La Suga lahir pada 1953 di Pulau Batu Atas,, dan telah menetap di Selayar selama lebih dari 30 tahun. Ia sering datang ke Kakabia untuk berburu burung laut, yang oleh warga disebut “bebek laut”. “
PELAKITA.ID – Pernah mendengar nama Pulau Kakabia? Jika Anda melihat peta laut di bagian selatan Pulau Sulawesi, tepatnya di antara wilayah perairan Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan, di sanalah letaknya.
Pulau ini dikenal oleh masyarakat sekitar Bonerate hingga Pulau Madu, Kabupaten Kepulauan Selayar, sebagai pulau persinggahan yang kaya akan potensi alam.
Menurut La Suga, mantan Kepala Desa Pulau Madu di Kecamatan Pasi Lambena, Pulau Kakabia kerap dimanfaatkan oleh masyarakat asal Sulawesi Tenggara, khususnya dari wilayah Wakatobi. Pulau ini menjadi tempat singgah saat cuaca buruk, sekaligus lokasi berburu hasil laut.
La Suga sendiri lahir pada 1953 di Pulau Batu Atas, Wakatobi, dan telah menetap di Selayar selama lebih dari 30 tahun. Ia sering datang ke Kakabia untuk berburu burung laut, yang oleh warga disebut “bebek laut”. “
Rasanya seperti makan ikan,” ungkapnya, merujuk pada aroma amis dari burung yang memangsa ikan tersebut. Burung ini bahkan kerap menjadi mangsa burung lain yang lebih besar, disebut bamberangan. “Warnanya kekuning-kuningan, besar, dan bermulut panjang,” lanjutnya.
Pulau Kakabia dapat dicapai sekitar 4 jam perjalanan laut dari Pulau Kalao Toa. Dari Kalao Toa ke Pulau Jampea memakan waktu sekitar 10–12 jam, sementara dari Jampea ke ibu kota Benteng Selayar diperlukan sekitar 8 jam.
Pulau ini dikenal karena populasi burung berwarna putih-hitam yang berkumpul di pagi dan sore hari. Menurut La Suga, pasir dan kotoran burung di sana pernah dikumpulkan oleh warga Pulau Batu Atas untuk dijual ke Bali, meskipun kegiatan itu hanya terjadi sekali.
Burung-burung di Pulau Kakabia memangsa ikan terbang dengan paruh besar dan panjang. Namun, untuk naik ke daratan pulau ini sangat sulit karena dikelilingi batu cadas tajam.
Di bagian atas pulau, terdapat pohon tempat burung-burung bertengger. Daunnya bisa dimakan dan disebut kaubula oleh warga Batu Atas. Namun, banyak pendatang mengalami kecelakaan saat mencoba memanjat untuk mengambil anak burung karena dahan pohon tersebut sangat rapuh.
Selain burung, di sekitar Pulau Kakabia juga banyak ditemukan penyu sisik dan hamparan terumbu karang yang masih terjaga dengan baik. Di daratan pulau terdapat biawak, ular batu, tikus kemerah-merahan, dan kepiting kenari.
Luas pulau ini sekitar 9 hektare. Terdapat juga lubang batu yang menjadi penampung air hujan dan biasa dimanfaatkan oleh nelayan. Batu penyusunnya bukan batu kapur seperti di Pulau Selayar, melainkan batu cadas berwarna hitam—mirip batu gunung.
La Suga pernah terdampar selama tiga hari tiga malam di pulau ini karena ombak besar saat hendak kembali ke Pulau Batu Atas.
Siapa La Suga?
La Suga adalah mantan Kepala Desa Pulau Madu sejak 2004. Saya menemuinya di Kota Benteng, Selayar, pada Senin, 15 Maret 2010.
Ia telah menetap di Pulau Madu sejak 1977, dibawa oleh ayahnya, Hasan, yang dulu sering singgah di pulau tersebut saat berdagang ke Surabaya dan Gresik. Kini, ia menikah dengan Maryoga, perempuan setempat, dan setelah tidak menjabat sebagai kepala desa, ia aktif bertanam kelapa.
Pulau Madu dihuni sekitar 1.500 jiwa, mayoritas berasal dari Binongko, Batu Atas, dan Bonerate, dengan sekitar 700 pemilih terdaftar. Sebagian besar warganya adalah petani yang menanam kacang hijau, jagung, dan padi (meskipun lahannya terbatas).
Menurut Drs. Musytari, MM.Pub, Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Selayar yang pernah menjabat Camat Pasi Lambena dan mengunjungi daerah tersebut, nama Pulau Kakabia dulunya sering disebut oleh warga Sulawesi Tenggara sebagai “Kabi Kabia”.
Namun, nama resminya adalah Kakabia, yang disematkan oleh mantan Bupati Selayar sebelum Arifin Kammi, yakni Andi Palioi, yang bahkan datang langsung ke pulau tersebut dan memerintahkan pembangunan tugu. Nama “Kakabia” sendiri diyakini berasal dari singkatan “Kapal Kayu Bikinan Ara”.
Musytari yang menjabat camat Pasi Lambena pada 2005–2007 menyatakan pentingnya penegasan batas dan tata guna lahan pulau ini. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar pun telah bersurat ke Gubernur Sulawesi Selatan untuk menetapkan status administratif Pulau Kakabia, guna menghindari potensi konflik pemanfaatan antarwilayah maupun antardaerah lintas provinsi.
Benteng Selayar, 15 Maret 2010
