Ucapan Duka dari Tolitoli untuk Ibunda Ketua BPW PISPI Sulsel Bahtiar Manadjeng

  • Whatsapp

PELAKITA.ID – Kabar duka datang dari Sulawesi Selatan. Ibunda tercinta dari Ketua Umum BPW Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Sulawesi Selatan, Ir. Bahtiar Manadjeng, S.P., yakni almarhumah Mineng Dg. Tasa’na binti Tonaisa, telah berpulang ke Sang Khalik.

Duka mendalam tidak hanya dirasakan oleh keluarga besar yang ditinggalkan, tetapi juga oleh para kolega, sahabat, dan mitra kerja di berbagai daerah. Salah satunya datang dari Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Tolitoli, H. Rustan Rewa.

Dalam pernyataannya, H. Rustan Rewa menyampaikan rasa belasungkawa yang tulus atas kepergian almarhumah.

Ia menilai sosok seorang ibu memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan perjalanan hidup seorang anak, termasuk dalam diri Bahtiar Manadjeng sebagai tokoh yang dikenal aktif dalam organisasi dan pembangunan.

“Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya ibunda dari saudara kami, Bapak Bahtiar Manadjeng ketua BPW PISPI Sulsel. Semoga almarhumah diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT, diampuni segala dosa-dosanya, serta diterima seluruh amal ibadahnya,” ujar H. Rustan Rewa yang juga alumni Pertanian Unhas.

Ia juga menyampaikan doa dan harapan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.

Menurutnya, kehilangan seorang ibu adalah duka yang sangat mendalam, namun juga menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai kasih sayang, ketulusan, dan pengabdian yang diwariskan dalam keluarga.

“Semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan dan keikhlasan. Kita semua mendoakan agar almarhumah husnul khatimah dan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya,” tambah pengurus KKSS Tolitoli itu.

Ucapan duka ini menjadi wujud empati dan solidaritas lintas daerah, yang memperlihatkan eratnya hubungan kemanusiaan di tengah berbagai peran dan tanggung jawab.

Kepergian almarhumah Mineng Dg. Tasa’na bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga kenangan akan kasih seorang ibu yang akan terus hidup dalam ingatan keluarga dan orang-orang terdekatnya.

“Semoga segala kebaikan yang telah ditanamkan semasa hidup menjadi amal jariyah yang terus mengalir. InsyaAllah, semoga kuburnya dilapangkan dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin.,” tutup Rustan Rewa.

Tentang Bahtiar Manajeng

Bahtiar Manadjeng—yang akrab disapa Batti—lahir pada 18 Agustus 1979 di Desa Waetuo, sebuah wilayah terpencil di Kecamatan Malangke Barat, Kabupaten Luwu Utara.

Batti berasal dari keluarga petani sederhana, pasangan Muhammad Arief Manadjeng (almarhum) dan Mineng Dg. Tasa’na, yang dikenal menanamkan nilai kerja keras dan ketekunan sejak dini.

Saat ini, Batti berdomisili di Maros, namun sebagian besar aktivitas profesionalnya berpusat di Kota Makassar.

Ia menjabat sebagai pimpinan wilayah Sulawesi dan Kalimantan di PT. Syngenta Seed Indonesia, perusahaan multinasional asal Swiss yang bergerak di bidang benih jagung dan produk perlindungan tanaman.

Kantornya berlokasi di Jalan Veteran Utara, Makassar.

Di luar kesibukan pekerjaan, Batti dikenal memiliki minat pada wisata kuliner dan traveling. Ia memegang prinsip hidup “Mimpi Diperjuangkan Bukan Dimimpikan (MDBD),” yang menjadi landasan dalam perjalanan karier dan kehidupannya.

Bersama sang istri, Sarinah Thamrin, ia dikaruniai tiga orang anak: Muhammad Fico Ali Manadjeng (14 tahun), Nabial Ibnu Radja Manadjeng (10 tahun), dan Faeezah Widad B. Manadjeng (4 tahun).

Ketertarikannya pada sektor pertanian mulai terbentuk sejak masa pendidikan tinggi. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMU Negeri 1 Masamba pada tahun 1997, ia melanjutkan studi di Jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin. Latar belakang akademik ini semakin memperkuat komitmennya dalam pengembangan sektor pertanian serta pemberdayaan petani dan masyarakat pedesaan.