In Memorium Sahabat Kami, Mas Dedi Prasetyo

  • Whatsapp
Dedi Prasetyo

PELAKITA.ID – Saya mengenal Dedi sejak kami duduk di kelas I Netral 11 SMA Negeri 1 Makassar, tahun 1986. Saat itu, dunia kami berwarna sama, sepatu putih, seragam abu-abu, dan tawa yang lepas di sela-sela pelajaran. Naik kelas II, saya ke Bio, dia ke Fis.

Dari sanalah awal persahabatan kami bertumbuh. Dedi sering mengajak ke rumah dinas ayahnya di Jalan Ratulangi nomor 75—sebuah rumah yang kini terasa begitu dekat di ingatan, bahkan letaknya pun tak jauh dari rumah yang kelak menjadi tempat calon mertua saya di Jalan Kakatua II.

Dedi punya cara tersendiri memanggil saya. “Lidah orang Jawa terbiasa panggil Komar, Mar,” katanya sambil tersenyum. Begitulah, nama “Komar” melekat darinya, sementara sebagian teman lain memanggil saya “Kama.” Tapi panggilan dari Dedi terasa lebih akrab, lebih berkarakter, seperti ada jejak persahabatan di setiap suku katanya. Nama Komar itu kini jadi warisan dari dia.

Ia bertubuh tinggi besar, kulitnya bersih, dan di mata para gadis Smansa kala itu, Dedi bisa dibilang wajah idaman gegadis. Tapi yang membuatnya menonjol bukan rupa, melainkan sikapnya yang tenang dan santun.

Ia jarang berbicara, tapi ketika berbicara, tutur katanya berwibawa. Dalam hati saya dulu, saya sempat menduga ia keturunan ningrat dari Yogyakarta—terlalu berwibawa, terlalu lembut untuk tidak berasal dari darah biru. Di bio FB-nya dia sebut berasal dari Malang, Jawa Timur.

Dugaan itu tidak pernah saya konfirmasi, tapi saya tetap percaya ia memang dari kalangan ningrat—ningrat yang rendah hati.

Tahun 1989, selepas SMA, Dedi melanjutkan kuliah di Politeknik Unhas, sementara saya diterima di Fakultas Ilmu Kelautan Unhas. Kampus kami bertetangga, hanya dipisahkan beberapa gedung dan jalan kecil. Sesekali kami berpapasan, bertukar senyum, kadang saling melambaikan tangan di sela hiruk pikuk mahasiswa yang menyesaki PKM Unhas.

Seingat saya, Dedi sempat bergabung dengan Menwa—barangkali karena jiwa kedisiplinan yang diwarisinya dari ayahnya, seorang perwira Angkatan Laut.

Tahun-tahun berlalu, dan kami menempuh jalan masing-masing. Tapi sosok Dedi Prasetyo tak pernah benar-benar hilang dari radar kehidupan.

Di jejaring alumni Smansa 89, terutama di chapter Jakarta, Dedi kadang muncul dalam foto-foto gathering—senyumnya tetap sama, teduh dan bersahabat. Kami memang jarang bertemu langsung setelah lulus kuliah, tetapi komunikasi kecil tetap terjaga.

Lewat WhatsApp, kadang dia mengirim pesan ringan, “Apa kabar, Mar?” atau “Eh, gue ada LSM juga lho,” atau “Gue sama keluarga lagi urus kelompok pemuda buat sepak bola.” Sejak tahun 2012 dia adalah pimpinan LSM bernama Panca Dharma Satriya (PADMA).

Pesan-pesan seperti itu sederhana, tapi terasa hangat. Saya tak selalu sempat membalas panjang, tapi saya tahu ia membaca postingan saya, menandainya dengan like atau love.

Seingat saya, pesan terakhir darinya datang menjelang akhir tahun lalu. Setelah itu, hening. Tak ada lagi sapaan “Mar” yang khas itu.

Kadang saya iseng mengunjungi laman Facebook-nya. Dari sana saya melihat potongan kehidupan keluarga besarnya: ayahnya yang disegani sebagai perwira Angkatan Laut, saudara-saudaranya yang aktif di yayasan dan paguyuban, serta semangat kebersamaan yang kental. Mereka keluarga yang rukun, berjiwa sosial, dan penuh kreativitas—seperti Dedi sendiri.

Kemarin, selepas salat Jumat di kampus Politeknik—kampusnya dulu—saya mendapat kabar itu. Dedi telah berpulang. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kami kehilangan kawan baik.

Dedi bukan sekadar teman sekolah. Ia adalah potongan masa yang menyimpan tawa, kesahajaan, dan ketulusan. Ia mengajarkan arti persahabatan tanpa pamrih—tak perlu sering bertemu untuk tetap dekat, tak perlu banyak kata untuk tetap saling mengingat.

Selamat jalan, Mas Dedi Prasetyo.

Tamarunang, 8 November 2025,