Kolom Yarifai Mappeaty: Jegal Anies dengan banyolan konyol

  • Whatsapp
Anies Baswedan - enciety.co

 

PELAKITA.ID – Tidak salah lagi, Anies Baswedan adalah calon presiden yang paling diingini oleh rakyat Indonesia dengan tingkat elektabilitas paling tinggi, melampaui Ganjar dan Prabowo. Kenapa bisa? Bukankan rilisl survey selama ini, Anies selalu di urutan ketiga?

Tidak. Saya tidak mempercayai hasil survei yang dirilis itu benar-benar jujur.

Coba pikir, memang apa keuntungan bagi sebuah lembaga survey itu melakukan riset lalu merilisnya?

Jika bukan karena pesanan, maka mengapa pula sampai bodoh melakukan riset? Kepentingannya apa dengan elektabilitas capres? Padahal  sekali riset  butuh biaya hingga ratusan juta rupiah. Duitnya dari mana? Tentu dari bohir  yang memberi pesanan.

Bagi sang bohir sendiri, hasil survey itu sebenarnya soal kedua. Tetapi yang paling penting adalah rilis survey untuk mempengaruhi opini publik. Demi kepentingan elektabilitas capresnya, jika harus, rilis survey pun dapat dibuat berbeda dengan hasil survey. Berapapun ongkosnya, bukan masalah.  Di sinilah lembaga survey itu takluk. Akibatnya, rilis survey kerap membohongi hasil survey, cenderung abal dan menyesatkan.

Sebaliknya, taruhlah bahwa rilis survey itu memang benar. Lantas  apa istimewanya Anies sampai harus dijegal dengan cara demikian masiv dan sistematis?  Padahal jika merujuk pada rilis survey, toh elektabilitas Anies selalu berada jauh di bawah Ganjar.  Aneh bukan?

Padahal, justeru kerja masif dan sistematis sampai mengeluarkan biaya dan energi besar untuk jegal Anies, malah memberi keyakinan kepada publik bahwa elektabilitas Anies, sebenarnya memang jauh di atas Ganjar dan Prabowo. Tampaknya hal itu tak disadari oleh sang bohir beserta antek-anteknya, sehingga terus saja berupaya menjegal Anies secara serampangan.

Coba tengok sebuah kanal tv di Youtube, “NyinyirTV”, sebut saja begitu. Betapapun apiknya mereka menyusun narasi nyinyir tentang sirkuit Formula E Ancol, namun tetap saja tak mampu mempengaruhi publik.

Bagaimanapun piawainya mereka menggoreng opini sesat untuk dijejalkan di kepala publik,  tetap tak bisa sembunyikan  harap -harap cemas mereka yang tak ingin perhelatan Formula E terlaksana.

Mengapa mereka sampai memiliki pikiran jahat semacam itu? Sebab mereka tak mau suskes pagelaran Formula E memberi dampak elektoral yang signifikan terhadap Anies. Begitu jahatnya, sampai-sampai tak satupun BUMN berani menjadi sponsor. Padahal demi kepentingan bangsa dan negara yang katanya harga mati, sukses pagelaran Formula E di Jakarta, pun mestinya harga mati.

Pendeknya, kalaupun pagelaran formula E itu sampai terlaksana, sedapat mungkin mengecewakan, sehingga tidak memberi kredit apapun terhadap Anies. Tetapi apa yang terjadi? Sukses pagelaran balapan “kuda jingkrak” bertenaga listrik tersebut, ternyata melampaui ekspektasi semua orang.

Bahkan sirkuit Ancol yang dibangun oleh Anies dengan biaya sekitar 600 milyar rupiah, jauh lebih diapresiasi oleh dunia internasional ketimbang sirkuit Mandalika yang menelan biaya hingga 2 triliun rupiah.  Malah beberapa media internasional menyebutnya sebagai salah satu seri terbaik sepanjang sejarah perhelatan Formula E.

Gagal jegal Anies di Ancol, tak lantas membuat mereka patah-arang. Bayangkan, hanya dalam hitungan hari setelah pagelaran Formula E, muncul deklarasi dukung Anies sebagai capres 2024, oleh sekelompok orang yang menamakan diri sebagai FPI reborn. Dua hari berselang, sekelompok lagi bernama Majelis Sang Presiden melakukan hal yang sama di Hotel Bidakara, sembari memasang atribut HTI.

Lucunya, kemunculan mereka justeru menjadi bahan tertawaan publik. Bagaimana tidak? Semua tahu bahwa FPI dan HTI sudah dibekukan. Jika ada yang muncul menggunakan nama dan atribut FPI dan HTI, maka dapat dipastikan kalau mereka adalah FPI jadi-jadian dan HTI siluman.

Namun yang tak kalah konyol adalah sikap para punggawa NyinyirTV. Sudah tahu bahwa publik tak percaya semua itu, masih  saja  pada ramai-ramai membanyol.  Melalui narasi yang apik, mereka berusaha ngotot  mengaitkan Anies dengan FPI jadi-jadian dan HTI siluman itu. Benar-benar konyol.

Terus, apa kata orang Makassar? “Kasar dudui pelleng, bos.”

Makassar, 11 Juni 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *