lebih sibuk menjaga citra moral daripada membangun integritas substantif. Seperti sang raja, mereka tidak ingin terlihat “tidak melihat”—karena tidak melihat berarti mengakui kekosongan etika di balik simbol-simbol kebajikan yang selama ini diklaim.

Pada akhirnya, logika teropong daun pisang muda mengajarkan bahwa kritik paling tajam tidak selalu datang dari perlawanan frontal, melainkan dari kecerdikan membaca psikologi kekuasaan. Abu Nawas tidak mengalahkan raja dengan kekuatan, melainkan dengan cermin. Dan yang paling menyakitkan dari sebuah cermin adalah ketika ia memantulkan wajah yang selama ini berusaha disembunyikan.

Fenomena kekuasaan Indonesia pun menemukan paralelnya dalam kisah ini. Para penjilat bukanlah orang yang benar-benar percaya, melainkan orang yang paling takut untuk jujur.

Mereka tidak memuji karena yakin, tetapi karena sadar bahwa kejujuran dapat mengancam posisi, jabatan, dan akses terhadap sumber daya. Dalam konteks ini, penjilat adalah produk dari sistem yang menghukum kejujuran dan memberi hadiah pada kepatuhan simbolik.

Rakyat jelata, sebagaimana digambarkan dalam latar kisah Abu Nawas, sering kali menjadi saksi bisu dari sandiwara kekuasaan. Mereka tahu bahwa teropong itu tidak bekerja. Mereka tahu bahwa banyak pejabat “tidak melihat apa-apa”. Namun suara mereka jarang menjadi penentu. Yang lebih dominan adalah suara elite yang saling mengukuhkan kepura-puraan satu sama lain.

Esai ini mengajak kita membaca ulang kisah Abu Nawas bukan sebagai dongeng masa lalu, melainkan sebagai cermin masa kini. Teropong daun pisang muda adalah metafora dari berbagai instrumen kekuasaan modern—indikator kinerja, survei formal, laporan administratif—yang sering kali lebih berfungsi sebagai alat legitimasi citra daripada sebagai sarana pencarian kebenaran.

Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukanlah apakah teropong itu benar-benar ada, melainkan: berapa banyak pejabat hari ini yang berani mengatakan “saya tidak melihat apa-apa”? Selama kejujuran masih dianggap ancaman dan kepura-puraan dianggap kecakapan politik, maka logika teropong daun pisang muda akan terus hidup—berulang dalam wajah-wajah baru kekuasaan Indonesia.

___
Penulis :

Rizkan Fauzie, Mekan-UH88. Aktif dalam kajian refleksi, keislaman, etika sosial dan budaya religius di masyarakat rural maupun urban.

Tulisan ini menjadi tanggung jawab penulis