Dampak Bencana Hujan Deras dan Longsor Sumatera, 174 Meninggal

  • Whatsapp
Rescuers carry a body bag of a victim recovered from an area hit by deadly flash floods following heavy rains in Malalak, Agam regency, West Sumatra province, Indonesia, November 28, 2025. REUTERS/Stringer

PELAKITA.ID – Jumlah korban meninggal akibat hujan deras yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat selama beberapa hari terakhir telah mencapai setidaknya 174 orang, sementara puluhan lainnya masih dinyatakan hilang hingga Jumat (28/11).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto dikutip dari BBC News Indonesia, menyampaikan bahwa 79 orang masih hilang dan 12 orang mengalami luka-luka akibat rangkaian bencana tersebut.

Upaya evakuasi dan distribusi bantuan di berbagai lokasi terhambat oleh kerusakan parah pada infrastruktur, mulai dari jalan nasional hingga jembatan penghubung antarkabupaten.

Di Sumatra Utara, jalur nasional Sidempuan–Sibolga terputus di satu titik, sementara jalur Sipirok–Medan terputus di dua titik. Di Kabupaten Mandailing Natal, beberapa ruas jalan seperti Singkuang–Tabuyung dan Bulu Soma–Sopotinjak ikut terputus akibat banjir dan longsor, sehingga pembukaan akses hanya dapat dilakukan dengan pengerahan alat berat.

Di Sumatra Barat, lima jembatan di Padang Pariaman mengalami kerusakan, dan sejumlah longsoran menutup jalur nasional Bukittinggi–Padang di wilayah Padang Panjang serta jalur provinsi di Kabupaten Agam. Sekitar 200 kendaraan sempat terjebak akibat terputusnya jalan di Kecamatan Ampek Koto.

Kerusakan signifikan juga terjadi pada akses transportasi di berbagai wilayah Aceh. Jalur nasional perbatasan Sumut–Aceh terputus karena longsor, sementara kerusakan jembatan di Meureudu menyebabkan terganggunya konektivitas jalur Banda Aceh–Lhokseumawe–Aceh Timur–Langsa–Aceh Tamiang.

Beberapa kabupaten, seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah, kini tidak dapat diakses melalui jalur darat akibat rusaknya jalan nasional dan jembatan. Untuk sementara, jalur udara menjadi satu-satunya alternatif, memanfaatkan Bandara Perintis Gayo Lues dan Bandara Rembele di Bener Meriah.

Sumber: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cg5m2p71gpjo