Andi Cicu: Merawat Warisan, Menjemput Masa Depan

  • Whatsapp
Ilustrasi

Catatan Ulang Tahun Ketua DPRD Sulawesi Selatan, drg. Andi Rachmatrika Dewi

Oleh: Johansyah Mansyur

PELAKITA.ID – Ada yang menarik dari perjalanan drg. Andi Rachmatrika Dewi, sosok yang lebih dikenal dengan sapaan Andi Cicu. Ia bukan hanya seorang perempuan yang berhasil menapaki jenjang politik hingga dipercaya menjadi Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan.

Ia juga tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki sejarah panjang dalam pemerintahan, penegakan hukum, dan perpolitikan Sulawesi Selatan.

Pada 27 Oktober 2026, ketika Andi Cicu genap berusia 43 tahun, ada satu pertanyaan menarik untuk direnungkan: sejauh mana warisan keluarga membentuk perjalanan politik seseorang, dan sejauh mana seseorang mampu membangun namanya sendiri?

Pertanyaan ini relevan bagi Andi Cicu. Sebab, di balik nama yang kini dikenal luas masyarakat Sulawesi Selatan, terdapat sejarah keluarga, nilai-nilai yang diwariskan, pengalaman pergaulan, serta proses panjang yang membawanya ke panggung politik.

Namun, satu hal perlu ditegaskan sejak awal. Nama besar keluarga mungkin menjadi pintu pengenalan, tetapi kepercayaan masyarakat tidak bisa diwariskan begitu saja. Ia harus diperjuangkan, dirawat, dan dibuktikan melalui kerja nyata.

Dari Jejak Siradjuddin hingga Panggung Politik Modern

Andi Cicu merupakan cucu dari Muhammad Arief Siradjuddin, mantan Bupati Gowa (1976-1984). Dalam sejarah politik daerah, hubungan keluarga dengan tokoh pemerintahan terdahulu bukan sekadar catatan silsilah. Ia dapat menjadi pintu untuk memahami bagaimana nilai kepemimpinan, hubungan sosial, dan tradisi pengabdian berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nama Siradjuddin menghubungkan Andi Cicu dengan sejarah pemerintahan Gowa. Sementara itu, ayahandanya, Andi Muhammad Iqbal Arief, meniti karier di lingkungan Kejaksaan Republik Indonesia dan pernah menduduki sejumlah jabatan strategis, termasuk Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi dan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara.

Dari garis keluarga ibunya, Andi Cicu juga memiliki kedekatan dengan Dr. Ir. Ilham Arief Siradjuddin, MS, mantan Wali Kota Makassar yang dikenal sebagai salah satu figur penting dalam politik Sulawesi Selatan.

Tiga nama dan pengalaman keluarga tersebut menghadirkan latar yang menarik: pemerintahan daerah, penegakan hukum, dan politik elektoral.

Akan tetapi, menariknya perjalanan Andi Cicu justru terletak pada kenyataan bahwa ia tidak sepenuhnya mengikuti jalur profesi para pendahulunya. Ia menempuh pendidikan kedokteran gigi di Universitas Hasanuddin, pernah bekerja sebagai penyiar radio, lalu memasuki dunia politik dan berkembang menjadi seorang legislator.

Di sini kita melihat bahwa warisan keluarga tidak harus melahirkan profesi yang sama. Warisan yang lebih penting adalah nilai, pengalaman, jaringan sosial, dan kesempatan belajar yang dapat diolah menjadi kemampuan untuk menghadapi tantangan zaman.

Bagi Andi Cicu, latar belakang keluarga mungkin memberinya kesempatan mengenal dunia pemerintahan dan politik lebih dekat. Namun, perjalanan politiknya tetap membutuhkan keputusan, keberanian, kerja, serta kemampuan membangun kepercayaan masyarakat.

Sebab, dalam demokrasi, nama keluarga dapat menarik perhatian, tetapi suara rakyatlah yang memberikan mandat.

