Kita berdiri di persimpangan sejarah, sebuah bangsa yang secara kodrati adalah bangsa bahari. Fondasi historis kita kuat; kita mengingat Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 sebagai tonggak hukum laut, yang dengan tegas menyatakan bahwa laut di sekitar, di antara, dan di dalam kepulauan adalah kedaulatan kita. Momen ini, yang kini kita kenal sebagai Hari Nusantara, adalah pengingat abadi akan potensi luar biasa yang kita miliki.
Riza Damanik, Ketua Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia
PELAKITA.ID – Kegiatan “Blue Future Forum” sukses digelar pada Senin 15 Desember 2025 di Grand Mercure Kemayoran Jakarta. Forum ini terselenggara atas kerjasama Kemen UMKM, KKP, DPP ISKINDO, BKTK PII, dan HIMITEKINDO.

Ketua Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia, Dr Riza Damanik menjadi pembicara. Dia memulai paparan dengan menunjukkan adanya paradoks serius.
Di satu sisi, ada indikasi bahwa Tren Kesehatan Laut Menurun. Ocean Health Index (2023) menunjukkan bahwa skor kesehatan laut Indonesia dan global sedang mengalami tekanan, sebuah alarm bagi kita semua untuk segera bertindak.
Di sisi lain, lanjut Riza, sektor ini menjadi semakin vital bagi ketahanan pangan dan ekonomi nasional. Tren Konsumsi dan Perdagangan Ikan Terus Meningkat.
“Konsumsi ikan per kapita di Indonesia diproyeksikan mencapai 58.91 kg/kapita pada tahun 2024, mendekati target ideal 60 kg/kapita/tahun pada 2025. Kenaikan permintaan ini didukung oleh pertumbuhan nilai ekspor perikanan yang diperkirakan menyentuh US$ 1,5 miliar pada tahun 2024,” kata dia.
Inilah urgensinya: Bagaimana kita meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan gizi tanpa mengorbankan kesehatan laut?
“Jawabannya terletak pada Transformasi Blue Economy,” tegas Riza.

Mencontoh Inovasi Global
Transformasi ini menuntut kita untuk mengadopsi teknologi dan inovasi secara radikal. Kita dapat mengambil pelajaran berharga dari negara-negara yang sudah memimpin di sektor ini:
Norwegia telah menyaksikan kontribusi sektor perikanan dan akuakultur mereka meningkat rata-rata 19 persen per tahun sejak tahun 1970. Mereka menerapkan inovasi seperti Sustainable Ocean Farm dan menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengoptimalkan pemberian pakan, memantau kesehatan ikan, dan mengurangi jejak ekologis.
Jepang juga menunjukkan hasil nyata. Dengan teknologi seperti Umitron Cell, penggunaan AI untuk memantau perilaku ikan dan menentukan waktu pemberian makan yang optimal, telah berhasil mengurangi limbah dan, yang paling penting, menurunkan biaya pakan hingga 20 persen.
Penerapan Smart Fisheries and Aquaculture dan Marine Biotechnology adalah kunci untuk memastikan produksi pangan dari laut menjadi efisien dan berkelanjutan,
Peran Kunci Generasi Muda dan UMKM
Transformasi Blue Economy hanya dapat dicapai melalui upaya yang inklusif.
Pertama, kita harus memberdayakan Generasi Muda. Saat ini, proporsi pemuda di sektor pertanian dan perikanan masih rendah, yaitu 19,20 persen pada tahun 2023, jauh tertinggal dari sektor jasa dan perdagangan.
Padahal, ujar Riza, Blue Economy menawarkan masa depan yang cerah, dengan potensi menciptakan 45 juta lapangan pekerjaan baru secara global di bidang-bidang seperti Blue Food Processing, Sustainable Marine Tourism, dan Blue Carbon Jobs.
Kedua, kita harus menguatkan UMKM Sektor Perikanan—nelayan kecil, pembudidaya, dan pengolah hasil laut.
Sayangnya, inklusi finansial bagi mereka masih sangat minim. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk sektor perikanan masih rendah, hanya 1,5% dari total penyaluran, senilai Rp3,9 Triliun kepada 76 ribu debitur.
“Ini harus ditingkatkan melalui pelatihan, pendampingan, dan perluasan keterlibatan mereka dalam program strategis,” kata Riza.
Menyongsong Indonesia Emas 2045
Transformasi Blue Economy bukan sekadar kebijakan, melainkan peta jalan menuju Indonesia Emas 2045.
“Dengan fokus pada inovasi teknologi dan kemitraan rantai pasok, kita memproyeksikan kontribusi ekonomi maritim terhadap PDB akan meningkat hingga 15 persen. Lebih jauh lagi, kita akan keluar dari Middle Income Trap. PDB Per Kapita Indonesia diproyeksikan meningkat signifikan sebesar 533,4 persen pada tahun 2045, mencapai US$ 30.300,” ungkap Riza.
“Blue Economy adalah cara kita mengintegrasikan ekologi dan ekonomi. Ini adalah cara kita menjamin lautan yang sehat, ekonomi pesisir yang kuat, dan masa depan Indonesia yang makmur,” pungkas Ketua ISKINDO itu.
Redaksi









