PELAKITA.ID – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional kembali mendapatkan dorongan melalui pertemuan strategis antara Kementerian Pertanian dan perwakilan Dewan Pimpinan Pusat Garuda Astacita Nusantara (GAN), yang digelar pada Selasa, 5 Mei 2026.
Pertemuan ini menjadi bagian dari langkah konkret dalam mendukung program swasembada jagung yang menjadi salah satu prioritas nasional.
Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh jajaran pengurus DPP GAN, antara lain Ketua Umum Muhammad Burhanuddin, Koordinator Nasional Uus Ali Husni, Wakil Ketua Umum Astacita 2 Mayjen TNI (Purn.) Tri Martono, Wakil Ketua Umum Astacita 6 M. Taufik Anwar, serta Wakil Sekretaris Jenderal Astacita 4 Agus Wahyudiono.
Dari pihak Kementerian Pertanian, audiensi diwakili oleh Staf Khusus Menteri Pertanian, Zulfikar.
Dalam suasana yang konstruktif dan penuh semangat kolaborasi, pertemuan ini menghasilkan sejumlah poin penting yang menunjukkan dukungan nyata Kementerian Pertanian terhadap inisiatif GAN dalam pengembangan budidaya jagung.
Pertama, pemerintah melalui Kementerian Pertanian menyatakan komitmennya dalam mendukung penyediaan benih jagung pangan. Dukungan ini mencakup tahap awal penanaman seluas 10 hektare, serta rencana perluasan pada musim tanam kedua hingga 50 hektare.
Kedua, terkait ketersediaan lahan, disepakati bahwa pengembangan budidaya jagung akan memanfaatkan lahan tidur, sesuai dengan kebijakan Kementerian Pertanian yang tidak memperkenankan penggunaan lahan sawah produktif untuk alih fungsi.
Ketiga, dari sisi mekanisasi pertanian, Kementerian Pertanian memberikan persetujuan untuk skema pinjam pakai alat dan mesin pertanian (alsintan), termasuk traktor. Dukungan ini bersifat bertahap, dengan evaluasi pada fase awal sebagai dasar untuk keberlanjutan bantuan di masa mendatang.
Keempat, terkait kebutuhan pupuk, pemerintah akan melakukan kajian lebih lanjut berdasarkan status kelompok tani. Apabila kelompok yang terlibat telah terdaftar secara resmi, maka akan dibuka peluang pengajuan bantuan pupuk sesuai mekanisme yang berlaku.
Kelima, untuk memastikan keberhasilan program di lapangan, Kementerian Pertanian juga akan menetapkan pendampingan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) melalui Surat Keputusan resmi.
Sebagai tindak lanjut, kedua belah pihak sepakat untuk melakukan koordinasi lanjutan, termasuk peninjauan langsung ke lokasi lahan yang direncanakan sebagai area pengembangan.
Pertemuan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat dalam mendorong produktivitas pertanian nasional.
Dengan dukungan yang terstruktur dan berkelanjutan, inisiatif seperti ini diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi nyata menuju kemandirian pangan Indonesia.

Penjelasan Model Kerjasama
Muhammad Burhanuddin menyebutkan, mencapai kemandirian pangan bagi bangsa sebesar Indonesia bukanlah sekadar tantangan logistik, melainkan sebuah teka-teki strategis yang menuntut harmoni antara visi besar dan aksi nyata.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Asta Cita telah meletakkan fondasi kedaulatan pangan sebagai prioritas absolut. Namun, narasi besar ini seringkali terhenti di meja birokrasi jika tidak ada jembatan yang menghubungkannya dengan realitas tanah dan lumpur di lapangan.
“Di sinilah peran Garuda Astacita Nusantara (GAN) menjadi krusial. Sebagai organisasi yang lahir dari semangat pengabdian, GAN bertindak sebagai akselerator yang menerjemahkan kebijakan pemerintah menjadi gerakan rakyat yang terukur,” ucap Burhanuddin.
