Oka Dwi Prihatmoko, pengabdian seorang pengamat burung

  • Whatsapp
Oka Dwi Prihatmoko (dok: Facebook)

PELAKITA.ID –  Pada penghujung tahun 2020, Oka Dwi Prihatmoko bersukacita. Sebuah buku berjudul Atlas Burung Indonesia telah dirilis, namanya masuk sebagai salah satu kontributor.

“Buku yang telah diidam-idamkan para pemerhati burung di Indonesia sejak lama. Dikerjakan secara keroyokan dan saya sangat berterima kasih pada tim inti penyusun buku ini yang mengajak saya untuk ikut berkontribusi – walau tak banyak – di dalamnya,” tulisnya di laman media sosialnya, 28 Desember 2020.

Bertemu dan berbincang dengan Oka Dwi Prihatmoko amat menyenangkan dan mengesankan.

Pembawaannya supel dan enak diajak berbincang.  Itu pula yang dirasakan Pelakita.ID saat bertemu dokter hewan yang belakangan ini sering terlihat wara-wiri di punggung pegunungan Papua hingga Nusa Tenggara Barat.

Dokter hewan lulusan UGM ini adalah sosok inspiratif untuk sesiapa yang mencintai kelestarian sumber daya alam. Pria yang kini bermukim di daerah Batubulan, Gianyar, Bali ini adalah aktivis lingkungan sekaligus pengamat burung yang handal.

Pelakita.ID mencoba menyigi jalan karir, pengalaman dan kiprah Oka setelah menggondol gelar dokter hewan.

“Tentang burung? Ada beberapa pengalaman memimpin tour pengamatan burung di wilayah Jawa, Bali, Sunda Kecil, Maluku dan Papua. Termasuk pengalaman memberi pelatihan birdwatching kepada kelompok-kelompok pariwisata di Sumbawa, ”ungkapnya.

Birdwatching yang dimaksud adalah kegiatan pengamatan burung sebagai salah satu rekreasi dengan bentuk kegiatan mengamati burung. Kegiatan pengamatan burung di alam bebas melalui mata telanjang, dengan alat bantu seperti teleskop atau teropong binokular, atau sekadar mendengarkan suara ciutan burung.

“Burung ada dimana-mana. Kurang lebih ada 10 ribu spesies di dunia ini. Bisa ditemui di tepi pantai, tengah laut, bukit, sawah, ladang, hutan, sungai, danau, rawa, gunung, sekaligus juga di area perkotaan,” jelasnya.

“Sehingga, jika ada spesies burung yang hilang dari suatu habitat, bisa menjadi indikasi bahwa ada sebuah perubahan fungsi dari habitat spesies burung tersebut.” Begitu alasannya saat ditanya mengapa begitu menyukai burung yang hidup di alamnya.

Kita pun menjadi tidak heran mengapa ia mau mengabdi selama dua tahun menjadi peneliti lapangan di Yayasan Kutilang (LSM lokal di Yogyakarta yang bergerak di bidang konservasi burung).

Buku Atlas Burung Indonesi (dok: istimewa)

Selain sebagai peneliti burung di Yayasan Kutilang, ia juga pernah membuka praktek dokter hewan di Jakarta, serta bekerja sebagai koordinator dokter hewan di rumah sakit hewan Bali Safari & Marine Park. Kini ia aktif sebagai direktur sekaligus tour leader di perusahaan Birding Indonesia. Sebuah operator tour khusus untuk birdwatching.

Di sela-sela tugas pemeriksaan klinis dan pengobatan hewan, ia senang menulis. Sebagian besar berupa tulisan ilmiah populer dan cerita perjalanan yang berhubungan dengan burung. Beberapa di antaranya

“Satwa Liar di ‘Rimba’ Jakarta” dimuat dalam majalah Intisari, Januari 2011. Kemudian, Baluran: Birdwatcher’s Innitial Impression” yang diterbitkan di Majalah BaliandBeyond, April 2011.

