- Dr. Tarunamulia memberikan kritik tajam: “Banyak tambak dibangun bukan untuk produksi, melainkan sebagai cara mengklaim lahan.” Akibatnya, terjadi pemborosan ruang yang masif; lahan yang dikonversi hanya menghasilkan 15–50 kg udang per 10 hektare per tahun.
- Dalam perspektif Blue Food, peningkatan produksi nasional tidak bisa lagi bertumpu pada ekspansi lahan yang merusak, melainkan pada intensifikasi berbasis ekosistem.
PELAKITA.ID – Realitas budidaya udang di Indonesia saat ini berada dalam kondisi “paradoks produktivitas.” Dr. Tarunamulia (Peneliti BRIN) mencatat realitas pahit di Berau, Kalimantan Timur—wilayah yang memegang 15% dari total luas mangrove dunia.
Meski secara ekologis merupakan aset Blue Carbon yang vital, sekitar 20% ekosistem ini telah terkonversi menjadi tambak dengan produktivitas yang menyedihkan.
Dr. Tarunamulia memberikan kritik tajam: “Banyak tambak dibangun bukan untuk produksi, melainkan sebagai cara mengklaim lahan.”
Akibatnya, terjadi pemborosan ruang yang masif; lahan yang dikonversi hanya menghasilkan 15–50 kg udang per 10 hektare per tahun.
Dalam perspektif Blue Food, peningkatan produksi nasional tidak bisa lagi bertumpu pada ekspansi lahan yang merusak, melainkan pada intensifikasi berbasis ekosistem.
Pemetaan Masalah: Mengapa Tambak Kita “Sakit”?
Rendahnya performa budidaya di Sulawesi Selatan bukan sekadar persoalan bibit, melainkan akumulasi kegagalan sistemik yang bersifat teknis maupun struktural:
Masalah Teknis & Biofisik:
Kegagalan Konstruksi: Kesalahan fundamental pada desain pintu air menyumbang 70% kegagalan produksi di lapangan.
Tanah Sulfat Masam (Acid Sulfate Soil): Kondisi tanah yang jika teroksidasi menghasilkan pH ekstrem. Solusi bukan sekadar pengapuran masif, melainkan remediasi dan pemupukan berimbang yang konsisten.
Biosekuriti & Penurunan Daya Dukung: Degradasi ekosistem pesisir menghilangkan filter alami, memicu kerentanan terhadap patogen.
Masalah Struktural & Tata Kelola:
Legalitas & Tata Ruang: Sekitar 41% tambak nasional menghadapi konflik kesesuaian ruang (berada di kawasan lindung), dan hanya 16% petambak yang memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB).
Fragmentasi Kebijakan: Ketidaksinkronan regulasi, mulai dari izin genset hingga hambatan distribusi pupuk subsidi bagi petambak.
Risiko Pasar: Industri kita terjebak dalam ketergantungan ekspor ke Amerika Serikat (70%), yang membuat sektor ini sangat rentan terhadap guncangan pasar global seperti kebijakan antidumping atau standar food safety.
Dr. Saenong (Peneliti UMI) menekankan perlunya perubahan paradigma dari diskusi “dari hotel ke hotel” menjadi aksi nyata “dari pematang ke pematang.”
Dia memberikan autokritik keras melalui kasus di Jeneponto: akademisi dengan gelar tinggi sering kali gagal mengelola tambak, sementara praktisi lapangan mampu memproduksi ratusan ton.
Hal ini diperkuat oleh pengakuan inklusif Prof. Mahatma Lanuru (Dekan FIKP UNHAS) bahwa tambak yang dikelola kampus pun mengalami kegagalan.
Oleh karena itu, industri memerlukan Audit Kegagalan Ilmiah (Scientific Failure Analysis) sebagai dasar investasi baru.

Urgensi Mangrove: Bukan Sekadar Penyangga, Tapi Jantung Produksi
Berdasarkan perspektif Prof. Yusri Karim dan Dr. Muhammad Ilyas, mangrove harus dipandang sebagai infrastruktur biologis yang menggerakkan Ecosystem Approach to Aquaculture (EAA).
Biofilter Alami: Menyerap polutan nitrogen dan fosfor dari sisa pakan untuk menjaga stabilitas kualitas air.
Penyangga Kualitas Air: Mengatur fluktuasi parameter lingkungan agar tetap dalam batas toleransi fisiologis udang.
