Saya tidak pernah membayangkan bahwa menulis akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup saya. Tidak ada rencana besar sejak awal, tidak ada ambisi menjadi penulis. Semua bermula secara sederhana—di bangku kuliah, saat saya aktif dalam organisasi kemahasiswaan.
Dr Abdul Rahman Nur, S.H, M.H, Wakil Rektor IV Universitas Andi Djemma
PELAKITA.ID – Di ruang-ruang diskusi yang seadanya, di sela rapat yang sering kali lebih ramai perdebatan daripada keputusan, saya mulai menyadari satu hal penting: gagasan tidak cukup hanya dipikirkan, ia harus dicatat—dan lebih dari itu, harus disampaikan.
Kesadaran itu pelan-pelan menumbuhkan keberanian. Saya mulai mencoba menulis. Awalnya ragu, bahkan cenderung takut. Apakah tulisan saya layak dibaca orang lain? Apakah gagasan saya cukup berarti untuk dibagikan? Namun dorongan untuk menyuarakan pikiran ternyata lebih kuat daripada keraguan itu.
Langkah pertama saya sederhana: mengirim tulisan ke Palopo Pos, yang saat itu masih di masa awal kehadirannya. Tidak ada ekspektasi tinggi, sekadar mencoba. Tapi justru di situlah semuanya dimulai.
Ketika tulisan itu akhirnya terbit, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan—seolah menemukan pintu baru. Bahwa suara dari seorang mahasiswa biasa pun bisa sampai ke ruang publik.
Sejak saat itu, saya mulai lebih serius menulis. Saya ingin melangkah lebih jauh, mencoba media yang lebih besar. Salah satunya adalah Harian Fajar.
Pada masa itu, menembus media seperti Fajar bukan perkara mudah. Belum ada kemudahan digital seperti sekarang. Saya harus mengetik tulisan, menyimpannya di disket, lalu mengantarkannya langsung ke redaksi.
Ada usaha fisik dalam proses itu. Ada perjalanan, ada waktu yang dikorbankan, dan ada penantian panjang yang sering kali berakhir dengan kekecewaan.
Tidak semua tulisan dimuat. Bahkan, lebih banyak yang tidak terbit daripada yang berhasil tayang. Tapi justru di situlah saya belajar banyak hal: belajar menerima penolakan, belajar memperbaiki cara berpikir, dan belajar bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan latihan ketekunan.
Kegagalan demi kegagalan tidak membuat saya berhenti. Sebaliknya, itu menjadi alasan untuk terus mencoba. Hingga perlahan, tulisan saya mulai mendapat tempat. Kepercayaan diri tumbuh, dan saya kembali menantang diri untuk melangkah lebih jauh lagi.
Pilihan berikutnya adalah Kompas. Jujur, ini terasa seperti melompat terlalu tinggi. Standarnya ketat, persaingannya keras, dan ekspektasinya besar. Berkali-kali saya mengirim tulisan, dan berkali-kali pula saya menerima balasan bahwa tulisan tersebut belum bisa dimuat.
Namun saya tidak berhenti. Saya terus menulis, terus mengirim, dan terus memperbaiki diri. Proses itu tidak instan, bahkan sering terasa melelahkan. Tapi saya percaya, setiap upaya yang konsisten akan menemukan jalannya.
Dan benar saja, suatu hari kesempatan itu datang. Salah satu tulisan saya akhirnya dimuat di Kompas. Momen itu bukan sekadar tentang sebuah tulisan yang terbit di media nasional.
Ia adalah akumulasi dari perjalanan panjang—tentang keberanian untuk memulai, kesabaran dalam menghadapi penolakan, dan keyakinan untuk terus melangkah.
Dari Palopo Pos, ke Fajar dengan disket di tangan, hingga akhirnya sampai di Kompas—perjalanan ini mengajarkan saya satu hal sederhana: menulis bukan hanya soal kata, tetapi soal keteguhan untuk tidak berhenti.
Karena pada akhirnya, tulisan bukan hanya cara kita berbicara kepada dunia, tetapi juga cara kita menemukan diri sendiri.
Teruslah menulis.
___
ARN – Palopo, 6 Mei 2026









