Anak Labakkang di Maybank, arti bagi Unhas dan Smansa Makassar

  • Whatsapp
Muhammad Husni Haji Siddah, kedua dari kanan, putra petambak Labakkang di puncak Maybank (dok: istuimewa)

PELAKITA.ID – Wow! Putra petani tambak asal Labakkang Pangkep ternyata sejak tahun lalu telah memimpin salah satu bank terkemuka di Asean sebagai Regional Director Maybank. Itu decak kagum saya saat menanyakan apakah benar Muhammad Husni H.S jadi hengkang ke bank asal Negeri Jiran itu.

“Betul Denun sejak Januari 2021,” jawabnya pendek via WA.

Bulan lalu, kawan sekelas di III Bio 4 SMA Negeri I Makassar (Smansa) itu mengabari saya kalau hendak pulang kampung ke Labakkang pekan kedua Januari 2022.  “Datang nah Denun.”

Read More

Husni, atau kami yang sekolah di Smansa biasa sapa Uceng itu adalah anak seorang petambak di Labakkang.

Kenangan bersama dia saat SMA adalah saat kawan sekelasnya ‘pura-pura lupa’ jam pelajaran dan melaju ke Labakkang demi sekarung udang dan sebaskom ikan bolu di tambak Haji Siddah, ayah Uceng. Nun lampau di tahun 80-an.

Saat SMA, Husni punya dua kesan tak terlupa di kawan-kawannya. Berkumis tebal – di usia muda dan penulis bertangan Rotring, untuk anda generasi 80-an Rotring adalah alat tulis dengan mata halus dan elok dipakai menulis indah.  Jika ada foto kelas, ramai-ramai, Husni yang paling mudah ditebak.

Husni, meski lahir dan besar di Labakkang namun orang tuanya paham persis bagaimana menyiapkan generasi.

Dia disekolahkan di SMP 4, lalu masuk SMA I Makassar sebelum melanjutkan pesan orang tuanya yang petambak masuk Perikanan Universitas Hasanuddin jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan.

Sebagai teman sekelas, kami pernah mencandai diri masing-masing sebagai ‘seteru kelas’, penulis masuk Kelautan dan dia masuk Perikanan, tapi tetap akur sampai kini.

Uceng (lihat kumisnya) di samping penulis, pada saat momen perpisahan kelas di Malino (dok: Denun)

Membaca jalan karir Husni, saya kira memberi makna tentang kesungguhan seorang ‘anak kampung’ mengikuti jenjang pendidikan, tentang konsistensi pada profesi, dan keterhubungan dengan kolega atau jejaring.

Saya sebut demikian sebab dia punya sikap terbuka untuk memanfaatkan media sosial dan ‘updated’. Saya hanya bilang hanya pandemi yang membatas gairah Husni untuk selalu guyub dengan kawan-kawan sealumni di Jakarta.

Karena itu, kami, kawan-kawannya dengan mudah saja untuk menyapa, mengontak dan mencandainya.

Saya ingat, tahun 2006, di bilangan Benhil, dia datang dengan kaki pincang karena terkilir ke kediaman M. Zulficar Mochtar, di situ dia menjemput saya, untuk diajak makan siang di daerah Setiabudi.

Jika tak keliru, ini pertemuan saya yang pertama. “Masih ingat sebutanta dulu di SMA? Komro,” katanya saat kami bertemu. Komro, Komar roso’, cara dia mencandai saya.

“Alumni Perikanan Unhas yang peduli pada anak Kelautan.” Batinku saat itu.

Pendek cerita, saya ingin menyatakan bahwa alumni-alumni Unhas, mereka yang lahir dan besar di kampung, yang punya kesungguhan untuk belajar dan menimba ilmu teknis dan non-teknis, eksakta dan non-eksakta kini kian banyak yang sukses serta bisa menjadi contoh akan kesungguhan menjadi ‘pembeda’ di palagan profesionalisme dan pengabdian pasca almamater.

Mereka setelah keluar dari kawah candradimuka Unhas, bisa meniti karir dengan pemaknaan: tak harus menjadi nelayan jika kuliah di Perikanan, tak harus menjadi pelaut jika kuliah di Kelautan, samudera pengabdian sungguh luas dan alumni Unhas bisa menjadi apa saja.

Membaca perjalanan perbankan Husni yang menghabiskan waktu 19 di  Bank Permata, dan sebelumnya pernah kerja di Bank Bali, lalu ke Bank Universal, memberi kita kesan bahwa dia telah meniti karir, jenjang dan menunjukkan cinta organisasi hingga nhyaris 20 tahun.

Hinggapnya di Maybank tentu bukan dosa apalagi perlu disesali tetapi menjadi area pengabdian baru dan saya kira, sungguh beruntunglah Maybank  bisa menyesap pengalaman Husni yang pernah menjadi Head Syariah Network Bank Permata itu.

Bagi saya, dan kawan-kawan semasa di Smansa Makassar, kehadiran Husni bersama kami sejak 2009  dimana tahun ini kami reuni pertama di Makassar menandai bahwa dia bukan buih yang sendirian di lautan luas.

Penulis dan kepala Kesbangpol Kota Makassar, Drs Zainal Ibrahim, mengapir Husni. Sesama Teman kelas di III Bio 4 (dok: Denun)

Dia tetap terhubung dan tetap menjalin silaturahmi. Bukankah itu hakikat kemanusiaan kita yang terus terhubung habblulminannas?

Oh iya, secuil informasi tentang Maybank jika pembaca agak blank. Maybank, asal nama Malayan Banking Berhad adalah bank universal Malaysia, dengan “pasar utama” operasi di Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

Menurut laporan Brand Finance 2020, Maybank adalah bank paling utama di Malaysia, Maybank teratas keempat di antara negara-negara Asean, dan peringkat ke-70 dalam merek bank paling ‘bernilai’ di dunia.

 

Tamarunang, 7/1/2022

 

*Kamarudidn Azis | Kelautan-UH 89*

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *