Permana Yudiarso, Direktur Pemanfaatan Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil pada Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perilkanan setelah membaca berita Pelakita.ID terkait mendiang Gayatri Reksodihardjo -Lilley, mengaku sedih. Gayatri, berpulang pada Jumat, 14 November 2025.
“Ibu Gayatri adalah salah satu pejuang konservasi ikan dan laut Indonesia. Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam, namun juga warisan besar bagi dunia konservasi pesisir dan laut di Indonesia.”
Berikut testimoninya sebagaimana dibagikan untuk Pelakita.ID dan pembaca sekalian.
PELAKITA.ID – Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kami mengenal Ibu Gayatri secara intensif sejak 2013, ketika bertugas di Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar. Saat itu, diskusi kami banyak berfokus pada konservasi ikan capungan Banggai (Pterapogon kauderni).
Pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan kebijakan untuk Konferensi Negara Anggota CITES 2017, khususnya terkait pengaturan penangkapan ikan hias dari alam liar, pengembangan budi daya, dan tata kelola perdagangan internasional.
Sejak 2007, Amerika Serikat mengusulkan capungan Banggai masuk dalam Appendix II CITES. Namun Indonesia memilih menyusun Rencana Aksi Nasional Konservasi Ikan Capungan Banggai, dengan pendekatan pengelolaan lestari dan berbasis masyarakat.
Yayasan LINI yang dipimpin Ibu Gayatri memainkan peran penting dalam proses ini—mendorong konservasi yang tetap mampu memperkuat ekonomi masyarakat lokal.
LINI dan Komitmen yang Tak Pernah Padam
Komitmen Ibu Gayatri terhadap konservasi tidak hanya pada capungan Banggai. Beliau membangun Yayasan LINI sejak 2008, memperluas kerja hingga konservasi terumbu karang, gurita, serta pemberdayaan masyarakat pesisir.
Puncaknya adalah pendirian LINI Aquaculture Learning Center (LATC) di Desa Les, Kabupaten Buleleng, Bali, sejak 2015.
Desa Les menjadi contoh nyata bagaimana konservasi, budi daya, wisata berkelanjutan, dan pemberdayaan kelompok nelayan—termasuk istri nelayan—dapat berjalan berdampingan.
LATC menjadi “laboratorium alam” bagi budi daya capungan Banggai, karang, ikan badut (Amphiprion ocellaris), kima, dan spesies lain, sekaligus pusat pelatihan bagi KKP, BPSPL Denpasar, dan banyak lembaga lain.
Fasilitas yang lengkap, pendekatan yang inklusif, dan jejaring kolaborasi luas menjadikan LATC salah satu model terbaik konservasi berbasis masyarakat di Indonesia.
Kontribusi Semasa Pandemi: ICRG Bali
Pada masa COVID-19 tahun 2020, kerja sama kami semakin intens melalui program Indonesia Coral Reef Garden (ICRG) di Kabupaten Buleleng—salah satu dari lima lokasi prioritas program pemulihan ekonomi nasional (PEN).
Sebagai penanggung jawab wilayah, kami sangat terbantu oleh Ibu Gayatri dan tim LINI yang memastikan rehabilitasi terumbu karang berjalan efektif sekaligus membantu ketahanan ekonomi masyarakat pesisir yang terpuruk akibat pandemi.
Puncaknya, pada 2023 kawasan konservasi perairan di Buleleng akhirnya ditetapkan, setelah melalui proses panjang selama 12 tahun bersama para mitra lapangan.
Pengaturan Perdagangan Karang dan Ikan Hias
Kolaborasi kami berlanjut dalam penguatan tata kelola perdagangan karang dan ikan hias. Sejak KKP menerbitkan kebijakan Surat Angkut Jenis Ikan (SAJI) dan Surat Rekomendasi Jenis Ikan Dilindungi/Appendix CITES pada 2019, Ibu Gayatri sangat aktif membantu penyusunan pedoman lapangan serta pelatihan petugas untuk identifikasi spesies.
Dengan keterbatasan petugas BPSPL Denpasar, peran Yayasan LINI sangat krusial. Berkat pedoman tersebut, pemeriksaan karang dan ikan hias untuk ekspor dapat dilakukan lebih cepat, akurat, dan sesuai dokumen resmi.
Kolaborasi erat dengan eksportir, BKSDA, KLHK, Bea Cukai, BKIPM, asosiasi perdagangan, hingga LSM, sebagian besar terbangun melalui jembatan yang dibuat oleh beliau.
Warisan Terakhir: Mendorong Perdagangan Ikan Hias Berkelanjutan
Salah satu pekerjaan besar yang beliau tinggalkan ialah penguatan skema sertifikasi perdagangan ikan hias laut.
Melalui Marine Aquarium Project Indonesia (MAPI), beliau menginisiasi pendampingan pelaku usaha untuk menerapkan prinsip keberlanjutan dan memenuhi regulasi agar bisa memperoleh sertifikasi.
Saat berdiskusi dengan kami di Makassar mengenai implementasi di wilayah Sulawesi, kami langsung menyambut positif gagasan ini.
Hingga kini, baru dua perusahaan yang mengikuti skema tersebut, namun tekad beliau agar MAPI menjadi referensi nasional untuk sertifikasi produk ikan hias Indonesia yang diakui pasar global tetap menjadi harapan yang perlu dilanjutkan.
Selamat Jalan, Ibu Gayatri
Dedikasi dan komitmen Ibu Gayatri terhadap konservasi ikan dan laut Indonesia telah menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Semoga segala kerja baik beliau menjadi amal jariyah dan menjadi panduan bagi kami untuk melanjutkan perjuangan agar sumber daya ikan dan laut Indonesia terus memberi manfaat bagi nelayan dan masyarakat pesisir di seluruh tanah air.
___
Jakarta, 14 November 2025