Penekan Patogen: Senyawa bioaktif alami dari serasah daun mangrove terbukti secara ilmiah mampu menekan pertumbuhan bakteri patogen yang merugikan.
Sumber Nutrien & Karbon: Serasah mangrove menyediakan pakan alami yang memperkuat imunitas udang.
Potensi Sulawesi Selatan: Raksasa yang Perlu Ditata Ulang
Sulawesi Selatan, khususnya sentra seperti Pinrang dan Barru, memiliki modalitas untuk menjadi motor utama industri udang. Namun, kita menghadapi tantangan efisiensi yang nyata: secara nasional, tambak intensif yang hanya mencakup 3% luas lahan mampu menyumbang hampir 90% total produksi.
Ini adalah sinyal kuat bahwa strategi masa depan haruslah intensifikasi berkelanjutan, bukan ekstensifikasi tradisional.
Prof. Andi Tamsil (Ketua SCI) menyoroti celah pasar di China yang mencapai 1 juta ton per tahun. Untuk menangkap peluang ini tanpa terjebak risiko seperti di pasar AS, Sulsel harus memperbaiki standar keamanan pangan (food safety) dan ketertelusuran (traceability) untuk menghasilkan produk premium.
Aquaculture specialist Bluie Forests, Syafriman Ali menawarkan perubahan cara pandang dari pengelolaan tambak berbasis petak menjadi berbasis sistem. Integrasi mangrove dalam satu ekosistem tambak diyakini dapat meningkatkan efisiensi, memperbaiki kualitas lingkungan, dan menekan biaya produksi.
Rekomendasi Solusi: Model “Hibrid” dan Teknologi Cerdas
Strategi pemulihan harus menggabungkan ketepatan sains dengan efisiensi teknologi:
- Model Silvofishery (Restorasi): Diterapkan pada kawasan yang telah rusak parah dengan proporsi 80% restorasi mangrove dan 20% budidaya intensif terbatas.
- Model Intensifikasi Berwawasan Lingkungan: Pada tambak produktif, wajib menyediakan buffer mangrove seluas 20-50% dari total area sebagai sistem pendukung kehidupan.
- Smart Aquaculture: Implementasi IoT dan AI untuk pemantauan kualitas air real-time serta efisiensi pakan guna menekan limbah nutrisi di pesisir.
- Revitalisasi Klaster (Model Barru): Melalui proyek percontohan seluas 10–20 hektare pada tahun pertama, yang akan diperluas menjadi ratusan hektare dalam 2-3 tahun. Fokus pada pembangunan hatchery lokal dan zona sedimentasi.
- Nursery Phase (Penggelondongan): Penggunaan sistem “Baby Box” untuk memperkuat benih melewati fase kritis sebelum ditebar ke kolam utama, guna menekan angka mortalitas secara signifikan.
Program Aksi dan Kolaborasi Multipihak
Keberlanjutan industri membutuhkan sinkronisasi peran melalui platform kolaborasi:
| Aktor | Peran Strategis |
| Pemerintah | Sinkronisasi regulasi lintas kementerian, penyelarasan distribusi pupuk subsidi, dan penyederhanaan izin (NIB, PBG). |
| Akademisi | Hilirisasi riset, pendampingan teknis, dan melakukan Audit Kegagalan Ilmiah terhadap tambak-tambak yang gagal. |
| Petambak/Swasta | Penerapan Biosekuriti ketat, standar food safety global, dan adopsi teknologi Smart Farming. |
| Lembaga Non-Pemerintah | Penguatan kapasitas kelembagaan petambak (Pokdakan) dan pendampingan restorasi mangrove berbasis masyarakat. |
Dari Catatan Menuju Eksekusi
Masa depan industri udang Sulawesi Selatan bergantung pada keberanian kita untuk meninggalkan praktik spekulatif dan beralih ke pendekatan berbasis ekosistem.
Transformasi ini harus menempatkan petambak sebagai subjek utama pembangunan, didukung oleh sains yang membumi dan teknologi yang tepat guna.
Dengan menyinergikan kekuatan akademik UNHAS/UMI, kearifan lokal petambak, dan dukungan kebijakan pemerintah, Sulawesi Selatan berpotensi menjadi pemimpin pasar dunia melalui produk “Eco-Shrimp”.
Inilah jalan menuju kedaulatan pangan dan ekonomi biru yang sesungguhnya: di mana kesejahteraan manusia tumbuh bersama lestarnya alam.
___
Editor Denun









