Amran Razak, Aktivis Bersantan

  • Whatsapp

Catatan awal tahun 2026 jelang usia 70 tahun

 

PELAKITA.ID – Ibarat kelapa makin tua makin bersantan. Pria yang diawal 2026 ini genap berusia 69 tahun pantas mewakili idealisme: penuaan seharusnya menjadi proses peningkatan kualitas pribadi. Dimana nilai dan pengaruh seseorang semakin meningkat.

Yang juga khas ia mudah ditemui. Bukan di lantai keramik dengan dinding akademik tempatnya mengabdi. Tapi di ruang-ruang interaksi sosial warung kopi di berbagai sudut kota Makassar.

“Datang saja ke warung kopi kalau mau jumpa dengannya,” begitu pesan seorang kawan.

Namanya Prof.Dr.Amran Razak SE.M.Sc. Meski berlabel guru besar, jiwa kemahasiswaan masih kental dalam benaknya.

Dan selalu merasa masih sebagai aktivis mahasiswa sampai saat ini.

Saya dan banyak orang mengenal Amran- begitu ia biasa disapa- tidak bisa terlepas dari kiprahnya sebagai aktivis mahasiswa di eranya pada tahun 1970-an. Ia sosok visioner yang menginspirasi.

Semangat dan ketulusannya dalam memegang prinsip perjuangan merupakan teladan yang layak diadopsi dalam gerakan kepemudaan kini dan akan datang.

Amran adalah senior para aktivis yang memiliki segudang pengalaman. Ia berproses dari bawah menjadi seorang aktivis mahasiswa yang konsisten dan berani di saat kampus mengalami proses “pengebirian politik” pada dekade 1970-an.

Ketokohannya diterima di semua kalangan, baik ketika menjadi aktivis kampus maupun saat menjadi dosen. Sampai sampai ia dijuluki aktivis lintas zaman dan lintas generasi.

Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 1997-2001 itu berseloroh, “Saya aktivis mahasiswa dan menjadi Ketua Senat Mahasiswa dan aktif banyak organisasi kemahasiswaan. Sampai detik ini jiwa saya masih seorang aktivis. Darah saya tetap aktivis.”

Karena jiwanya tetap sebagai aktivis, guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas ini mengaku selalu meluangkan waktu untuk menghadiri acara kemahasiswaan yang diselenggarakan para aktivis mahasiswa.

“Saya selalu bersemangat ketika diminta bicara di depan aktivis mahasiswa. Kalau diundang mereka, saya berupaya untuk selalu meluangkan waktu,” kata Amran.

Menjadi aktivis atau memimpin organisasi kampus, menurut dia, merupakan modal menjadi pemimpin di masa depan.

Situasi demikian dialami pria kelahiran Makassar 2 Januari 1957 ini.

Ketika tahap aktivis dilalui, maka itu gerbang pertama untuk melangkah ke tahap aktivitas berikutnya.

Saat lulus kuliah, alumni manapun dituntut untuk berkarir. Jalani karir dari level rendah sampai level tinggi harus dijalani sesuai proses yang berlaku di instansi tempat berkarir.

Amran yang pada masanya dikenal “Demonstran dari Lorong Kambing” ini seakan menolak tua. Melihat semangatnya itu, dirinya kerap dianalogikan seperti pemeran utama film berjudul “The Curious Case of Benjamin Button”.

Dalam film tersebut, Benjamin Button yang diperankan Brad Pitt terlahir dengan tampilan fisik seorang laki-laki berusia 70 tahun.

Fase kehidupan yang dijalaninya justru terbalik. Hal ini dikarenakan ketika Benjamin Button semakin besar justru sosoknya semakin terlihat muda.

Film itulah salah satu inspirasi Amran, dimana semakin bertambah usia justru tidak mengendurkan spiritnya untuk tetap produktif.

“Orang-orang mungkin mengira saya sudah habis, tua dan lelah, tetapi justru saya baru saja memulai menjadi muda,” ujarnya tersenyum.

Apa resep makin “bersantan”?

“Tak ada, banyak bersyukur saja,” jawabnya ringan.

Pun bila waktunya nanti tiba, Amran berharap “Mate Nisantangi” atau “Mati Disantani”.

Frasa dalam bahasa Bugis-Makassar sebagai simbol nilai seseorang yang memiliki keharuman nama karena meninggalkan kebajikan yang diperbuatnya untuk maslahat.

Rusman Madjulekka