Politik Bukan Sekadar Warisan Nama

Dalam pandangan saya, salah satu kekeliruan ketika membaca perjalanan politisi yang berasal dari keluarga berpengaruh adalah menganggap keberhasilannya semata-mata sebagai hasil warisan. Pandangan seperti itu terlalu sederhana.

Dunia politik memiliki mekanisme seleksi tersendiri. Seseorang harus membangun komunikasi dengan masyarakat, memahami aspirasi konstituen, menjaga hubungan dengan organisasi, membaca perubahan politik, dan menghadapi persaingan yang tidak selalu mudah.

Andi Cicu telah menjalani proses tersebut. Karier politiknya dimulai sebagai anggota DPRD Kota Makassar pada 2009. Setelah itu, ia memasuki DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dan dipercaya menduduki posisi wakil ketua pada periode 2014–2019. Ia kemudian melanjutkan pengabdiannya sebagai legislator provinsi dan kembali memperoleh kepercayaan masyarakat dalam pemilihan legislatif berikutnya.

Pada Pemilu 2024, ia meraih 46.375 suara berdasarkan profil yang diberitakan media lokal. Partainya, Partai NasDem, juga memperoleh posisi sebagai partai dengan kursi terbanyak di DPRD Sulawesi Selatan. Kombinasi pengalaman legislatif dan kekuatan politik partai tersebut mengantarkannya menjadi Ketua DPRD Sulawesi Selatan periode 2024–2029.

Tiga kali terpilih sebagai anggota DPRD provinsi dan kemudian memimpin lembaga legislatif merupakan capaian yang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan politiknya sendiri. Namun, perjalanan itu bukan tanpa tantangan.

Pada Pilkada Makassar 2018, Andi Cicu yang berpasangan dengan Munafri Arifuddin belum berhasil memenangkan kontestasi. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa dalam politik, dukungan dan perhitungan tidak selalu berujung pada kemenangan.

Justru di situlah perjalanan seorang politisi menjadi menarik. Kekalahan tidak harus menjadi akhir, sebagaimana kemenangan tidak boleh membuat seseorang merasa telah sampai pada tujuan terakhir.

Andi Cicu kemudian melanjutkan kiprahnya melalui lembaga legislatif. Dari pengalaman tersebut, ada pelajaran penting yang layak dipetik: ketangguhan politik tidak hanya diukur dari kemampuan memenangkan pertarungan, tetapi juga dari kesanggupan untuk terus bekerja, mengevaluasi diri, dan menjaga kepercayaan publik setelah menghadapi kegagalan.

Tentu, ketangguhan saja belum cukup. Ia harus disertai kualitas pengambilan keputusan, integritas, keberanian mengawasi jalannya pemerintahan, dan kesediaan menerima kritik.

Ketika Tradisi Bertemu Perubahan Zaman

Ada dimensi lain yang membuat perjalanan Andi Cicu patut dicermati. Ia berada di persimpangan antara tradisi politik yang dibangun oleh generasi terdahulu dan perubahan sosial yang semakin cepat.

Generasi yang lebih tua tumbuh dengan pengalaman politik yang panjang, hubungan sosial yang kuat, dan pemahaman mengenai sejarah pemerintahan daerah. Sementara generasi milenial dan Generasi Z menghadapi dunia yang berbeda: lebih digital, lebih terbuka terhadap informasi, lebih cepat menyampaikan kritik, dan memiliki harapan yang semakin tinggi terhadap transparansi serta kualitas pelayanan publik. Kepemimpinan masa depan membutuhkan kemampuan mempertemukan kedua dunia tersebut.

Politisi tidak cukup hanya memahami cara kerja politik konvensional. Mereka juga harus mampu mendengarkan generasi muda, memahami persoalan lapangan kerja, pendidikan, ekonomi kreatif, lingkungan hidup, transformasi digital, dan kesempatan berusaha.

