IKA Unhas: Dari Jejaring Alumni Menuju Kekuatan Perubahan

  • Whatsapp
Baharuddin Solongi (Wakil Ketua IKA FISIP Unhas)

Oleh : Baharuddin Solongi
(Wakil Ketua IKA FISIP Unhas)

PELAKITA.ID – Insya Allah, akan digelar Musyawarah Besar Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) pada tanggal 1 – 3 Mei 2026 di Hotel Fourpoints by Sheraton Makassar. Salah satu agendanya adalah memilih Ketua Umum Pengurus Pusatnya untuk satu periode berikutnya.

Di tengah krisis kepercayaan publik terhadap banyak institusi sosial, satu hal justru diam-diam menguat: peran strategis komunitas alumni.

Bukan sekadar ruang temu kangen, organisasi alumni hari ini dituntut menjadi kekuatan nyata, menghubungkan ilmu, jejaring, dan pengaruh untuk menjawab persoalan bangsa.

Dalam konteks itu, langkah Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin di bawah kepemimpinan Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman layak dibaca sebagai arah baru yang menjanjikan.

Kepemimpinan tidak hanya soal retorika, tetapi tentang kemampuan menggerakkan.

Di sinilah letak pembeda. IKA Unhas tidak lagi sekadar hadir sebagai simbol kebanggaan almamater, melainkan mulai menjelma menjadi platform kolaborasi yang hidup.

Konsolidasi alumni lintas fakultas dan daerah menunjukkan bahwa energi kolektif itu nyata, dan siap diarahkan untuk kepentingan yang lebih besar.

Yang menarik, orientasi organisasi ini tampak bergerak dari “kegiatan seremonial” menuju “dampak substantif”. Alumni didorong untuk kembali mengambil peran dalam sektor-sektor strategis: pertanian, pangan, kewirausahaan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Ini bukan kebetulan, melainkan refleksi dari kepemimpinan yang memahami bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan mengelola sumber daya riil, bukan sekadar wacana.

Lebih jauh, relasi antara alumni dan kampus juga mengalami redefinisi. Universitas Hasanuddin tidak lagi berdiri sendiri sebagai menara gading, tetapi diperkuat oleh jejaring alumninya sebagai “extended ecosystem”.

Di sinilah seharusnya perguruan tinggi modern bergerak: membangun ekosistem pengetahuan yang hidup, adaptif, dan berdaya saing global.

Namun, capaian ini tidak boleh membuat kita cepat puas. Tantangan berikutnya justru lebih kompleks: bagaimana memastikan bahwa energi besar ini tidak terkonsentrasi pada segelintir elite, melainkan mengalir hingga ke akar, ke alumni di daerah, ke generasi muda, dan ke mereka yang belum tersentuh jejaring kuat.

Organisasi alumni akan diuji bukan pada seberapa besar panggungnya, tetapi pada seberapa luas dampaknya.

Di titik ini, IKA Unhas memiliki peluang historis. Jika konsolidasi ini terus dijaga, profesionalisme organisasi diperkuat, dan keberpihakan pada kepentingan publik tetap menjadi kompas utama, maka IKA Unhas bisa melampaui peran tradisionalnya.

Ia dapat menjadi model nasional tentang bagaimana alumni berkontribusi secara konkret terhadap pembangunan, bukan hanya sebagai individu sukses, tetapi sebagai kekuatan kolektif yang terorganisir.

Indonesia membutuhkan lebih banyak simpul-simpul perubahan seperti ini.

Jika arah ini konsisten, IKA Unhas tidak hanya akan membanggakan alumninya, tetapi juga memberi harapan bahwa dari kampus, lahir jejaring yang mampu menggerakkan bangsa.

Olehnya itu, kita sangat berharap, setelah sukses pada periode pertama, Bapak Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, berkenan melanjutkan baktinya, memimpin PP IKA Unhas periode kedua. Wassalam