Dengan pendekatan yang cerdas, optimis, dan berbasis data, inisiatif ini membuktikan bahwa kemandirian pangan bukan hanya mungkin, tetapi sedang kita bangun—satu jengkal lahan pada satu waktu.
Pemanfaatan “Lahan Tidur”: Menghidupkan Kembali Raksasa yang Terlelap
Indonesia dikelilingi oleh potensi yang terabaikan dalam bentuk “lahan tidur”.
Menurut Koordinator GAN, Uus Ali Kusni, filosofi GAN sangat sederhana namun mendalam: mengidentifikasi dan mendata lahan-lahan tidak produktif ini untuk diubah menjadi aset strategis nasional. Optimalisasi lahan ini bukan sekadar aktivitas bercocok tanam, melainkan upaya menghidupkan kembali raksasa ekonomi yang terlelap.
Optimalisasi lahan tidur sangat krusial bagi swasembada pangan karena:
“Akselerasi swasembada jagung adalah bagaimana menjadikan jagung sebagai komoditas utama karena perannya yang vital dalam rantai pasok pangan dan pakan ternak nasional,” sebutnya.
Kedaulatan fiskal, bahwa setiap hektare lahan yang tidak terolah adalah kehilangan potensi devisa dan beban fiskal akibat ketergantungan pada impor pangan yang merugikan. Pemanfaatan aset negara: mengubah status lahan marjinal menjadi lumbung produktif tanpa harus melakukan pembukaan hutan baru yang tidak berkelanjutan,” terang Uus.
Secara ekonomi, membiarkan lahan ini tetap pasif adalah pemborosan sumber daya yang masif. GAN hadir untuk memastikan setiap jengkal tanah berkontribusi pada kemandirian bangsa.
Inovasi di Bawah Beton: Pertanian di Kolong Tol Pamulang
Uus Ali Kusni juga menyatakan, bukti nyata bahwa kreativitas tidak mengenal batas adalah keberhasilan GAN dalam menyulap area bawah jalan tol menjadi sumber kehidupan.
“Di Kolong Tol Pamulang, sebuah demplot budidaya ikan dan unggas dibangun untuk menunjukkan bahwa efisiensi pangan bisa dimulai dari ruang-ruang urban yang tak terduga. Langkah ini adalah implementasi dari konsep ekonomi sirkular karena Pakan alami dan mandiri: pemanfaatan azolla, kiambang, dan maggot menciptakan sistem biologi tertutup (closed-loop system). Maggot mengubah limbah organik menjadi protein tinggi untuk pakan, yang secara drastis memangkas biaya operasional,” terangnya.
Revolusi pertanian perkotaan, yaitu dengan mengubah lahan sisa infrastruktur menjadi ekosistem pangan produktif, menjawab tantangan kelangkaan lahan di area penyangga ibu kota.

Transformasi limbah menjadi emas: menunjukkan bahwa kemandirian pakan adalah kunci utama dalam menjaga stabilitas harga pangan di tingkat konsumen.
Semangat juang para petani di bawah beton ini dirangkum dalam falsafah “Sopo nandur mesti bakal ngunduh” (siapa yang menanam, pasti akan memanen).
Proyek Banten: Mengubah 283 Hektare Menjadi Lumbung Emas
Dari skala mikro di kolong tol, GAN mengekstrak model keberhasilan tersebut ke skala makro di Desa Cimanyangray, Lebak, Banten. Proyek ini merupakan transisi strategis dari percontohan menuju produksi massal yang terintegrasi.
Berikut adalah fakta kunci yang mengokohkan fondasi proyek ini.
Legalitas mutlak: operasional GAN didasarkan pada SK Menkumham No. AHU-0001152.AH.01.07 Tahun 2025 (berdasarkan Akta Notaris Dewi Andriani, SH., MH.). Sementara itu, akses lahan seluas 283 hektare milik Perhutani telah dijamin melalui dokumen legal KLHK No. 9434/MENLHK-PSKL/PKPS.0/9/2023.
