PELAKITA.ID – Prof. Dr. Najamuddin, S.T., M.Si. adalah Guru Besar Ilmu Kelautan pertama di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Khairun (Unkhair) Ternate.
Selama lebih dari dua dekade, ia mengabdikan diri sebagai dosen dan peneliti yang fokus pada isu pencemaran laut—mulai dari logam berat, dampak industri ekstraktif, hingga degradasi ekosistem pesisir dan laut.
Keahlian inilah yang menjadikannya salah satu rujukan utama di Maluku Utara dalam kajian lingkungan pesisir dan dampak pertambangan.
Spesialisasi dan Fokus Keilmuan
Kepakaran Prof. Najamuddin terutama bertumpu pada kajian pencemaran laut, khususnya yang berkaitan dengan kandungan logam berat seperti nikel, kromium, kadmium, dan merkuri.
Ia juga meneliti daya dukung dan kualitas perairan sebagai habitat biota laut, serta bagaimana sedimentasi dari aktivitas penambangan terbuka memengaruhi kekeruhan air, ekosistem terumbu karang, dan proses fotosintesis alga maupun lamun.
Kajian lain yang kerap ia tekuni adalah dampak ekologis dari tambang nikel terhadap organisme laut—mulai dari gangguan reproduksi, mutasi genetik, hingga rusaknya habitat alami.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia juga mendorong pendekatan yang lebih sosial-ekologis, menelaah bagaimana kerusakan lingkungan berimbas pada menurunnya ekonomi nelayan serta ketahanan masyarakat pesisir.
Tidak berhenti pada analisis, Prof. Najamuddin juga mengembangkan riset pemetaan kawasan rawan dan strategi mitigasi pencemaran, menjadikannya figur penting dalam upaya menjaga keberlanjutan laut di Maluku Utara.
Kontribusi bagi Universitas Khairun
1. Peletak Fondasi Ilmu Kelautan di FPIK
Sebagai guru besar pertama di bidang Ilmu Kelautan, Prof. Najamuddin berperan besar dalam memperkuat fondasi akademik FPIK. Kepakarannya menjadi pijakan penting dalam penyusunan kurikulum, arah riset, hingga proses pembimbingan akademik mahasiswa.
2. Penggerak Riset tentang Pencemaran Laut
Ia memimpin banyak riset strategis terkait pencemaran logam berat, kualitas perairan, dan daya dukung ekosistem laut di Maluku Utara. Hasil penelitiannya kerap menjadi rujukan pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan lingkungan dan rekomendasi teknis pengelolaan wilayah pesisir.
3. Suara Akademik bagi Perlindungan Lingkungan
Prof. Najamuddin dikenal sebagai akademisi yang kritis dan konsisten menyuarakan dampak ekologis pertambangan nikel di Maluku Utara. Sikap ilmiah ini memperkuat posisi Unkhair sebagai kampus yang aktif dalam isu keberlanjutan dan perlindungan ekosistem pesisir.
4. Pendorong Advokasi Ilmiah dan Pemberdayaan
Melalui edukasi masyarakat pesisir, masukan bagi pemerintah, dan kolaborasi riset lintas lembaga, ia membantu memperluas kontribusi Unkhair di tingkat regional. Kampus tidak hanya hadir sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai aktor penting dalam tata kelola lingkungan di Maluku Utara.
5. Pengarah Riset Sosial-Ekologis Tambang
Arah penelitian yang ia dorong—mulai dari pemetaan kawasan rawan hingga strategi mitigasi—menjembatani ilmu kelautan dengan pendekatan sosial-ekologi. Ini membuka perspektif baru bagi Unkhair dalam memahami kompleksitas dampak pertambangan terhadap lingkungan dan masyarakat.
Prof. Najamuddin adalah akademisi yang mendalami pencemaran laut dan ekologi pesisir, memiliki rekam penelitian yang kuat tentang dampak tambang nikel, serta menjadi salah satu pilar penting dalam pengembangan Ilmu Kelautan di Universitas Khairun.
Lebih dari itu, ia tampil sebagai suara moral bagi perlindungan ekosistem laut dan kehidupan masyarakat pesisir di Maluku Utara.
Redaksi Pelakita
