Harga cabai Mallawa terjun bebas, Cawi: Semoga besok meroket

  • Whatsapp
Ziaulhaq Nawawi (kiri)

DPRD Makassar

Harga cabai dari Mallawa Maros terjun bebas hingga 3 ribu per kilo. Bandingkan dengan harga sebelumnya yang mencapai 50 ribu per kilo dalam bulan Juni 2021.

PELAKITA.ID – Ziaulhaq Nawawi nampak geram. Jeruk manis kuning menggoda di tangannya tak digubris. Dia bersungut. Dia bahkan menampik saat ditawari semangkok coto dan lebih memilih menumpahkan suasana batinnya.

Read More

Pria disapa Cawi itu adalah pendiri yayasan Eco Natural. LSM berbasis di Selayar yang sejak tahun 2000-an mengurusi isu-isu pemberdayaan masyarakat, dari pesisir Tanadoang, pulau-pulau Pangkep hingga kaki gunung karst Maros.

Di Maros pula dia sedang memfasilitasi pengembangan lokasi ekoturisme berbasis desa, sungai dan lanskap gunung menjadi alasan mengapa dia antusias membantu salah satu desa di Mallawa itu untuk berkembang sebagai destinasi wisata.

Tapi kali ini dia curhat tentang harga cabai merah asal Mallawa yang melemah.

Praktisi UMKM, penggiat LSM sekaligus motivator pemberdayaan masyarakat itu sungguh geregetan pada ketiadaan inisiatif pelaku usaha atau Pemerintah untuk pasang badan saat harga cabai merah terjun bebas.

“Hancur petani Mallawa. masa’ harga cabai merah besar dari sana hanya 3 ribu per kilo,” sungutnya.

“Tidak ada yang peduli kanda. Produksi cabai merah di Mallawa  nyaris tak ada harga sama sekali. Daripada membusuk, atau mengering tanpa harga, saya coba borong 500 kilogram untuk dikirim ke Selayar dan 600 kilo untuk dibawa ke Makassar,” katanya meneruskan obrolan.

Untuk itu, dia menyebut harus merogoh kocek hingga 5 juta demi apa yang disebutnya ‘mendistribusikan’ jerih payah petani cabai merah ke wilayah lain.

“Harga cabai merah betul-betul drop, kanda. Daripada tak terserap, petani rugi, saya kirim dan bilang ke keluarga di Selayar, terima dan bagi-bagi saja kalau memang tidak ada yang berminat,” katanya saat ditemui di Warung Coto Sunggu 2, Sungguminasa, Senin, 24 Agustus 2021.

Yang membuat dia geram karena beberapa waktu lalu Pemerintah, sejak Januari hingga Juni 2021, telah mengimpor cabai merah hingga 27 juta ton senilai Rp8,6 trillun!

Pada rentang bulan-bulan itu, kita juga memperoleh infomasi bahwa hingga Juni 2021, harga cabai merah besar mencapai Rp40 hingga Rp50 ribu perkilo di pasar-pasar seperti Pasar Sentral Palakka Bone, Sinjai, Sengkang! Gilak!

Harga sebelumnya dijual dengan harga 20 ribu per kilo. Harga hingga 50 ribu itu telah bertahan beberapa pekan.

Mengapa bisa semahal itu, dan bisa sebegitu cepat berubah?

Mengapa di sisi lain, ‘nasib berbeda’ atau prahara yang dihadapi petani cabai merah di Mallawa ini seperti tak terpantau atau setidaknya ada aksi bersama mengadvokasi nestapa mereka?

Pelakita.ID memperoleh informasi bahwa itu karena kurangnya pasokan dari Kabupaten Sidrap. Pasokan dari Mallawa Kabupaten Maros rupanya tak memadai. Sidrap tak lancar karena banyak lahan cabai merah kena banjir.

Hingga Juni 2021, bukan hanya cabai merah, cabai rawit pun naik sebesar Rp 5 ribu rupiah per kilo dari harga Rp 20 ribu menjadi Rp 25 ribu per kilonya.

Tapi dua pekan terakhir, harga sungguh terjun bebas. Berton-ton cabai merah yang telah dipanen malah jadi beban,

“Untung kalau ada yang hargai hingga 5 ribu/kilo kanda. Dibeli tiga ribu rupiah pun petani sudah mau jual, dari pada membusuk?” sungut Cawi.

Cawi tahu bahwa bisa jadi impor Pemerintah itu demi memenuhi kebutuhan industri, untuk dijadikan sebagai bumbu masakan atau untuk dijadikan sebagai pewarna makanan.

“Tapi ayolah, masa’ kita tega melihat petani cabai di Mallawa itu merana karena komoditi tak terserap pasar? Apalagi jika disandingkan dengan fakta bahwa Pemerintah lebih memilih impor ketimbang menyelamatkan produksi dalam negeri?” pungkasnya.

Pelakita.ID melongok ke website hargapangan.id, web Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, tercatat dari tanggal 23 Agustus 2021, harga cabai merah mencapai Rp. 10.700 per kilogram, lalu naik lebih 50 persen pada tanggal 24 Agustus 2021 menjadi 16.450 bertahan hingga tanggal 25 Agustus 2021.

Di Mallawa Maros, sepertinya masih belum beranjak naik. Setidaknya saat melihat wajah Cawi yang menggerutu di Warung Coto Sunggu 2 itu. Semoga besok, bisa membaik, melesat naik.

“Yang kami bisa lakukan saat ini adalah mengajak Komunitas CBE (Community Based Education) Sulsel yang dimotori Ibu Sri Wahyuningrum dan Ayah Ubaidillah. Mereka ikut membantu marketing penjualan cabe,” ungkap Caiw.

“Jadi, di Makassar itu kita berhasil menjual 600 kilogram cabe, kita kirim ke Selayar 500 kilogram. Harapannya, hasilnya ini akan kita pakai lagi membeli cabe warga. Sampai di situ, kita sudah senang melihat petani menyunggung senyum,” tambahnya.

“Semoga besok bisa meroket,” seru Cawi sebelum pria itu bergeser untuk bersiap ke Pulau Bontosua.

Dia ke sana untuk menawarkan pemanfaatan ruang pulau yang sempit sebagai alternatif penyedia sayur mayur sistem aquaponik.

Sementara itu, pakar agribisnis Universitas Muslim Indonesia, Dr Sudirman Numba menyebut apa yang dialami petani cabai merah di Mallawa itu bukan hal baru. Perlu diantisipasi dengan cara yang pas agar bisa terserap pasar.

Kan tidak semua lokasi punya lahan cabai merah, jadi logikanya pasti akan butuh.  Yang kami lakukan saat ini adalah menyiapkan semacam aplikasi Panen Mart untuk memudahkan pasokan ke lokasi lain,” kata pria yang juga giat mendorong tumbuhnya agribisnis palawija hingga komoditi ekspor sebagai kakao ini.

“Kita memang harus berbuat yang terbaik untuk petani kita, kasihan kalau ada panen di Maros sementara di Parepare kekurangan stok,” sebutnya. Dr Sudirman menyarankan agar ada upaya pihak ketiga yang bisa mendekatkan produk petani ke konsumen.

“Caranya dengan memotong rantai tata niaga. Apalagi cabai termasuk komoditas pangan yang strategis dan masuk dalam komoditas ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.

 

Editor: K. Azis

Related posts