Ia adalah Klaner – sebutan untuk anak-anak Kelautan Unhas – yang menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, sebelum kemudian memperdalam Ekonomi Kelautan Tropika pada jenjang magister.
PELAKITA.ID – Di tengah perbincangan besar tentang masa depan Indonesia sebagai negara maritim, nama Auliansyah hadir sebagai representasi generasi baru sarjana kelautan yang tidak lagi memandang laut semata sebagai bentang geografis, tetapi sebagai pusat peradaban, sumber kehidupan, dan modal pembangunan bangsa.
Ia tumbuh dari dunia pesisir di Sulawesi bagian barat saat kawasan itu masih bergabung dengan Sulawesi Selatan. Dia menyelami samudera bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara intelektual.
Perjalanannya memperlihatkan bagaimana ilmu pengetahuan, kepedulian lingkungan, dan visi pembangunan dapat bertemu dalam satu arah pengabdian yang utuh.

Sebagai akademisi di Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman, Auliansyah menempuh jalan yang tidak lazim.
Latar belakangnya berasal dari ilmu kelautan, sebuah disiplin yang membentuk cara pandangnya terhadap hubungan manusia dan alam.
Ia adalah Klaner – sebutan untuk anak-anak Kelautan Unhas – yang menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, sebelum kemudian memperdalam Ekonomi Kelautan Tropika pada jenjang magister.
Dari sinilah lahir sintesis pemikiran yang menjadi ciri khasnya: melihat laut bukan hanya sebagai ekosistem biologis, tetapi juga sebagai modal ekonomi strategis yang harus dijaga keberlanjutannya.
Bagi Auliansyah, pembangunan maritim tidak boleh berhenti pada eksploitasi sumber daya. Laut harus dihitung sebagai natural capital yang memiliki nilai ekologis, sosial, dan ekonomi sekaligus.

Cara pandang ini kemudian membawanya aktif dalam berbagai riset dan program pembangunan berkelanjutan, mulai dari restorasi terumbu karang, pengembangan ekonomi desa, hingga penyusunan neraca sumber daya laut.
Ia percaya bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kemampuan bangsa ini menghitung, menjaga, dan memanfaatkan kekayaan laut secara ilmiah dan berkeadilan.
Komitmennya terhadap dunia bawah laut tidak berhenti di ruang akademik.
Sebagai instruktur scuba profesional bersertifikasi internasional SSI, Auliansyah memahami laut secara langsung dari kedalaman yang jarang disentuh banyak orang.
Ia terlibat dalam berbagai spesialisasi penyelaman, termasuk restorasi terumbu karang, science of diving, hingga penyelamatan bawah air. Pengalaman lapangan itu memberinya perspektif yang kuat bahwa kebijakan kelautan harus lahir dari pemahaman nyata terhadap kondisi ekosistem, bukan sekadar angka di atas meja birokrasi.

Bersinar bersama YEKHALI
Dedikasinya semakin terlihat melalui pendirian Yayasan Ekonomi Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia (YEKHALI), sebuah wadah yang ia bangun untuk menjembatani konservasi dan pembangunan ekonomi masyarakat pesisir.
Melalui yayasan ini, ia mendorong pendekatan blue economy yang menempatkan perlindungan keanekaragaman hayati sebagai investasi jangka panjang.
Baginya, menjaga terumbu karang bukan hanya menyelamatkan ikan dan biota laut, tetapi juga menjaga masa depan pangan, pariwisata, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Dalam perjalanan profesionalnya, Auliansyah juga terlibat dalam berbagai kerja sama nasional dan internasional.
Ia menjadi bagian dari program restorasi ekosistem “Grow and Green” di sejumlah wilayah Indonesia timur, terlibat dalam Economic Innovation Partnership Program antara Indonesia dan Republik Korea, serta aktif dalam kajian ekonomi wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara.
Keterlibatannya dalam analisis Ocean Accounting bersama KKP dan USAID menunjukkan kapasitasnya dalam menghubungkan ilmu kelautan dengan kebijakan ekonomi modern berbasis data dan keberlanjutan.
Di balik seluruh capaian akademik dan profesional itu, Auliansyah tetap melihat dirinya sebagai seorang pembelajar laut. Baginya, laut selalu menyimpan pelajaran tentang keseimbangan, ketekunan, dan kerendahan hati.
Ia percaya bahwa generasi muda Indonesia harus mulai melihat sektor kelautan sebagai ruang inovasi masa depan — bukan hanya untuk menjadi nelayan atau pekerja tambang, tetapi juga ilmuwan, inovator teknologi, ekonom lingkungan, dan penjaga peradaban bahari.
Jejak langkah Auliansyah adalah gambaran tentang bagaimana seorang anak bangsa dapat merajut ilmu, pengalaman lapangan, dan visi pembangunan menjadi satu kesatuan pengabdian.
Di tengah tantangan perubahan iklim, eksploitasi sumber daya, dan ketimpangan pembangunan pesisir, ia memilih berdiri di garis depan untuk memperjuangkan laut sebagai fondasi masa depan Indonesia.
Bagi Auliansyah, menjaga laut bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah cara menjaga kehidupan, menjaga generasi mendatang, dan menjaga Indonesia tetap memiliki masa depan sebagai bangsa maritim yang berdaulat.
Redaksi









