PELAKITA.ID – Di Desa Sombano, Pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, perubahan iklim dan kerusakan lingkungan bukan lagi isu yang dibicarakan dalam ruang seminar atau laporan ilmiah.
Ia hadir dalam bentuk yang nyata: garis pantai yang terus mundur, pohon-pohon kelapa yang hilang, serta sumber air yang perlahan menyusut.
Bagi masyarakat pesisir, perubahan itu terasa setiap hari. Laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan kini menghadirkan ancaman yang semakin sulit diabaikan.
Sementara di daratan, benteng-benteng alami yang selama puluhan tahun melindungi kampung mulai melemah akibat tekanan aktivitas manusia.
Kisah dari Wakatobi menunjukkan bahwa krisis lingkungan bukan hanya persoalan ekologi. Ia juga menyangkut ekonomi, ketahanan sosial, hingga masa depan komunitas yang hidup bergantung pada sumber daya alam.
Ketika Abrasi Menelan Ruang Hidup
Warga Desa Sombano masih mengingat bagaimana kondisi pantai mereka sekitar satu dekade lalu. Di sepanjang garis pantai berdiri tiga baris pohon kelapa yang menjadi penanda alami batas daratan dan laut. Kini sebagian besar pohon tersebut telah hilang.
Abrasi yang terus berlangsung menggerus daratan sedikit demi sedikit. Ombak semakin dekat ke permukiman warga, sementara ruang hidup yang tersedia semakin menyempit.
Kerusakan itu tidak terjadi begitu saja. Menurut warga, salah satu penyebab utama adalah pengambilan pasir pantai secara besar-besaran pada awal tahun 2000-an. Material tersebut digunakan untuk pembangunan jalan dan berbagai fasilitas pemerintahan di Pulau Kaledupa.
Apa yang saat itu dianggap sebagai bagian dari pembangunan ternyata meninggalkan konsekuensi jangka panjang bagi lingkungan pesisir. Pantai yang kehilangan pasir pelindungnya menjadi lebih rentan terhadap hempasan ombak dan abrasi.
Kesadaran akan ancaman tersebut mendorong masyarakat Sombano mengambil langkah tegas. Mereka menyepakati aturan lokal yang melarang pengambilan pasir pantai sebagai upaya melindungi sisa kawasan pesisir yang masih bertahan.
Ketahanan Lingkungan Dimulai dari Kesadaran Bersama
Perubahan perilaku masyarakat tidak muncul secara tiba-tiba. Di balik berbagai inisiatif lingkungan yang berkembang di Wakatobi terdapat proses pendampingan yang berlangsung secara sistematis.
Peran penting dimainkan oleh para Community Facilitator (CF), alumni pelatihan JICA-CD Project, yang bekerja bersama masyarakat untuk mengidentifikasi persoalan lingkungan yang mereka hadapi.
Alih-alih datang membawa solusi yang sudah jadi, para fasilitator membantu warga menganalisis kondisi lapangan, memetakan akar masalah, dan menyusun rencana aksi yang sesuai dengan kebutuhan komunitas.
Pendekatan ini menciptakan kesadaran bahwa penyelamatan lingkungan tidak bisa dilakukan oleh individu atau pemerintah semata. Dibutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat agar perubahan yang dihasilkan dapat bertahan dalam jangka panjang.
Konflik Sunyi di Hutan Mangrove
Di Desa Tampara, tantangan lingkungan menghadirkan dilema yang lebih kompleks. Di satu sisi, masyarakat yang menggantungkan hidup dari penangkapan kepiting bakau menyaksikan hasil tangkapan mereka terus menurun. Di sisi lain, kerusakan mangrove yang menjadi habitat utama kepiting dipicu oleh kebutuhan hidup kelompok masyarakat lainnya.
Sebagian besar kayu mangrove dimanfaatkan oleh komunitas Bajo sebagai bahan bakar rumah tangga dan bekal saat melaut mencari teripang. Bagi mereka, mangrove bukan sekadar pohon yang tumbuh di pesisir, melainkan sumber energi yang menopang kehidupan sehari-hari.
Situasi ini memperlihatkan benturan antara dua kelompok masyarakat yang sama-sama bergantung pada sumber daya alam. Tidak ada pihak yang sepenuhnya salah atau benar. Yang terjadi adalah persaingan atas sumber daya yang semakin terbatas.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan kesadaran baru di kalangan masyarakat Tampara. Mereka mulai melakukan penanaman kembali mangrove dan memperkuat upaya perlindungan kawasan pesisir agar habitat kepiting dapat pulih.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga menjaga keberlangsungan mata pencaharian masyarakat.
Krisis yang Datang dari Dua Arah
Jika abrasi menjadi ancaman dari laut, maka persoalan lain datang dari wilayah hulu.
Masyarakat Sombano kini menghadapi penurunan debit mata air yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan air bersih. Mata air tersebut tidak hanya digunakan untuk konsumsi sehari-hari, tetapi juga mendukung aktivitas sosial dan rekreasi warga.
Menurut masyarakat, penurunan debit air berkaitan dengan pembukaan lahan di sekitar kawasan hulu yang berada dekat dengan sumber mata air. Berkurangnya tutupan vegetasi menyebabkan kemampuan tanah menyimpan air ikut menurun.
Akibatnya, warga harus menghadapi ancaman ganda: kehilangan daratan akibat abrasi di pesisir dan berkurangnya ketersediaan air bersih dari wilayah hulu.
Situasi ini mendorong masyarakat melakukan penanaman pohon di sekitar kawasan tangkapan air sebagai upaya menjaga keberlangsungan sumber mata air yang semakin rentan.
Pelajaran dari Wakatobi
Apa yang terjadi di Wakatobi sesungguhnya merupakan gambaran kecil dari tantangan yang dihadapi banyak wilayah pesisir di Indonesia. Perubahan iklim memperbesar risiko yang sudah ada, sementara tekanan pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam sering kali mempercepat kerusakan lingkungan.
Namun di tengah berbagai keterbatasan, masyarakat Wakatobi menunjukkan bahwa solusi dapat tumbuh dari tingkat lokal. Penanaman mangrove, perlindungan mata air, hingga aturan desa untuk melarang pengambilan pasir merupakan bentuk adaptasi yang lahir dari pengalaman langsung menghadapi krisis.
Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa ketahanan lingkungan tidak hanya dibangun melalui proyek besar atau kebijakan nasional. Ia juga lahir dari kesadaran kolektif masyarakat yang memahami bahwa masa depan mereka sangat bergantung pada kesehatan ekosistem di sekitarnya.
Di Wakatobi, alam sedang mengirimkan pesan yang jelas. Ketika hutan mangrove rusak, ketika pasir pantai diambil tanpa kendali, dan ketika hutan di hulu dibuka tanpa perhitungan, dampaknya akan kembali kepada manusia.
Pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan itu akan terjadi, melainkan seberapa cepat kita bersedia belajar dari tanda-tanda yang telah diberikan alam sebelum semuanya terlambat.
Artikel ini lebih menyerupai feature lingkungan dan pembangunan, dengan alur naratif yang menghubungkan abrasi, kerusakan mangrove, krisis air bersih, serta upaya adaptasi masyarakat Wakatobi terhadap perubahan lingkungan.









