Kampus dan pesantren harus bertransformasi jadi kebun ide. Proyek-proyek pertanian harus berakar pada inovasi, riset pasar, dan keberlanjutan lingkungan.
PELAKITA.ID – Saat ini dunia makin terhubung oleh sinyal, gawai, dan algoritma. Sawah dan aktivitas pertanian seakan tertinggal dan terjebak dalam lukisan masa lalu.
Di sekolah, mungkin ia mulai jarang dikisahkan. Di rumah, mungkin hanya tampak dalam berita banjir atau harga gabah. Sementara itu, Gen Z—generasi yang tumbuh dengan TikTok, AI, dan influencer pertanian—dituding tak mengenal lumpur, tak cinta cangkul, dan tak ingin menanam.
Tapi benarkah demikian?
Barangkali kita terlalu cepat menghakimi mereka, tanpa memahami bahasa baru yang mereka pakai untuk mencintai tanah.
Mereka Tak Menolak Pertanian, Mereka Menolak Cara Lama
Generasi Z bukan pembenci pertanian, mereka hanya menolak model yang usang. Sawah bagi mereka bukan sekadar tempat menanam padi, tapi bisa jadi studio konten, ladang bisnis berkelanjutan, atau ruang eksperimen ide-ide segar.
Mereka bertanya:
“Kenapa bertani harus susah dan miskin?”
“Kenapa tak bisa pakai sensor, drone, dan aplikasi pasar digital?”
“Kenapa tak bisa bertani sambil live di Instagram, berbagi cerita dan cuan?”
Inilah zaman ketika cangkul bisa bersanding dengan kamera, dan pupuk bisa dipadu dengan platform digital. Petani baru bukan yang meninggalkan warisan leluhur, tapi yang menanam kembali dengan semangat zaman.
Melahirkan Ekosistem yang Memikat Gen Z
Agar generasi ini betah di ladang, sawah harus direka ulang. Bukan hanya secara fisik, tapi juga secara naratif dan teknologi. Inilah unsur ekosistem pertanian masa kini:
Teknologi dan digitalisasi: Dari pengolahan tanah hingga pemasaran hasil panen, semua harus bisa diakses dari gawai. Drone penyiram, sensor kelembapan, dan aplikasi pencatat pertumbuhan tanaman adalah “alat tulis” petani masa depan.
Edukasi dan inkubasi: Kampus dan pesantren harus bertransformasi jadi kebun ide. Proyek-proyek pertanian harus berakar pada inovasi, riset pasar, dan keberlanjutan lingkungan.
Branding dan gaya hidup: Gen Z cinta identitas dan ekspresi. Pertanian harus ditawarkan sebagai pilihan gaya hidup keren dan heroik—menjadi penyelamat bumi dan penjaga perut bangsa.
Akses ke modal dan pasar: Mereka butuh mitra. Pemerintah, swasta, dan koperasi modern perlu hadir sebagai jembatan, bukan beban. Model bisnis harus transparan, adil, dan memberi ruang kreativitas.
Pemerintah saat ini bukan hanya menyerukan dan memanggil anak muda ke sawah. Ia juga hadir sebagai penyedia lahan, modal, teknologi, dan jaminan masa depan. Beberapa kebijakan strategis yang mungkin mendesak dan disempurnakan:
1. Revolusi kurikulum pertanian di SMK dan kampus pertanian: Fokus pada agritech, marketing digital, dan kewirausahaan.
2. Infrastruktur digital desa: Tanpa internet yang cepat, jangan harap Gen Z betah tinggal di ladang.
3. Dana inkubasi dan insentif fiskal: Subsidi pertanian mesti diarahkan ke regenerasi petani muda berbasis inovasi, bukan hanya input pupuk.
4. Kampanye pertanian modern di media sosial: Gunakan influencer, konten viral, dan storytelling untuk menyalakan kembali daya tarik bertani.
5. Reforma agraria dan kepastian hak atas tanah bagi petani muda: Tanpa tanah, pertanian hanya tinggal slogan.
Menuju Pertanian yang Keren dan Bermakna
Di ladang masa depan, tak ada lagi anak muda yang malu menjadi petani. Justru mereka bangga—karena bertani adalah bentuk cinta tertinggi kepada bumi, bangsa, dan Tuhan.
Kita membayangkan seorang pemuda membuat konten harian dari kebun stroberinya di ketinggian Toraja. Ia bercerita tentang pH tanah, cuaca, dan hasil jualan lewat aplikasi. Ribuan followers memberi komentar. Ratusan membeli. Dan yang paling penting: ia menanam dengan cinta, bukan paksaan.
Itulah pertanian generasi Z.
Mereka memang ke sawah.
Tapi sambil live streaming.
Dan mereka tetap menanam.
Karena cuannya jelas.
Dan maknanya dalam.
Penulis: Muliadi Saleh, Pengurus Asosiasi Agribisnis Indonesia Sulsel.
