Gayatri Reksodihardjo-Lilley, Perempuan Pelestari Kelautan Indonesia untuk Dunia

  • Whatsapp
Selamat jalan Gayatri Reksodiharjo-Lilley (dok: Ilustrasi Pelakita.ID)

Gayatri memimpin inisiatif yang menempatkan nelayan, warga, kelompok rentan, sebagai aktor utama konservasi. Ia bekerja di desa-desa pesisir, melatih masyarakat untuk mengelola terumbu karang, mengambil keputusan, dan menjadi penjaga laut di tanah sendiri.

PELAKITA.ID – Ada nama yang sejak lama tinggal di ingatan penulis—nama yang pertama kali ditemukan dalam sebuah laporan lawas yang dibaca pada awal tahun 1990-an.

Saat itu, penulis baru saja menyelesaikan studi Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas tahun 1995. Berpindah dari kampus ke kampung-kampung pesisir di Taka Bonerate, belajar memahami dunia konservasi, dan menemukan sebuah dokumen EMDI Canada tentang potensi atol terbesar ketiga di dunia: Taka Bonerate.

Dalam laporan itu, di antara deretan peneliti, ilmuwan, dan pegiat konservasi, ada satu nama yang membuat penulis berhenti sejenak: Gayatri Reksodihardjo-Lilley.

Kala itu, Taka Bonerate baru saja ditetapkan sebagai Taman Nasional (1992). Nama Gayatri, bagi penulis, masih asing; namun bagi warga setempat, namanya sudah meerbak harum.

Bertahun-tahun kemudian, ketika penulis mulai sering berlayar ke Pulau Rajuni di Taka Boenarate, penulis mendengar sendiri betapa masyarakat menyebutnya dengan penuh kelembutan.

“Ibu Gayatri baik… perhatian sekali… ramah… dan mengerti kami.” Begitulah kata Haji Darwis, Pak Haya, dan Pak Coang—orang-orang Bajo yang penulis hormati di Rajuni.

Dari cerita merekalah penulis memahami betapa besarnya jasa Gayatri dalam memperkenalkan Taka Bonerate ke pentas dunia.

Ia bukan sekadar peneliti; ia adalah pembuka jalan yang membuat kawasan atol itu dilirik banyak akademisi, lembaga konservasi, hingga program-program internasional yang datang bertahun-tahun kemudian.

Ada penelisikannya yang mengungkap betapa praktik perikanan tak ramah lingkungan merebak saat itu di kawasan atol.

Penampakan kawasan Atol Taka Bonerate (sources: Internet)

Pembaca sekalian, kabar duka datang dari sahabat kami Yunaldi Yahya hari ini yang menyebut Ibu Gayatri wafat. Innalillahi wainnailaihi rajiun.

Bagi penulis, mengenang Gayatri adalah sekaligus mengenang sahabat-sahabat penulis sendiri yang kemudian menapaki jalur konservasi, terinspirasi dari spirit yang sama.

Nama-nama itu kini seperti mozaik kenangan: almarhum Ramli Malik, Boyke Lakaseru, Putu Widiastuty, Ivan Firdaus, Syafyuddin Yusuf—mereka yang berjuang dalam program WWF Indonesia Program pada era 90-an.

Ada pula kawan-kawan yang terlibat dalam Giant Clam Translocation Project di Taka Bonerate, sebuah inisiatif besar yang menandai babak baru konservasi kerang raksasa: Mas Kun Praseno, Andi Nurjaya Nurdin, Syafruddin Tara, Ahmad Madonk Thamrin, hingga Kemal Rahman Massi.

Penulis tahu, dari cerita banyak pihak, bahwa langkah-langkah besar melalui WWF dan LP3M Ujung Pandang saat itu tidak terlepas dari dorongan dan semangat yang ditaburkan oleh Ibu Gayatri.

Tahun lalu, penulis akhirnya bertemu langsung dengannya—sebuah momen yang terasa seperti menutup lingkaran panjang perjalanan dan hasrat untuk mendengar langsung ceritanya tentang Taka Bonerate Selayar, kawasan di mana penulis bekerja sejak tahun 1996 hingga 2003 tanpa sekalipun bersua dengannya.

Pertemuan itu terjadi dalam sebuah workshop Sustainable Fisheries Partnership (SFP) di Kota Makassar.

Penulis mengenalkan diri, bercerita tentang kondisi Taka Bonerate kini, tentang kenangan kerja-kerja WWF-IP, dan tentang LP3M yang aktif di kawasan itu pada era 90-an hingga 2000-an. Dia nampak antusias dan menyebut beberapa nama koleganya saat itu, Sufri Laude di LP3M Ujung Pandang, Pahir Halim hingga Burhan Mananring, juga Abu Bakar.

Momen bersua Gayatri memberik kesan, dia menerima cerita itu dengan antusiasme yang tidak dibuat-buat.

Ia mudah diajak berdiskusi, begitu hidup ketika berbicara tentang konservasi, dan memiliki kemampuan mendengar yang membuat lawan bicaranya merasa dihargai.

Penulis juga sempat mendengar langsung kisah-kisahnya tentang LINI Foundation, LSM lingkungan yang ia dirikan bersama sahabat-sahabat seperti Putu Widiastuti dan Yunaldi Yahya, kawan lama penulis ketika mengikuti pelatihan Field Manager tahun 1998.

“Kita atur waktu ya untuk Podcast di Pelakita,” ucapnya kala itu. Janji yang tidak sempat direalisasikan di tengah kesibukan kami.