“Birdwatching in Komodo Park” yang diterbitkan pada majalah Garuda Inflight, November 2011.  Serta “Wings of Seram” yang diterbitkan pada majalah DestinAsian, Mei-Juni 2017 dan menceritakan tentang potensi burung di Pulau Seram.

“Tulisan terbaru saya adalah; Defying extinction? The possible rediscovery of Scarlet-breasted Lorikeet Trichoglossus forsteni form mitchellii on Bali, Indonesia  yang dimuat pada Majalah Birding Asia edisi 32 tahun 2019,” sebutnya.

“Tulisan itu bercerita tentang penemuan kembali burung paruh bengkok jenis perkici di Bali yang telah dianggap punah oleh para peneliti asing. Saat ini, tulisan ilmiah tentang persebaran sarang burung kakatua kecil jambul kuning di pulau moyo, nusa tenggara barat, sedang dalam proses reviu oleh editor di jurnal yang sama.” tambahnya.

Tak hanya petualangan darat hingga puncak gunung demi burung, dia adalah pemegang bintang dua selam dari Indonesian Sub Aquatic Sport Association (ISSA), dia pernah menjadi pengurus klub selam di UGM.

Berkah dari seringnya berkegiatan outdoor, pada tahun 2011, Oka pernah menjadi pemenang program ”Petualang AKU CINTA INDONESIA” yang digelar oleh DetikCom. Videonya berkeliling nusa tenggara timur yang dibiayai oleh DetikCom bisa di lihat di youtube https://www.youtube.com/watch?v=3B_MBR3LXZE,” jelasnya.

Tahun berikutnya dia juga menjadi pemenang program “Petualang Blacktrail 2012” yang diadakan oleh National Geographic Indonesia dan Loreal For Men Expert.

“Saat itu, rasanya semua adalah berkah dari hobi-hobi berkegiatan outdoor dan menulis,” begitu katanya.

Dari Sulawesi, tepatnya di kepulauan Pangkep Sulawesi Selatan, Oka pernah menulis artikel tentang Pulau Kapoposang dan Arthropoda. Judulnya, “Kapoposang: Sarang Arthropoda Tanah Terbesar di Dunia” ini terbit di Majalah Jalan-jalan, April 2011 dan Intisari dengan judul yang berbeda.

Atas pengalaman-pengalaman menulis itulah ia didapuk menjadi editor in chief pada majalah digital Biodiversitas Indonesia antara April 2011 hingga 2013.

Burung-burung jepretan Oka di Pulau Lombok (dok: istimewa)

Dia bertugas mengedit dan menulis artikel, serta bertanggung jawab atas keseluruhan isi majalah. Biodiversitas Indonesia terbit dua kali setahun dengan 1 edisi khusus setiap tahun. Sayangnya, majalah itu kini sudah tidak lagi terbit akibat kesibukan masing-masing pengurusnya.

Pertanyaan Pelakita lalu kembali ke dunia wisata pengamatan burung.

“Sebagai direktur saya mengelola semua perencanaan hingga 4 tahun ke depan. Mulai dari bagaimana menghasilkan produk wisata, pemasaran, administrasi, perpajakan, dan operasional. Sebagai pemimpin tur, saya menangani maksimal 8 orang per grup setiap tur,” ucapnya.

“Memandu mengidentifikasi burung kepada anggota kelompok, menjelaskan habitat burung serta adat-budaya setempat, dan yang paling penting memastikan semua anggota group wisata pulang dalam perasaan puas,” jelasnya.

Salah satu pengalaman pahit selama memandu wisatawan asing mengamati burung dialami di pedalaman Papua.

“Mata saya kemasukan lintah. Lagi asik melihat burung, gak sadar kalau ada lintah di binokuler. Tiba-tiba masuk ke lubang air mata di sudut mata dan terasa gatal mengganjal. Untung orang Papua di desa tahu cara mengeluarkannya lagi,” kenangnya.