Kekuatan komunitas: melibatkan tujuh gabungan kelompok tani (gapoktan) dengan total 404 anggota aktif yang terorganisir secara hukum.
Ekspansi bertahap yang terukur: dimulai dengan penanaman 10 hektare (Mei–September 2026), dilanjutkan dengan target fase kedua sebesar 50 hektare, hingga mencapai sasaran penuh 100 hektare pada tahun 2027.
Produktivitas tinggi: dengan target panen mencapai 10–17 ton per hektare, kawasan ini diproyeksikan menjadi pilar penyokong stok jagung nasional.
Sinergi Akademis dan Industri: Menjamin Hulu hingga Hilir
Kemandirian pangan tidak akan bertahan lama tanpa kepastian pasar. GAN memahami dilema klasik petani, di mana harga jatuh saat panen raya. Oleh karena itu, kolaborasi strategis dibangun untuk mengamankan seluruh rantai nilai.
Di Bandung Barat, GAN bekerja sama dengan universitas untuk mengkaji sorgum sebagai pakan ternak berkualitas tinggi. Inisiatif ini bukan sekadar riset, melainkan dukungan langsung bagi intensifikasi sapi perah dan produksi susu.
Langkah ini secara langsung menyokong program nasional “Makan Bergizi Gratis” sebagai pilar Asta Cita, guna menjamin suplai susu berkualitas bagi anak-anak bangsa.
Keberlanjutan ekonomi petani juga dijamin melalui kerja sama dengan PT Permata Boga Sejahtera sebagai off-taker (penjamin pasar). Kolaborasi ini memberikan kepastian harga dan serapan hasil panen, sehingga petani dapat fokus pada produktivitas tanpa dihantui ketidakpastian pasar.
Permohonan “Satu Musim”: Investasi untuk Kemandirian Permanen
Dikatakan Burhanuddin, GAN tidak hadir untuk meminta bantuan sosial, melainkan menawarkan sebuah bukti konsep yang siap diakselerasi. Dukungan dari Kementerian Pertanian menjadi bahan bakar bagi mesin kemandirian yang telah siap bekerja.
Permohonan dukungan teknis meliputi intervensi benih dan nutrisi berupa bantuan benih jagung hibrida serta alokasi pupuk subsidi NPK dengan perhitungan matang: 1.000 sak untuk 10 hektare pertama dan 5.000 sak untuk fase 50 hektare berikutnya.
Pendampingan lapangan melalui dua orang penyuluh pertanian lapangan akan memastikan standar teknis tetap terjaga.
Sementara itu, dukungan mekanisasi berupa pinjam pakai alsintan mencakup tiga unit traktor R4, lima unit corn planter, dan lima unit corn sheller untuk meningkatkan efisiensi kerja.
Inilah proposal kerja sama yang berani demi masa depan: “Kasih kami satu musim, Pak Menteri. Musim depan, insya Allah kami mandiri.”
Masa Depan yang Kita Tanam Hari Ini
Menurut Muhammad Burhanuddin, visi besar Indonesia Emas dan kedaulatan pangan Asta Cita memerlukan lebih dari sekadar kebijakan; ia membutuhkan kemitraan strategis antara pemerintah yang visioner dan elemen masyarakat yang berani berkeringat di lapangan.
“Apa yang dibuktikan oleh GAN—mulai dari sistem ekonomi sirkular di kolong tol hingga lumbung jagung di Banten—menunjukkan bahwa solusi nyata itu ada dan dapat dikembangkan,” ucapnya.
Kata dia, jika kolong tol dan lahan tidur dapat diubah menjadi sumber kehidupan dan gizi bagi anak bangsa, maka tidak ada lagi alasan untuk ragu. Tantangan sesungguhnya bukanlah kurangnya lahan, melainkan sejauh mana kita berani berkolaborasi.
“Saatnya menanam hari ini untuk memanen kejayaan Indonesia di masa depan. Menuju Indonesia Emas,” pungkasnya.
Redaksi









