Proyek Tambak Udang Terpadu Senilai Rp7 Triliun Segera Dibangun di Waingapu

  • Whatsapp
Proyek tambak udang modern ini dirancang mencakup lahan seluas sekitar 2.000 hektare dengan nilai investasi mencapai Rp7 triliun. Pembangunannya ditargetkan rampung dalam waktu tiga tahun, namun pemerintah pusat dikabarkan meminta agar pelaksanaannya bisa dipercepat menjadi dua tahun. (dok: Istimewa)
  • KKP Siapkan 2.000 Hektare Lahan untuk Integrated Shrimp Farming di Sumba Timur
  • “Lahan yang digunakan adalah lahan tidak produktif. Kami memastikan tidak ada konversi hutan mangrove untuk tambak,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono.

WAINGAPU, PELAKITA.ID — Kabar besar datang dari ujung timur Pulau Sumba. Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) segera merealisasikan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Integrated Shrimp Farming (ISF) di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Proyek tambak udang modern ini dirancang mencakup lahan seluas sekitar 2.000 hektare dengan nilai investasi mencapai Rp7 triliun. Pembangunannya ditargetkan rampung dalam waktu tiga tahun, namun pemerintah pusat dikabarkan meminta agar pelaksanaannya bisa dipercepat menjadi dua tahun.

Menurut informasi dari KKP, kawasan budidaya udang terintegrasi ini akan dibangun di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai, di atas lahan negara yang dinilai tidak produktif.

Proyek ini merupakan bagian dari program nasional untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen udang terbesar dunia dengan sistem budidaya yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

“Kami ingin mengembangkan model tambak udang modern yang bisa menjadi percontohan nasional, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, dalam keterangan resminya saat meninjau lokasi di Waingapu.

KKP menyebut proyek ini akan mengintegrasikan seluruh rantai produksi — mulai dari hulu (pembenihan, pakan, dan infrastruktur) hingga hilir (pengolahan dan ekspor). Dengan sistem tersebut, diharapkan kawasan ini mampu menyerap ribuan tenaga kerja lokal, terutama dari masyarakat sekitar Sumba Timur.

Selain aspek ekonomi, proyek ini juga dirancang dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan. KKP menegaskan bahwa pembangunan tidak akan menyentuh kawasan mangrove dan akan menggunakan teknologi pengolahan air limbah modern agar tidak mencemari pesisir.

“Lahan yang digunakan adalah lahan tidak produktif. Kami memastikan tidak ada konversi hutan mangrove untuk tambak,” tegas Trenggono.

Pemerintah daerah Sumba Timur sendiri menyambut positif proyek besar ini. Selain membuka lapangan kerja baru, proyek ini diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus membuka akses pasar ekspor bagi komoditas unggulan perikanan NTT.

Jika proyek ini berjalan sesuai rencana, maka Waingapu akan menjadi sentra tambak udang modern pertama di kawasan timur Indonesia, menyusul model serupa yang lebih dulu dibangun di Kebumen, Jawa Tengah.

Dengan dukungan investasi jumbo dan komitmen pengembangan berkelanjutan, Waingapu bersiap menorehkan sejarah baru sebagai pusat industri udang terpadu terbesar di kawasan timur Indonesia.

Redaksi