PELAKITA.ID – Persahabatan yang langgeng bisa lahir dari pekerjaan, kampung halaman, atau perjalanan hidup, tetapi ada pula yang tumbuh karena pernah berbagi ruang sekolah. SOSBOFI adalah salah satunya, keluarga besar alumni SMA Negeri 1 Makassar angkatan 1989 yang terus merawat hubungan melampaui batas ruang dan waktu.
Nama SOSBOFI merujuk pada Sosial, Biologi dan Fisika, rumpun kelas yang menjadi bagian pengalaman mereka ketika masih mengenakan seragam putih abu-abu.
Waktu bergerak jauh sejak 1989, membawa para alumni memasuki profesi, keluarga, kota, pekerjaan dan kehidupan yang berbeda-beda, tetapi tidak menghapus kebutuhan untuk bertemu.
Mereka kini menjadi profesional, akademisi, birokrat, pengusaha, aparat, pekerja swasta, aktivis sosial, orang tua, bahkan kakek dan nenek dalam keluarga masing-masing.
Yang berubah adalah usia, pekerjaan dan tempat tinggal, sementara yang bertahan adalah ingatan mengenai sekolah, persahabatan, humor, pengalaman, dan kebiasaan lama. Karena itu, SOSBOFI tidak hidup karena satu kantor atau sekretariat, melainkan karena orang-orangnya terus menciptakan ruang untuk berjumpa dan berbagi.
Ruang tersebut dapat berupa meja makan, pantai, lapangan olahraga, jalan raya, masjid, tempat wisata, rumah sahabat, bahkan percakapan digital. Pada ruang-ruang itulah waktu bekerja secara menarik, memisahkan manusia berdasarkan usia dan profesi sekaligus mempertemukan mereka melalui pengalaman yang pernah dibagi.

Dari Sekolah ke Kehidupan
1989 menjadi titik awal perjalanan, ketika para siswa Smansa mengenal kelas, guru, teman, lapangan, kantin, ujian, kegiatan sekolah, dan persahabatan. Bertahun-tahun kemudian, berbagai pengalaman sederhana tersebut berubah menjadi memori yang justru memiliki nilai semakin kuat ketika usia terus bertambah.
Reuni karena itu bukan sekadar pertemuan kembali, melainkan kesempatan mengunjungi masa lalu melalui wajah-wajah yang pernah menjadi bagian penting perjalanan hidup.
Pelakita.ID mencatat berbagai perjumpaan alumni Smansa 89 dalam ruang berbeda, termasuk silaturahmi awal 2022 di Sentra Kuliner Jamarang, Galesong Utara, Takalar. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana informal, tetapi melahirkan gagasan mengenai solidaritas, kegiatan sosial, olahraga, rekreasi, keluarga, serta keberlanjutan fasilitas yang telah dibangun bersama.
Dari sini terlihat bahwa SOSBOFI menemukan agenda bukan semata melalui rapat formal, melainkan melalui percakapan, pertemuan, kebutuhan bersama, dan keinginan mempertahankan persaudaraan.

Ruang yang Berpindah
Salah satu karakter SOSBOFI adalah ruang kegiatannya selalu berpindah mengikuti kebutuhan, kesenangan, pekerjaan, domisili, serta gagasan para anggotanya.
Pantai Biru Tanjung Bayang pernah menjadi ruang berkumpul, mempertemukan alumni dalam suasana santai, menikmati makanan, berbincang, berenang, dan menjaga hubungan persahabatan.
Pelakita.ID merekam kegiatan tersebut sebagai salah satu bentuk gathering komunitas, ketika pantai menjadi ruang sosial yang mempertemukan berbagai latar kehidupan alumni. Samalona menjadi ruang lain, tempat alumni menikmati laut, makanan, percakapan, rekreasi, dan kebersamaan yang jauh dari suasana pekerjaan maupun struktur organisasi.
Galesong, Parepare, Pinrang, Malino, Pangkep, Maros, Bantimurung dan sejumlah tempat lainnya kemudian menjadi bagian dari peta perjalanan sosial SOSBOFI. Di tempat-tempat tersebut berlangsung beragam aktivitas, mulai dari gowes, berenang, futsal, bulutangkis, camping, kuliner, hingga percakapan santai sambil menikmati kopi.
Ruang-ruang tersebut sesungguhnya bukan sekadar lokasi kegiatan, melainkan ruang sosial tempat identitas pekerjaan dan jabatan sementara melebur menjadi identitas bersama.
Dari Makassar ke Jakarta
Perjalanan waktu juga membawa alumni keluar dari Makassar, menyebarkan mereka ke berbagai kota, termasuk Jakarta dan kawasan Jabodetabek.
Jarak geografis ternyata tidak otomatis memutus hubungan, sebab jejaring pertemanan dapat menciptakan ruang baru untuk mempertahankan kebersamaan dan aktivitas bersama.
