PELAKITA.ID – Dua mahasiswa Kelautan Universitas Hasanuddin menjadi wakil Sulawesi Selatan di ajang bergengsi anak muda tentang iklim, yakni Local Conference of Children and Youth (LCOY) Indonesia 2025 pada 22–24 Agustus, serta Climate Justice Summit (CJS) 2025 pada 26–28 Agustus di Jakarta.
Kedua forum ini mempertemukan anak dan orang muda dari 32 provinsi di Indonesia, bersama beragam organisasi dan komunitas—mulai dari kelompok perempuan, masyarakat adat, petani, nelayan, buruh, penyandang disabilitas, hingga aktivis lingkungan.
Mereka duduk bersama, berdialog, dan merumuskan tuntutan agar kebijakan iklim di Indonesia lebih adil dan berpihak kepada masyarakat.
Dalam forum tersebut, peserta mendesak DPR RI dan DPD RI untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Keadilan Iklim. Tak hanya itu, mereka juga menekankan pentingnya keterlibatan bermakna (meaningful participation) anak muda dan masyarakat sipil dalam proses penentuan arah kebijakan iklim ke depan.
Bagi dua mahasiswa asal Sulawesi Selatan ini, kesempatan hadir di forum nasional bukan sekadar berbagi suara, melainkan juga membawa pesan nyata dari daerah. “Perubahan iklim dampaknya sudah sangat jelas di Sulsel, ini bukan lagi ancaman, tapi kenyataan.
Abrasi di pesisir, bencana hidrologi, cuaca yang kian sulit diprediksi, semuanya sudah kita rasakan langsung,” ungkap mereka.
Mereka juga menyoroti faktor-faktor lokal yang memperparah krisis, mulai dari maraknya PLTU, tambang ilegal, hingga persoalan pengelolaan sampah yang tak kunjung tuntas. “Semua ini menambah beban masyarakat yang paling rentan menghadapi dampak perubahan iklim,” tambahnya.
Partisipasi anak muda Sulsel dalam forum ini menjadi sinyal kuat bahwa generasi muda tidak tinggal diam. Mereka aktif mengingatkan bahwa kebijakan iklim bukan hanya urusan pemerintah, tetapi juga soal masa depan generasi yang akan hidup di bumi yang sama.
Penulis: Khoirul Zaman Dongoran