Di sisi lain, pembaruan tidak berarti menanggalkan seluruh nilai yang diwariskan generasi sebelumnya. Pengalaman, etika pergaulan, penghormatan terhadap orang lain, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan tetap merupakan modal penting.

Dalam konteks ini, Andi Cicu memiliki peluang untuk menjadi jembatan antargenerasi. Ia mengenal lingkungan politik melalui keluarga dan pengalaman organisasi, tetapi juga menjalani karier di tengah perubahan lanskap komunikasi dan perilaku pemilih. Perpaduan tersebut dapat menjadi kekuatan apabila diterjemahkan menjadi kepemimpinan yang terbuka, responsif, dan tidak terjebak dalam cara-cara lama.

Namun, peluang tidak otomatis menjadi prestasi. Generasi muda tidak cukup hanya didekati ketika pemilihan umum tiba. Mereka harus dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, diberikan ruang menyampaikan gagasan, dan memperoleh kesempatan untuk ikut menentukan arah pembangunan.

Sebagai Ketua DPRD Sulawesi Selatan, Andi Cicu memiliki ruang untuk mendorong fungsi representasi lembaga legislatif agar lebih dekat dengan kebutuhan berbagai kelompok masyarakat, termasuk anak muda dan perempuan.

Di situlah warisan politik dapat memperoleh makna baru: bukan sekadar meneruskan nama, melainkan memperluas manfaat pengabdian.

Kepemimpinan Juga Diuji oleh Karakter

Di luar jabatan dan perjalanan politik, ada sisi personal Andi Cicu yang bagi saya memiliki arti tersendiri. Saya mengenal keluarganya melalui persahabatan panjang dengan ibundanya, Dra. Hj. Nurhayaty Siradjuddin, yang akrab saya sapa Puang Aty. Persahabatan kami bermula sejak SMA Negeri 2 Makassar. Kami pernah sekelas, sering berboncengan pergi dan pulang sekolah, kemudian melanjutkan pendidikan di FISIP Universitas Hasanuddin dengan jurusan berbeda.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, perjalanan kami kembali bersinggungan ketika sama-sama diterima sebagai calon pegawai negeri sipil di Departemen Penerangan Republik Indonesia.

Karena hubungan yang panjang itu, saya mengenal keluarga Andi Cicu bukan semata-mata dari posisi yang mereka tempati. Ada sejarah persahabatan yang mendahului jabatan dan tetap terpelihara melewati perubahan waktu.

Dalam pandangan saya, Andi Cicu merupakan pribadi yang ramah, menyayangi keluarganya, dan menghormati kedua orang tuanya. Saya mengenalnya sebagai sosok yang menjaga hubungan dengan keluarga serta menghargai orang-orang yang lebih tua dan dituakan.

Bagi sebagian orang, hal-hal seperti ini mungkin dianggap sederhana. Namun, dalam kehidupan publik, karakter personal tetap memiliki arti.

Kekuasaan dapat mengubah cara seseorang dipandang masyarakat. Jabatan dapat membuat seseorang semakin sibuk, semakin banyak berhubungan dengan orang-orang penting, dan semakin jauh dari pergaulan yang dahulu membentuk dirinya.

Karena itu, kemampuan mempertahankan kesederhanaan dalam hubungan, menghormati orang lain, dan menjaga ikatan keluarga merupakan pengingat agar seseorang tidak kehilangan pijakan ketika tanggung jawabnya semakin besar.

Tentu, karakter yang baik bukan pengganti kinerja. Keramahan tidak dapat menggantikan kualitas kebijakan, dan penghormatan kepada orang tua tidak otomatis menjamin keberhasilan dalam menjalankan pemerintahan.

Namun, ketika karakter yang baik berjalan bersama kompetensi, integritas, dan tanggung jawab, di situlah kepemimpinan memperoleh fondasi yang lebih kuat.