Inspirasi untuk Indonesia

Di Indonesia yang kaya dengan ekosistem pesisir dan laut, sosok seperti Gayatri adalah anugerah.

Ia bekerja tidak hanya pada isu besar di atas kertas, tetapi pada detail paling kecil yang sering luput dari perhatian: ikan-ikan kecil langka seperti Banggai cardinalfish di Kepulauan Banggai—spesies mungil namun bernilai tinggi yang kelestariannya ia perjuangkan tanpa lelah.

Dedikasinya menjelma ke dalam program-program konkret: budidaya ikan hias berkelanjutan, pemberdayaan perempuan pesisir, restorasi terumbu karang, hingga pelatihan generasi muda.

Gayatri (ujung kiri) pada pertemuan terakhir dengannya di Kota Makassar (dok: Pelakita.ID)

Di banyak tempat, ia mewariskan bukan hanya ilmu, tetapi juga keyakinan bahwa konservasi adalah kerja kemanusiaan.

Kini, mengenang Gayatri Reksodihardjo-Lilley berarti mengenang gelombang kecil yang menjadi ombak besar dalam dunia konservasi Indonesia. Ia adalah pejuang yang bekerja dalam diam, tetapi gema kontribusinya masih terdengar luas.

Gayatri adalah seorang pakar konservasi kelautan yang mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk menjaga ekosistem pesisir Indonesia. Ia dikenal luas sebagai Pendiri dan Direktur Eksekutif Yayasan Alam Indonesia Lestari (LINI), organisasi berbasis di Bali yang fokus pada konservasi laut berbasis masyarakat.

Dalam banyak wawancara, Gayatri kerap menceritakan ketertarikannya pada biologi laut yang kemudian membawanya pada terumbu karang—dan dari sana ia memahami satu hal penting: bahwa konservasi tak pernah hanya tentang ekosistem; ia adalah kisah manusia, komunitas, dan kehidupan yang bertautan dengan laut.

Gayatri percaya bahwa sains harus turun ke tanah, ke pasir, ke desa-desa kecil tempat nelayan menggantungkan hidup. Ia percaya bahwa data tanpa manusia adalah angka yang sunyi.

Dedikasi Gayatri dapat dibaca melalui kerja-kerja yang ia bangun bersama komunitas:

Gayatri memimpin inisiatif yang menempatkan nelayan sebagai aktor utama konservasi. Ia bekerja di desa-desa pesisir, melatih masyarakat untuk mengelola terumbu karang, mengambil keputusan, dan menjadi penjaga laut di tanah sendiri.
Ia sering berkata: “Managing those resources means managing people.”

Di era ketika pengambilan ikan hias merusak ekosistem, LINI menghadirkan jalan baru — budidaya ikan badut, pembiakan Banggai cardinalfish, pelatihan teknis untuk nelayan dan perempuan pesisir. Upaya ini mengubah perilaku dan pola penghidupan ribuan keluarga.

Gayatri juga  turut memimpin pemasangan terumbu buatan—fish domes dan struktur restorasi—di Bali dan beberapa lokasi lainnya. Proyek-proyek ini membuktikan bahwa pemulihan ekosistem adalah kerja jangka panjang yang membutuhkan kesabaran dan pendampingan teknologi.

Ia sengaja menempatkan perempuan dan pemuda di garis depan. Di Desa Les, misalnya, perempuan-perempuan pesisir menjadi pelaku utama budidaya ikan hias, mandiri dan percaya diri, berkat pelatihan yang ia gagas.

Pengakuan Internasional

Dedikasinya mengantarkan Gayatri meraih OFI Award (2014), sebuah penghargaan prestisius dari Ornamental Fish International atas kontribusinya pada industri ikan hias dan konservasi laut global.

Pengaruh Gayatri terbaca jelas. Di Banggai, masyarakat yang dulu memanen ikan hias dengan sianida kini mengelola sumber daya mereka dengan pengetahuan baru. Di Les, Bali, budidaya ikan hias kini menjadi mata pencaharian perempuan nelayan. Di berbagai desa pesisir, anak-anak muda belajar, tumbuh, dan meneruskan apa yang ia mulai.

Ia bekerja dari yang kecil, dari spesies mungil bernilai tinggi seperti Banggai cardinalfish, dari keluarga nelayan yang rentan. Namun dari kerja-kerja kecil itu tumbuh perubahan besar.

Mengenang Gayatri Reksodihardjo-Lilley bukan sekadar mengingat seorang ilmuwan atau aktivis lingkungan. Yang kita kenang adalah seorang perempuan yang memadukan ilmu, empati, dan tindakan; yang merawat laut dengan cara merawat manusia.

Dalam dunia konservasi yang sering gaduh oleh wacana, Gayatri memilih jalan yang tenang—jalan yang bekerja di akar, bersama masyarakat.

Warisan itu akan terus hidup.
Di terumbu karang Bali.
Di cardinals kecil Banggai.
Di cerita nelayan Taka Bonerate.
Di organisasi yang ia bangun.
Dan di hati semua orang yang pernah bekerja bersamanya.

Selamat jalan, Ibu Pelestari Khazanah Laut Indonesia. Indonesia berterima kasih. Lautan kita berterima kasih.
Dan kami—yang pernah terinspirasi oleh jalan yang Ibu buka—akan terus melanjutkan nyala itu.

___
Kamaruddin Azis
Sorowako, 14 November 2025