Belajar Memahami Soekarno Saat Menemui Marhaen

  • Whatsapp
Ilustrasi

Dari sawah berlumpur itu lahirlah gagasan besar yang kelak disebut Marhaenisme — sebuah filsafat yang tumbuh dari bumi sendiri. Soekarno belajar dari Marhaen bahwa kemerdekaan sejati tidak lahir dari pidato-pidato di podium, tapi dari peluh rakyat yang bekerja tanpa pamrih.

PELAKITA.ID – Pagi itu, Bandung masih sejuk. Angin gunung turun lembut, membawa aroma tanah basah dan desir padi yang menunduk di sawah. Di antara kabut tipis, seorang lelaki muda bersepeda melintasi jalan pedesaan.

Bajunya sederhana, tapi sorot matanya menyala — mata seorang yang sedang mencari jawaban tentang bangsanya sendiri.

Lelaki itu Soekarno. Ia bukan tengah berkeliling untuk berpidato atau berorasi. Ia sedang mencari makna rakyat, mencari wajah sejati dari Indonesia yang ia impikan.

Di pinggir sawah kecil, pandangannya terhenti pada seorang petani yang tengah mencangkul. Punggungnya basah, tapi wajahnya tenang. Ada sesuatu yang memanggil dalam diam — bukan karena kemiskinannya, tapi karena martabat yang terpancar dari kesederhanaannya.

Soekarno menepikan sepedanya. Ia tidak memanggil petani itu dari jauh seperti seorang yang berkuasa. Ia turun ke sawah, menyingkap celananya, melangkah ke tanah berlumpur itu, dan menyapa dengan suara hangat,

“Saudara, boleh saya tahu siapa nama Anda?”

Petani itu tersenyum, mengangkat wajahnya yang teduh, dan menjawab pelan,

“Saya Marhaen.”

Percakapan itu sederhana, tapi sejarah mencatatnya sebagai perjumpaan dua dunia: dunia pemikir yang sedang mencari arah, dan dunia rakyat kecil yang menjadi sumber kebenaran yang nyata.

Soekarno bertanya:

“Tanah ini milik siapa?”
“Milik saya sendiri,” jawab Marhaen.
“Cangkul dan alat-alat ini milik siapa?”
“Milik saya juga.”
“Dan hasilnya?”
“Cukup untuk makan, untuk keluarga, tapi tidak lebih.”

Soekarno terdiam. Ia menatap wajah petani itu seperti menatap cermin bangsa. Di balik keringat yang menetes, ia melihat jiwa Indonesia: rakyat yang memiliki alat produksi, tapi tetap hidup pas-pasan; mandiri, tapi belum sejahtera; merdeka di lahir, tapi terjajah dalam sistem.

Pertemuan itu menggetarkan nurani Soekarno. Ia menyadari, bahwa rakyatnya bukanlah proletar yang kehilangan segalanya — mereka masih punya tanah, punya tenaga, punya harga diri. Yang mereka butuhkan hanyalah keadilan agar jerih payahnya tak dirampas.

Dari sawah berlumpur itu lahirlah gagasan besar yang kelak disebut Marhaenisme — sebuah filsafat yang tumbuh dari bumi sendiri. Soekarno belajar dari Marhaen bahwa kemerdekaan sejati tidak lahir dari pidato-pidato di podium, tapi dari peluh rakyat yang bekerja tanpa pamrih.

Ia belajar bahwa ideologi tidak harus diimpor dari buku-buku tebal di Eropa, tapi bisa ditemukan di ladang, di pelabuhan, di pasar — di tempat rakyat hidup dan berjuang. Ia belajar bahwa pemimpin sejati bukan yang menunggu rakyat datang kepadanya, tapi yang datang dan menyapa dengan kaki berlumur tanah.

Sejak hari itu, setiap kali Soekarno berbicara tentang “Marhaen”, yang ia maksud bukan hanya satu orang, melainkan setiap manusia kecil yang memanggul nasib besar bangsanya.

Marhaen adalah lambang dari rakyat yang tidak minta dikasihani, hanya ingin dihargai. Ia adalah simbol dari manusia yang hidup dari keringat sendiri, berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa kehilangan martabatnya.

Kini, di tengah hiruk-pikuk zaman modern, kisah itu terasa seperti bisikan masa lalu yang masih relevan. Kita sibuk membangun gedung tinggi, tapi sering lupa menengok sawah tempat ide besar itu dilahirkan. Kita membicarakan kemajuan, tapi lupa mendengar suara rakyat yang sederhana seperti Marhaen — suara yang dulu menuntun seorang Soekarno menemukan arah revolusi bangsa.

Barangkali, belajar menjadi Soekarno hari ini bukan berarti meniru pidatonya atau menegakkan tangannya di podium. Belajar menjadi Soekarno berarti turun ke sawah kehidupan, menyingsingkan celana, menatap wajah rakyat kecil, dan mendengar apa yang mereka rasakan.

Sebab di sanalah, seperti dulu di Bandung itu, kita akan menemukan bahwa Indonesia bukan sekadar nama sebuah negeri — ia adalah jiwa yang berdenyut di dada setiap Marhaen.

___
Muliadi Saleh

Esais Reflektif | Pemikir Peradaban | Penggerak Literasi