Ulang Tahun sebagai Momentum Evaluasi

Bagi saya, ulang tahun seorang pejabat publik semestinya tidak berhenti pada ucapan selamat, doa, dan perayaan. Momentum ini juga dapat menjadi kesempatan untuk menengok perjalanan yang telah dilalui dan memikirkan tanggung jawab yang masih harus ditunaikan.

Pada usia 43 tahun, Andi Cicu masih memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinannya. Posisi sebagai Ketua DPRD Sulawesi Selatan memberinya kesempatan sekaligus tanggung jawab untuk membuktikan bahwa pengalaman politik dapat menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ada tiga hal yang menurut saya layak menjadi perhatian. Pertama, memperkuat kualitas DPRD sebagai lembaga representasi rakyat. Aspirasi masyarakat harus memperoleh ruang yang memadai, sedangkan fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Kedua, menjaga jarak yang sehat antara kepentingan partai dan kepentingan publik. Partai politik merupakan kendaraan demokrasi yang penting, tetapi jabatan Ketua DPRD membawa tanggung jawab terhadap masyarakat yang lebih luas, termasuk mereka yang berbeda pilihan politik.

Ketiga, membuka ruang yang lebih besar bagi generasi muda dan perempuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan daerah. Kehadiran perempuan dalam jabatan publik akan semakin bermakna apabila disertai kesempatan yang nyata untuk memengaruhi kebijakan dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Jika ketiga hal tersebut dapat dijalankan secara konsisten, perjalanan Andi Cicu tidak hanya akan tercatat sebagai keberhasilan seorang politisi perempuan mencapai jabatan tinggi. Ia juga berpeluang dikenang sebagai figur yang ikut memperkuat kualitas demokrasi daerah.

Tentu, penilaian akhir tetap berada di tangan masyarakat. Kepercayaan politik harus terus dipelihara melalui hasil kerja yang dapat dirasakan, bukan sekadar melalui popularitas atau kedekatan dengan tokoh-tokoh berpengaruh.

Selamat Ulang Tahun, Andi Cicu

Kepada drg. Andi Rachmatrika Dewi, saya menyampaikan selamat ulang tahun ke-43.Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, umur yang berkah, kebijaksanaan, dan kekuatan untuk menjalankan amanah sebagai Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan.

Sebagai Om Jo yang mengenal ibundamu sejak masa muda, saya ikut berbahagia melihat perjalananmu hingga hari ini. Saya menyaksikan bagaimana persahabatan yang bermula di bangku SMA telah membawa saya mengenal keluarga yang kini menjadi bagian dari perjalanan politik Sulawesi Selatan.

Saya berharap engkau dapat terus merawat nilai-nilai baik yang diwariskan keluarga, tanpa berhenti membangun prestasi dan identitasmu sendiri.

Jadikan sejarah keluarga sebagai sumber pembelajaran, bukan alasan untuk merasa cukup. Jadikan keberhasilan sebagai dorongan untuk bekerja lebih baik, bukan sekadar kebanggaan. Dan jadikan setiap tantangan sebagai kesempatan untuk memperkuat integritas serta memperluas pengabdian.

Sebab, warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah nama besar yang dibawanya sejak lahir. Warisan terbesar itu adalah kepercayaan yang berhasil dijaga, gagasan yang diwujudkan, dan manfaat yang ditinggalkan bagi masyarakat.

Selamat ulang tahun, Andi Cicu. Rawatlah warisan keluarga, bangunlah prestasi dengan kemampuan sendiri, dan jadikan jabatan sebagai jalan pengabdian bagi Sulawesi Selatan. Semoga perjalanan politikmu ke depan semakin matang, semakin bijaksana, dan semakin dekat dengan harapan masyarakat yang engkau wakili.

___
Penulis adalah Pengamat Politik & Kebijakasan Publik dan Dosen Praktisi UNM Makassar