- Tragedi, kekecewaan, dan pergantian kekuasaan tidak pernah cukup kuat untuk memadamkan api berkarya yang telah lama menyala dalam dirinya—api yang bersumber dari cinta dan tanggung jawab kultural terhadap Tana Luwu.
- Ia menyebut karya-karyanya sebagai “nisan”—bukan dalam makna kematian, melainkan sebagai penanda keberadaan. Penanda bahwa Idwar Anwar pernah lahir, pernah berpikir, pernah mencintai, dan pernah mengabdikan hidupnya melalui kata.
PELAKITA.ID – Tahun 2026 disambut Idwar “Edo” Anwar dengan perasaan yang berlapis.
Di satu sisi, penghujung 2025 meninggalkan jejak tragedi personal yang pahit, khususnya terkait dinamika yang terjadi di Kota Palopo. Di sisi lain, tahun baru ini juga membuka harapan: empat buku tentang Luwu yang kini berada dalam proses penyuntingan akhir bersiap untuk dirampungkan dan diterbitkan.
Buku-buku tersebut merupakan bagian dari rencana besar sepuluh buku yang ditargetkan terbit sepanjang 2026.
Bagi Edo, menulis bukan sekadar aktivitas intelektual atau profesi yang bergantung pada situasi dan jabatan.
Menulis adalah panggilan hidup. Ia adalah cara untuk terus berdiri tegak, bahkan ketika keadaan mencoba merobohkan.
Tragedi, kekecewaan, dan pergantian kekuasaan tidak pernah cukup kuat untuk memadamkan api berkarya yang telah lama menyala dalam dirinya—api yang bersumber dari cinta dan tanggung jawab kultural terhadap Tana Luwu.
Empat buku yang tengah digarap ini bukan sekadar proyek penerbitan. Ia adalah bentuk ikhtiar merawat ingatan kolektif: tentang sejarah, budaya, sastra, dan denyut kehidupan masyarakat Luwu yang kerap terpinggirkan dalam narasi besar.

Edo menyadari betul bahwa apa yang ia lakukan mungkin tak pernah benar-benar “selesai”. Ia menyebutnya sebagai utang kultural—utang kepada tanah kelahiran, kepada leluhur, kepada generasi yang akan datang—utang yang, menurutnya, tak akan pernah lunas hingga akhir hayat.
Dalam refleksinya yang jujur dan getir, Edo menegaskan satu hal: penguasa akan selalu berganti. Jabatan, posisi, dan kewenangan—bahkan hingga level paling bawah—adalah sesuatu yang sementara. Namun pilihan untuk menjadi penulis adalah sikap hidup yang tetap. Ia memilih jalan sunyi itu dengan kesadaran penuh, meski tahu bahwa jalan tersebut tak selalu memberi kenyamanan, apalagi kemewahan.
Melalui ribuan, bahkan mungkin jutaan lembar catatan yang akan ia tinggalkan, Edo tidak sedang mengejar pengakuan sesaat. Ia sedang membangun jejak.

Catatan-catatan itu kelak akan menjadi arsip, menjadi rujukan, menjadi saksi bahwa pada satu masa, pernah ada seorang anak Luwu yang dengan setia menuliskan tanahnya sendiri.
Ia menyebut karya-karyanya sebagai “nisan”—bukan dalam makna kematian, melainkan sebagai penanda keberadaan. Penanda bahwa Idwar Anwar pernah lahir, pernah berpikir, pernah mencintai, dan pernah mengabdikan hidupnya melalui kata.
Di tengah segala yang rapuh dan berubah, kesetiaan pada karya itulah yang membuatnya tetap utuh. Dan dari Luwu, untuk Luwu, semangat berkarya itu akan terus hidup—apa pun yang terjadi.
