Tema tahun ini, “Warna-warni Budaya,” mencerminkan visi tersebut: menampilkan keragaman tradisi, kekayaan kuliner, serta kreativitas warganya.
PELAKITA.ID – Festival Danau Tempe (FDT) kembali menjadi sorotan pada 22 Oktober 2025, ketika Kabupaten Wajo menyajikan rangkaian kegiatan budaya, seni, dan keagamaan yang memadukan nilai tradisi dan semangat kebersamaan masyarakat.
Salah satu agenda utamanya, “Wajo Bersalawat” yang digelar di Lapangan Merdeka Sengkang, dihadiri langsung oleh Bupati Wajo, H. Andi Rosman.
Kehadiran ini bukan sekadar simbolis, tetapi menunjukkan bagaimana FDT ditempatkan sebagai bagian integral dari strategi pembangunan daerah yang berpihak pada pelestarian budaya sekaligus penguatan ekonomi masyarakat.
Dalam sambutannya, Bupati Andi Rosman menegaskan bahwa FDT bukan hanya momentum religius atau acara hiburan semata, melainkan ruang ekspresi budaya yang dirancang untuk menghadirkan manfaat luas bagi masyarakat.
Ia menyebut festival ini sebagai ajang promosi pariwisata sekaligus panggung bagi produk-produk unggulan UMKM Wajo. Narasi ini bukan retorika; FDT telah berkembang menjadi platform strategis yang menghubungkan potensi lokal dengan peluang ekonomi yang lebih luas.
Festival Sebagai Wahana Kolaborasi Daerah
Menurut Andi Rosman, FDT adalah wadah kolaborasi empat kekuatan pembangunan daerah: pemerintah, masyarakat, pelaku usaha kreatif, dan kalangan akademisi. Kolaborasi ini mencerminkan paradigma baru pembangunan yang menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pergerakan ekonomi.
Melalui festival, tradisi dan identitas lokal tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dikemas ulang secara kreatif untuk menarik minat wisatawan dan investor.
Keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha kreatif sangat terlihat melalui pameran UMKM, pentas seni, hingga penampilan komunitas budaya dari berbagai kecamatan.
Para akademisi turut memberikan kontribusi melalui riset, kurasi kegiatan, serta pendampingan agar setiap rangkaian acara memiliki dampak sosial dan ekonomi yang terukur. Dengan pendekatan kolaboratif ini, FDT berfungsi sebagai laboratorium sosial yang menyatukan berbagai elemen untuk memikirkan ulang cara memajukan Wajo melalui kekuatan budaya.
Memperkuat Identitas Melalui Ritual Bersama
Acara “Wajo Bersalawat” menjadi pembuka yang menyentuh sisi spiritual masyarakat Wajo. Dengan melibatkan ribuan warga, agenda ini menjadi ruang perenungan kolektif sekaligus penguatan identitas religius masyarakat.
Andi Rosman menekankan bahwa kegiatan ini adalah pengingat akan hubungan masyarakat dengan Sang Pencipta dan nilai moral yang menjadi dasar kehidupan sosial.
Di saat yang sama, kegiatan religius semacam ini memberi warna tersendiri bagi sektor pariwisata—sebuah bentuk religious tourism yang dapat berkembang lebih jauh jika dikelola dengan baik.
Momentum religius dan budaya dalam FDT menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya menyasar aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga pembentukan karakter dan kohesi sosial.
Di tengah tuntutan modernisasi dan arus globalisasi, ruang seperti FDT menjadi penting untuk merawat akar budaya yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Wajo.
Dampak Ekonomi: UMKM Sebagai Pilar Gerak Festival
FDT secara strategis mengintegrasikan promosi UMKM ke dalam seluruh rangkaian acara. Dari kerajinan tangan, makanan tradisional, hingga produk turunan pertanian dan perikanan, pelaku UMKM mendapatkan ruang promosi langsung kepada ribuan pengunjung.
Menurut Andi Rosman, keberadaan UMKM dalam festival bukan pelengkap, tetapi elemen kunci karena sektor inilah yang menopang ekonomi masyarakat sehari-hari.
Setiap aktivitas festival dirancang untuk mendorong transaksi, memperluas jejaring bisnis, dan membuka peluang kolaborasi antarpelaku usaha. Festival menjadi “etalase besar” yang mempertemukan kreativitas warga dengan permintaan pasar, baik dari lokal maupun wisatawan. Dalam konteks pembangunan ekonomi daerah, pendekatan ini membantu menggerakkan sirkulasi ekonomi rakyat secara lebih cepat, inklusif, dan merata.
Potensi Pariwisata dan Penguatan Branding Daerah
Danau Tempe telah lama dikenal sebagai salah satu ikon budaya dan alam Sulawesi Selatan. Melalui FDT, Andi Rosman berupaya memperkuat branding Wajo sebagai destinasi berbasis budaya dan ekowisata.
Tema tahun ini, “Warna-warni Budaya,” mencerminkan visi tersebut: menampilkan keragaman tradisi, kekayaan kuliner, serta kreativitas warganya.
Festival ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, memperpanjang lama tinggal (length of stay), dan meningkatkan belanja wisata.
Penguatan pariwisata budaya seperti ini memiliki multiplier effect yang besar—dari meningkatnya perputaran ekonomi di sektor akomodasi, transportasi, kuliner, hingga jasa kreatif lokal. Melalui strategi ini, Wajo tidak hanya memposisikan diri sebagai daerah agraris, tetapi juga sebagai pusat aktivitas budaya yang hidup dan dinamis.
Kepemimpinan yang Menggerakkan Energi Sosial
Peran Bupati Andi Rosman menjadi kunci dalam mengarahkan FDT sebagai agenda strategis daerah. Kepemimpinannya menekankan pentingnya kolaborasi, pemberdayaan kreatif, dan integrasi budaya dalam pembangunan. Dengan menghubungkan budaya dan ekonomi, ia menunjukkan bahwa festival bukan sekadar acara tahunan, tetapi instrumen pembangunan yang berkelanjutan.
Andi Rosman berulang kali menyampaikan bahwa pemerintah tidak dapat berjalan sendiri.
Energi masyarakat, kreativitas generasi muda, dan partisipasi komunitas budaya merupakan aset utama yang harus dirangkul. Melalui FDT, kepemimpinannya berusaha menciptakan ruang partisipasi luas, memupuk rasa bangga, dan memperkuat solidaritas sosial masyarakat Wajo.
Penutup: Festival sebagai Pilar Masa Depan Wajo
Festival Danau Tempe bukan sekadar hiburan, tetapi pilar penting pembangunan Wajo. Ia mengintegrasikan budaya, ekonomi, spiritualitas, dan kreativitas masyarakat dalam satu ruang kolaboratif yang memperkuat identitas daerah.
Melalui kepemimpinan Bupati Andi Rosman, FDT diarahkan menjadi agenda strategis yang terus memperluas manfaat, membuka peluang ekonomi, dan menghubungkan Wajo dengan dunia luar tanpa kehilangan jati dirinya.
Sumber: Pemkab Wajo/Infokom