Pada awal 2022, alumni Smansa 89 di Jabodetabek membentuk komunitas sepeda goGOsS89 Chapter Jakarta, memperluas ekspresi persaudaraan melalui aktivitas olahraga. Gowes kemudian menjadi bahasa pergaulan baru, mempertemukan alumni, keluarga, teman, dan komunitas melalui perjalanan yang sehat sekaligus menyenangkan.
Makassar tetap menjadi rumah ingatan, Jakarta menjadi ruang perjumpaan baru, sementara sepeda menjadi salah satu sarana menghubungkan manusia yang terpisah jarak.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa identitas SOSBOFI tidak bergantung pada satu tempat, tetapi mampu mengikuti mobilitas kehidupan para anggotanya.
Ketika Persahabatan Membangun Masjid
Salah satu jejak paling nyata SOSBOFI adalah Masjid Ar Rasyid Smansa 89 di Kampung Cedde, Kelurahan Bakung, Biringkanaya, Makassar.
Masjid tersebut berdiri di atas lahan wakaf seluas 403 meter persegi, dengan gagasan pembangunan yang bermula dari reuni alumni di Bali.
Pelakita.ID mencatat penggalangan dana pembangunan mencapai lebih dari Rp791 juta, dengan kontribusi alumni dan masyarakat umum yang ikut mendukung pembangunan tersebut. Angka tersebut memang penting, tetapi transformasi dari sebuah reuni menjadi tindakan sosial jauh lebih menarik untuk membaca karakter komunitas ini.
Pertemuan yang semula berbasis kenangan berubah menjadi pembangunan fasilitas sosial yang kemudian digunakan bersama masyarakat sekitar.
Setelah pembangunan selesai, pengelolaan masjid melibatkan perwakilan alumni dan masyarakat Kampung Cedde, sehingga manfaatnya melampaui lingkaran internal SOSBOFI. Pada 2025, Pelakita.ID kembali mencatat kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Ar Rasyid yang melibatkan alumni dan masyarakat Kampung Cedde.
Masjid tersebut dengan demikian mengalami transformasi makna, dari gagasan alumni menjadi ruang ibadah, perjumpaan, kebersamaan, dan kehidupan sosial masyarakat setempat.

Dari Olahraga Menuju Solidaritas
Olahraga memiliki tempat khusus dalam perjalanan SOSBOFI karena kegiatan sederhana seperti gowes, futsal, bulutangkis dan renang mampu menjaga hubungan.
Aktivitas tersebut tidak selalu dirancang sebagai program sosial, tetapi menghasilkan perjumpaan yang memperkuat komunikasi, kesehatan, kebersamaan, dan solidaritas antarsesama alumni.
goGOsS89 menjadi contoh menarik bagaimana minat terhadap sepeda berkembang menjadi komunitas yang mempunyai agenda perjalanan, olahraga, rekreasi, dan kebersamaan keluarga. Pelakita.ID juga mencatat Bike Camp goGOsS89 di Ta’deang, Maros, yang memadukan silaturahmi, olahraga, promosi wisata dan kepedulian lingkungan.
Di sini olahraga berfungsi sebagai pintu masuk menuju interaksi sosial yang lebih luas, mempertemukan alumni dengan ruang alam, masyarakat, wisata, dan lingkungan.
Filantropi dan Pemberdayaan
SOSBOFI juga memiliki jejak kepedulian sosial melalui gagasan pemberdayaan, termasuk cerita mengenai Balla Ratea ri Pucak dan pengembangan peternakan kambing Ettawa.
Pelakita.ID mencatat gagasan tersebut menghubungkan pengelolaan peternakan dengan kepedulian kepada anak yatim melalui mekanisme yang dirancang agar manfaatnya dapat terus berputar. Donatur menyediakan dana, pengelola menjalankan usaha, sementara hasilnya diarahkan kepada penerima manfaat, pengelola, dan keberlanjutan kegiatan produktif.
Model tersebut memperlihatkan gagasan bahwa solidaritas sosial tidak selalu harus berhenti pada pemberian konsumtif, tetapi dapat diarahkan menuju kegiatan ekonomi produktif.
Di sinilah filantropi bertemu pemberdayaan, membuka kemungkinan agar kepedulian sosial memiliki manfaat berulang dan membangun kapasitas penerima manfaat.
Kegiatan SOSBOFI juga bersentuhan dengan lingkungan melalui aktivitas luar ruang, wisata, perjalanan, olahraga, dan kegiatan komunitas yang berlangsung di alam. Ta’deang, Maros, misalnya, menjadi ruang yang mempertemukan aktivitas bersepeda, camping, silaturahmi, promosi destinasi, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Kegiatan seperti ini memperlihatkan bahwa lingkungan tidak selalu dibicarakan melalui forum formal, tetapi dapat menjadi bagian dari pengalaman langsung komunitas.
Pantai, pegunungan, desa dan kawasan wisata kemudian berfungsi sebagai ruang belajar informal tentang alam, perjalanan, kebersamaan, dan hubungan manusia dengan lingkungan.
