Mengenal Danau Tempe: Ekosistem, Potensi, dan Ancamannya

  • Whatsapp
Suasana di Danau Tempe (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Danau Tempe terletak di jantung Provinsi Sulawesi Selatan dan menjadi bagian penting dari sistem perairan yang lebih luas. Kawasan ini merupakan bagian dari ekosistem Danau Tempe, yang mencakup wilayah seluas 789.700 hektare, membentang di enam kabupaten: Enrekang, Sidrap, Wajo, Soppeng, Bone, dan Maros.

Secara hidrologis, sistem danau ini dipengaruhi oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) Bila dari utara, DAS Walanae dari selatan, dan Tempe Depression di barat. Sementara di bagian timur, air mengalir keluar melalui DAS Cenranae menuju Teluk Bone, menjadikan wilayah ini bagian dari Wilayah Sungai Walanae–Cenranae.

Sistem Danau Tempe terdiri dari tiga danau utama—Tempe, Sidenreng, dan Buaya. Pada musim hujan, ketiganya menyatu menjadi danau besar, sedangkan saat kemarau air menyusut dan ketiganya kembali terpisah. Sungai Cenranae menjadi satu-satunya saluran keluar dari danau ini.

Dalam kondisi puncak hujan, luas permukaan air bisa mencapai lebih dari 40.000 hektare dengan kedalaman 1,5–9 meter, namun saat kekeringan ekstrem, danau ini bisa menyusut hingga di bawah 1.000 hektare, bahkan pernah hanya menyisakan 200 hektare pada tahun 1993, 1994, dan 1997.

Danau Tempe memiliki nilai ekologis, sosial, dan ekonomi yang tinggi. Dulu, danau ini dijuluki “mangkuk ikan Indonesia” karena pernah menghasilkan 50.000 ton ikan per tahun dan menjadi sentra perikanan air tawar nasional.

Hingga kini, sebagian besar penduduknya masih bergantung pada sektor pertanian dan perikanan, dengan lebih dari separuh tenaga kerja terserap dalam dua sektor ini.

Di sisi ekologis, danau ini penting sebagai habitat bagi burung-burung migran dari Australia dan Asia, termasuk jenis langka seperti Glassy Ibis dan Great Reed Warbler.

Selain itu, danau ini juga menjadi rumah bagi moluska dan ikan endemik. Tak heran jika kawasan ini pernah diusulkan menjadi Cagar Alam dan Ramsar Site sejak 1978.

Dalam Ancaman

Namun, ekosistem Danau Tempe sedang berada dalam ancaman serius. Kerusakan hutan di DAS Walanae dan Bila berdampak langsung terhadap banjir dan kekeringan, dua bencana yang terus bergantian muncul setiap tahun.

Berdasarkan citra Landsat tahun 2002, hutan yang tersisa hanya 15% dari total wilayah, jauh di bawah ambang minimal 30% sesuai UU Kehutanan. Akibatnya, lahan kritis mencapai lebih dari 170.000 hektare, dengan sebagian besar areanya rentan terhadap erosi berat dan sangat berat.

Kerusakan ini berdampak pada tingginya sedimentasi ke danau. Data selama dua dekade menunjukkan bahwa rata-rata sedimen yang masuk mencapai 519.000 m³ per tahun, sebagian besar dari Sungai Walanae.

Selain itu, kawasan riparian—hutan di sepanjang tepi sungai dan danau—telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian dan permukiman, memperparah erosi tebing sungai yang terjadi di banyak titik.

Masalah lain yang mengemuka adalah intrusi air laut di musim kemarau.

Survei tahun 1997 mencatat bahwa air asin dari Teluk Bone masuk hingga 25 km ke daratan melalui Sungai Cenranae, membuat air tidak layak dikonsumsi.

Ini diperparah oleh pencemaran air akibat limbah domestik yang dibuang langsung ke sungai dan danau, menyebabkan kadar BOD dan kandungan logam berat melebihi ambang batas aman, bahkan air danau tidak lagi layak konsumsi meski sudah dimasak.

Eutrofikasi juga terjadi akibat masuknya nutrien berlebih, yang menyebabkan pertumbuhan masif tanaman eceng gondok—jenis yang sebelumnya tidak ditemukan sebelum tahun 1950.

Dengan tekanan ekologis yang kian berat, masa depan Danau Tempe sebagai pusat keanekaragaman hayati, sumber air, dan penghidupan masyarakat lokal tergantung pada langkah konservasi terpadu dan pengelolaan DAS yang berkelanjutan.

(Dari Berbagai Sumber)