DPRD Sulsel proses Ranperda Pengelolaan Mangrove, Dr Amal: Layak secara akademik

  • Whatsapp
Para pembicara pada Dialog Publik Ranperda Pengelolaan Mangrove Sulawesi Selatan yang digelar Blue Forest, YKL, Jaring Nusa dan Mongabay (dok: Pelakita.ID)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Blue Forests atau Yayasan Hutan Biru, Yayasan Konservasi Laut Indonesia, Jaring Nusa dan Mongabay menggelar Diskusi Publik dengan tema Bersama Menguatkan Ranperda Pengelolaan dan Pengembangan Hutan Mangrove Sulawesi Selatan.

Acara berlangsung di Café Red Corner, Makassar, dan dihadiri perwakilan Dinas Kehutanan Sulsel, Guru Besar Kehutanan Unhas Prof Yusran Jusuf, tenaga ahli untuk Ranperda Mangrove Sulsel yaitu Dr Amal dari UNM, Kepala Bidang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil DKP Sulsel. Diskusi dipandu Wahyu Chandra dari Mongabay Indonesia.

Penjelasan tenaga ahli

Pembicara pertama tenaga ahli Ranperda, Dr Amal. Disebutkan Ranperda Pengelolaan Mangrove Sulsel ini istimewa sebab setelah bertahun-tahun berharap adanya aturan pengelolalaan, setelah meriset dan membaca problematika mangrove, baru tahun ini ‘gol’ untuk disiapkan jadi Perda.

“Tujuan Ranperda pengelolaan dan pengembangan hutan mangrove di Sulsel ini awalnya melalui Pak  Usman Lonta – anggota DPRD Sulsel,” katanya.

Amal yang telah meneliti mangrove bertahun-tahun di Sulawesi Selatan ini menemukan pada sekurangnya 10 kabupaten pesisir mangrove mengalami degradasi jumlah dan kualitas ekosistem. Dia menemukan situasi yang memburuk itu di Luwu Utara, Palopo hingga Sinjai.

“Hampir semua provinsi sudah punya Perda pengelolaan mangrove, Sulsel belum ada,” katanya.

Amal beruntung sebab ide dan harapannya ini bersambut. Komisi B DPRD Sulsel siap mengawal dan menyatakan komitmennya untuk membantu mengkomunikasikan urgensi Ranperda ini.

Meski demikian, Amal mengakui bahwa fokus pengelolaan mangrove ini perlu dibuatkan batasan. “Saran Pak Usman, bagaimana kalau hasil penelitian mangrove di pulau-pulau kecil, mengenai tantangan peluang pengelolaan, hutan produksi, kawasan silvofishery, budidaya, ecopreneurship,” katanya.

“Alhamdulillah, sudah masuk konsultasi publik dan sudah di tingkat Pansus, sudah ketuk palu untuk lanjut, akan ada pembahasan pasal demi pasal,” sebutnya.

Amal menyebut mangrove istimewa sebab mangrove adalah ekosistem hutan paling efektif menyimpan karbon. Daun lebat, bukan hanya daunnya tetapi serasa, sebagai penyumbang karbon, sebagai sumber makanan bagi satwa. Beberapa jenis ikan, udang merupakan penghuni ekosistem mangrove yang lebih penitng adalah dapat bertindak sebgaia penahan abrasi pantai.

Dia juga menyebut beberapa contoh pantai di Sulawesi Selatan yang mengalami abrasi setelah eksploitasi mangrove secara serampangan seperti di sekitar Pinrang, Sinjai, Barru.  “Setelah bencana tsunami Aceh, kita jadi sadar bahwa mangrove adalah peredam gelombang tsunami,” katanya.

Dia menyebut konversi ekosistem mangrove sebagai lahan tambak, jalan, pelabuhan dan kepentingan wisata adalah sumber masalah bagi keberadaan mangrove Sulawesi Selatan.

“Ini yang perlu digaris bawahi, ini yang sigmifikan dan dominan merusakan keberadaan mangrove kita,” ucapnya.  Secara akademik, dia menyebut Ranperda mangrove ini layak dan perlu diteruskan.

“Kami berharap bisa menghasillan Perda yang komprehensif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara filosofis, yurids dan dan diterima oleh masyarakat,” ujarnya sebelum mengelaborasi sasaran, ruang lingkup pengaturan dan pengelolaan mangrove berkelanjutan di depan puluhan peserta, dari kalangan media, LSM, ASN, Kelompok Konservasi Mangrove hingga mahasiswa.

Penelitian dan penilaian Dr Amal pada mangrove di Sulawesi Selatan dilakukan pada rentang tahun 2011, 2012 kemudian 2015.

“Studi kelayakan dan rehabilitasi dengan memanfaatkan hyperspectrum, pantulan spektrum, antara mangrove yang sehat dan sakit,” ujarnya.  Amal menyebut pembimbngnya yang asal Malaysia membawa alat pengecek bernama spektro radiometer dan dioperasikan di Suppa Pinrang,” sebut akademisi asal Luwu ini.

Dia juga menyebut kondisi mangrove di Sulawesi Selatan bagusnya diamati dari lautan sebab kadang kala terlihat baik dari daratan tetapi sesungguhnya banyak yang rusak.

“Kami pernah merekam kondisi mangrove dari pesisir Barru, Maros, Luwu, Kota Makassar, Takalar. Di Luwu, ada 20 titik yang diambil dari citra satelit,” sebut dosen Geografi UNM ini.

Amal menyebut kondisi pohon, substrat, perubahan lingkungan, menjadi amatannya terkait mangrove ini. Dia lalu menyebut jenis seperti Rhizophora, Avicennia, hingga Bruguera sebagai jenis-jenis mangrove.

 

Editor: K. Azis

Related posts