“Mata saya ditetesi minyak goreng, lalu semua menunggu si lintah keluar dengan sendirinya. Saat sudah mulai kelihatan di luar, lintah diambil menggunakan cotton bud yang biasa dipakai untuk membersihkan kuping,” katanya.

“Seluruh badan gatal-gatal tak terkira,” imuhnya.

“Kata orang Papua, saya kena kutu maleo, saat saya tanya kenapa badan saya gatal-gatal. Segera mandi pakai deterjen atau lumuri minyak tanah, saran mereka,” ucapnya lagi.

Maleo yang dimaksud bukanlah burung khas yang endemik Sulawesi, tetapi sejenis burung kalkun yang bertelur di gundukan tanah bercampur ranting dan seresah daun.

Perilaku itu memang menyerupai perilaku burung maleo di Sulawesi. Bedanya, maleo menguburkan telurnya di pasir dan membiarkan panas bumi membantu proses penetasannya.

Oka mengaku bahwa sebagian besar tamunya adalah orang-orang mancanegara yang ingin melihat burung asli Indonesia. Seperti Cendrawasih, maleo, kakatua, elang jawa, jalak bali, dan masih banyak lagi.

“Sebab Indonesia memiliki 1 777 spesies burung dengan lebih dari 400 di antaranya merupakan spesies burung endemic,” tegasnya.

Banyak dari mereka ingin menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya bagaimana burung cendrawasih menari di alamnya.

“Jika sudah bisa mengantarkan para turis itu melihat tarian cendrawasih, rasanya seperti makan bakso panas dan pedas saat hari sedang hujan. Puas tiada terkira!” begitu kelakarnya sambil tertawa.

Dokter hewan ini juga senang membagikan kegiatan-kegiatan pengamatan burungnya di media sosialnya.

“Untuk turut mensosialisasikan pelestarian sumber daya alam Indonesia,” akunya. Sepertinya ia turut prihatin akan banyaknya penurunan populasi burung akibat perburuan di berbagai lokasi di Indonesia.

Seperti ketika ia sedang berada di Pulau Moyo, ia mengunggah video tentang burung hantu Tyto alba yang hidup di tengah-tengah desa. Lalu menambahi caption: “Pemakan tikus ini seringkali disalah-persepsikan sebagai burung pembawa kabar kematian. Seperti individu di Pulau Moyo ini. Ia saya temukan di bulan Agustus lalu di atas atap sebuah sekolah dasar di tengah Desa Labuhan Aji. Tidak ada yang mengusiknya. Syukurlah.”

Di lain waktu selepas berkunjung ke Taman Nasional Alas Purwo, ia lalu mengunggah “Flocks of Oriental Pied Hornbill. Mereka begitu damai bersenang-senang di suatu sore yang tenang,” serunya sesaat setelah mengambil obyek itu dari jarak kurang lebih 250 meter menggunakan kamera nikon P1000.

Saat ini Oka menaruh perhatian penuh untuk Jalak Putih Bali. Sebab pada 9 Oktober 2020 sore ia dan seorang rekannya menemukam 10 individu sedang asik menempati sebuah pohon di dekat lokasi wisata terkenal di Pulau Bali.

“Jumlah individu dari flock burung Jalak Putih atau Acridotheres melanopterus tertius terlihat tidaklah terlalu banyak. Tetapi jika melihat dari statusnya yang critically endangered di alam, maka keberadaan flock ini sangatlah penting bagi keberadaannya. Subspesies Tertius ini hanya dapat ditemukan di pulau Bali.” terangnya.

“Semoga keberadaannya di alam akan terus bertambah dan lestari,” harap Oka.

Terakhir, pernyataannya tentang birdwatching diekspresikannya dalam pernyatan berikut: “Buat saya, hal yang paling terpenting tentang birdwatching bukanlah soal paling mengetahui segala sesuatu tentang burung, atau memiliki paling banyak daftar burung yang telah dilihat, atau memiliki alat optik yang paling mutakhir. Birding adalah tentang bergembira bersama. Having fun!”

Penulis: K. Azis

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *