PT Vale Indonesia membantu dalam penguatan manajemen usaha, branding, dan pelatihan kewirausahaan sementara Bank Sulselbar menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk pengembangan kapasitas produksi. Kami juga bermitra dengan jaringan Toko Lokal dan Marketplace Digital,” terangnya di depan tim PHKEN ESDM yang terdiri dari Prof Didik J. Rachbini, Eka Sastra hingga Doni Setiawan.
PELAKITA.ID – MAKASSAR, 7 November 2025 — Di tengah dinamika industri hilirisasi dan transformasi energi nasional, semangat wirausaha lokal menjadi penopang penting bagi kemandirian ekonomi desa.
Hal itu tampak dalam kisah inspiratif yang dibagikan oleh Nasruddin Nakir, pendiri Lahadeng Corner, dalam Seminar Hilirisasi Energi yang digelar oleh Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional (Satgas HKEPN) bekerja sama dengan Unhas TV di Universitas Hasanuddin, Makassar.
Berawal dari dapur rumah di sebuah desa di Luwu Timur, Nasruddin—yang akrab disapa Nas Nakir—membangun Lahadeng Corner bersama sang istri dengan satu tekad: meningkatkan ekonomi keluarga melalui produk camilan lokal.
“Awalnya kami hanya ingin membantu ekonomi rumah tangga, tapi semangat untuk terus berkembang membuat kami melangkah lebih jauh. Nama ‘Lahadeng’ sendiri berasal dari bahasa lokal yang berarti semangat atau pantang menyerah,” ujarnya.
Dalam paparannya, Nas Nakir menyoroti tiga tantangan utama yang dihadapi pelaku UMKM, yakni dead capital, gap of skill, dan akses ke pasar yang sesuai (fit market).
Menurutnya, banyak potensi usaha di desa yang belum optimal karena keterbatasan kemampuan manajerial, peralatan produksi, serta jejaring pasar.
“Masalah utama UMKM bukan hanya modal, tapi bagaimana mengubah aset diam menjadi produktif, meningkatkan keterampilan, dan menjangkau pasar yang tepat,” jelasnya.
Untuk menjawab tantangan itu, Lahadeng Corner menerapkan sejumlah strategi yang efektif.
Di antaranya, ekspansi pasar ke kota-kota besar di Sulawesi dan Indonesia Timur, peningkatan kapasitas produksi dengan peralatan modern, serta penguatan pemasaran digital melalui media sosial dan platform e-commerce.
Selain itu, Nas Nakir juga menekankan pentingnya prinsip “Bermitra, Berjejaring, Berkembang” dalam membangun ekosistem UMKM yang tangguh.
“UMKM tidak bisa tumbuh sendiri. Kami membangun jejaring dengan pelaku usaha lain, pemerintah daerah, pihak swasta, dan perbankan untuk memperkuat rantai nilai produksi dan distribusi. Kolaborasi ini juga selaras dengan semangat hilirisasi nasional,” tambahnya.
“PT Vale Indonesia membantu dalam penguatan manajemen usaha, branding, dan pelatihan kewirausahaan sementara Bank Sulselbar menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk pengembangan kapasitas produksi. Kami juga bermitra dengan jaringan Toko Lokal dan Marketplace Digital,” terangnya di depan tim HKEPN ESDM yang terdiri dari Prof Didik J. Rachbini, Eka Sastra hingga Doni Setiawan.
Dampak positif dari usaha tersebut mulai terasa di komunitasnya. Lahadeng Corner telah membuka lapangan kerja bagi ibu-ibu rumah tangga, meningkatkan pendapatan keluarga, dan menumbuhkan semangat kolaborasi antar-pelaku usaha lokal.
Model usaha ini juga mendukung tumbuhnya ekonomi berbasis sumber daya desa di kawasan Lingkar Tambang Luwu Timur, wilayah yang kini menjadi perhatian dalam kebijakan hilirisasi industri dan energi bersih.
“Bagi kami, keripik Lahadeng bukan sekadar camilan,” tutur Nas Nakir menutup sesi presentasinya.
“Ia adalah simbol semangat wirausaha desa yang tumbuh dari kemitraan dan jejaring—sebuah langkah kecil menuju kemandirian ekonomi lokal yang berkelanjutan.”
Melalui kisah Lahadeng Corner, seminar yang diinisiasi Satgas HKEPN dan Unhas TV ini menegaskan kembali bahwa hilirisasi energi dan industri bukan hanya soal teknologi dan investasi besar, tetapi juga tentang pemberdayaan masyarakat—tentang energi sosial yang menggerakkan perubahan dari desa menuju masa depan Indonesia yang mandiri dan berdaya.
Redaksi