Ruang Kebangsaan
SOSBOFI juga memiliki ruang refleksi mengenai kebangsaan, terutama melalui percakapan alumni tentang Hari Pahlawan dan makna kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada 2020, Pelakita.ID mencatat pandangan alumni mengenai ziarah, tabur bunga, perjuangan, keluarga, pengabdian, serta cara generasi mereka memaknai kepahlawanan. Bagi mereka, kepahlawanan tidak hanya berada dalam sejarah nasional, tetapi dapat hadir dalam pengabdian, tanggung jawab keluarga, pekerjaan, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Percakapan tersebut menunjukkan bagaimana pengalaman generasi alumni mengubah cara mereka membaca sejarah setelah melewati perjalanan hidup selama beberapa dekade.

Waktu dan Kehilangan
Ruang dan waktu tidak selalu menghadirkan pertemuan, sebab perjalanan hidup juga membawa kehilangan ketika seorang sahabat meninggal dunia atau meninggalkan lingkaran pertemanan.
Pada September 2025, Pelakita.ID menulis tentang Indra Irawan Kadir, salah seorang sahabat SOSBOFI, dalam tulisan penghormatan yang merekam kenangan dan kedekatan komunitas. Peristiwa semacam itu memperlihatkan bahwa komunitas bukan hanya hadir ketika ada kegiatan, tetapi juga ketika seseorang sakit, kehilangan, berpulang, atau membutuhkan dukungan.
Ketika seseorang pergi, pertemuan fisik tidak lagi mungkin, sehingga foto, cerita, nama panggilan, dan kenangan menjadi cara komunitas mempertahankan kehadiran.
Dalam konteks tersebut, persahabatan memperoleh dimensi baru: menjaga ingatan terhadap seseorang yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan bersama.
SOSBOFI sebagai Modal Sosial
Jika seluruh perjalanan tersebut dibaca secara konseptual, SOSBOFI memperlihatkan karakter komunitas yang memiliki modal sosial melalui hubungan internal yang relatif kuat. Pengalaman sekolah bersama menciptakan bonding social capital, yaitu ikatan yang memperkuat rasa percaya, solidaritas, identitas dan kedekatan antaranggota.
Ketika alumni membangun masjid dan berhubungan dengan masyarakat Kampung Cedde, ikatan tersebut mulai bergerak menuju bridging social capital.
Begitu pula ketika kegiatan olahraga, lingkungan, wisata, filantropi dan pemberdayaan mempertemukan alumni dengan komunitas lain, jejaring sosial menjadi semakin luas.
Dengan demikian, memori bersama dapat menjadi sumber energi sosial ketika diterjemahkan melalui kegiatan yang terbuka terhadap masyarakat dan kelompok lain. Siklus tersebut dapat diringkas sederhana: memori melahirkan pertemanan, pertemanan menghasilkan perjumpaan, perjumpaan melahirkan solidaritas, kemudian solidaritas menghasilkan kegiatan.
Ketika kegiatan dikelola secara konsisten dan inklusif, manfaatnya dapat bergerak keluar dari komunitas dan memasuki ruang sosial yang lebih luas.
Pada Ruang dan Waktu
SOSBOFI karena itu tidak cukup dibaca sebagai komunitas alumni yang berkumpul untuk mengenang masa sekolah, meskipun nostalgia tetap menjadi bagian penting perjalanan mereka.
Ia berawal dari sekolah, tetapi kemudian hidup di pantai, jalan raya, lapangan olahraga, masjid, rumah sahabat, tempat wisata, ruang keluarga, dan percakapan digital.
Ruangnya berubah, waktunya berubah, para anggotanya bertambah usia, pekerjaan berganti, domisili berpindah, tetapi keinginan untuk saling menemukan kembali tetap bertahan. Di situlah makna paling sederhana SOSBOFI pada ruang dan waktu: membawa nilai baik dari masa lalu ke dalam kehidupan yang terus berubah.
Dari ruang kelas menuju ruang sosial, dari reuni menuju pengabdian, dari persahabatan menuju solidaritas, dan dari solidaritas menuju pemberdayaan. Nama yang lahir dari pengalaman sekolah pada 1989 kemudian berkembang menjadi cerita yang ditulis ulang oleh para anggotanya melalui berbagai ruang kehidupan.
Jejak itu ada dalam tawa ketika gowes, percakapan di meja makan, perjalanan menuju destinasi, aktivitas olahraga, Masjid Ar Rasyid, dan Kampung Cedde.
Jejak itu juga hadir dalam kepedulian kepada anak yatim, perhatian terhadap lingkungan, penghormatan kepada pahlawan, serta doa ketika seorang sahabat berpulang.
SOSBOFI tidak membutuhkan monumen besar untuk membuktikan bahwa mereka pernah bersama, sebab jejak persahabatan telah tersebar dalam ruang kehidupan masing-masing. Waktu akan terus berjalan dan ruang akan terus berubah, tetapi persaudaraan tetap mempunyai tempat selama manusia bersedia membuka pintu bagi sahabatnya.
Pembaca sekalian, itulah perjalanan SOSBOFI: bukan mempertahankan masa lalu secara utuh, melainkan membawa persahabatan lama menjadi energi sosial untuk kehidupan hari ini.
Penulis Denun









