PELAKITA.ID – Melaporkan isu iklim memiliki peluang sekaligus tantangan tersendiri. Berikut beberapa panduan yang dirilis oleh coveringclimatenow.org untuk memaksimalkan dampak liputan Anda.
1. Kenali Audiens Anda
Semakin banyak orang memahami bahwa perubahan iklim itu nyata, sedang terjadi saat ini, dan sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia. Namun, tingkat pemahaman tersebut sangat beragam.
Memahami keyakinan, pengetahuan, dan perasaan audiens terhadap perubahan iklim akan membantu jurnalis menyajikan cerita yang relevan dan membangun kepercayaan.
Temui audiens di titik pemahaman mereka saat ini, lalu terus dengarkan bagaimana pandangan mereka berkembang seiring meningkatnya paparan terhadap isu iklim.
2. Hubungkan Cerita dengan Perubahan Iklim
Perubahan iklim terutama disebabkan oleh pembakaran minyak, gas, dan batu bara, yang memicu gelombang panas ekstrem, kekeringan, badai yang lebih intens, serta kenaikan permukaan laut. Fakta-fakta mendasar ini sering kali absen dalam pemberitaan sehingga audiens tidak mendapatkan gambaran utuh.
Karena itu, penting untuk selalu menghubungkan suatu peristiwa dengan penyebab maupun dampak perubahan iklim. Hubungan tersebut tidak harus mendominasi seluruh cerita; sering kali beberapa kalimat yang tepat sudah cukup untuk memberikan konteks yang diperlukan.
3. Ingat, Iklim adalah Cerita untuk Semua Rubrik
Perubahan iklim adalah salah satu isu paling menentukan di zaman kita.
Kenaikan suhu global memengaruhi hampir semua aspek kehidupan dan, pada saat yang sama, dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, keputusan bisnis, dinamika sosial, dan berbagai faktor lainnya.
Karena itu, liputan iklim tidak boleh dibatasi hanya pada rubrik sains atau cuaca. Apa pun bidang liputan Anda—politik, ekonomi, kesehatan, pendidikan, pangan, perumahan, keamanan nasional, hiburan, atau olahraga—selalu ada keterkaitan dengan isu iklim yang layak dieksplorasi.
4. Manusiakan dan Lokalkan Cerita
Perubahan iklim memang merupakan isu global yang sangat besar. Namun pada dasarnya, ini adalah cerita tentang manusia dan kehidupan sehari-hari mereka.
Audiens ingin membaca kisah yang dekat dengan pengalaman nyata, termasuk bagaimana masyarakat merasakan dampak perubahan iklim dan apa yang mereka lakukan untuk menghadapinya.
Karena dampak iklim berbeda-beda di setiap wilayah, jurnalis perlu menjelaskan bagaimana perubahan iklim hadir secara spesifik dalam konteks lokal.
5. Tempatkan Keadilan Iklim di Pusat Liputan
Kelompok masyarakat yang termarjinalkan umumnya menjadi pihak pertama dan paling berat terdampak oleh gelombang panas, banjir, serta berbagai bencana terkait iklim. Namun suara dan pengalaman mereka sering kali tidak mendapat ruang yang cukup dalam pemberitaan.
Liputan iklim yang baik tidak hanya menyoroti kerentanan mereka, tetapi juga mengakui bahwa banyak komunitas tersebut menjadi pelopor solusi dan inovasi dalam menghadapi krisis iklim.
Masyarakat adat, misalnya, telah lama menjadi penjaga lingkungan dan memiliki pengetahuan penting untuk mendukung solusi iklim yang berkelanjutan.
6. Pahami Sainsnya, tetapi Gunakan Bahasa yang Mudah Dipahami
Jurnalis perlu memahami dasar-dasar ilmu iklim agar dapat melaporkan isu ini secara akurat. Namun, hindari penggunaan istilah teknis yang berlebihan karena dapat membuat audiens kehilangan minat.
Bahasa yang sederhana, jelas, dan tetap akurat lebih efektif dalam menjangkau publik.
Misalnya, daripada menggunakan istilah “keanekaragaman hayati”, Anda dapat menggunakan kata “satwa liar” atau “alam” jika konteksnya memungkinkan.
7. Ceritakan Gambaran Lengkap, Termasuk Solusinya
Jurnalisme iklim yang baik tidak hanya mengungkap masalah, tetapi juga menelusuri berbagai solusi yang tersedia. Jika pemberitaan hanya berisi kabar buruk, audiens dapat merasa kewalahan dan memilih mengabaikan isu tersebut.
Faktanya, terdapat banyak solusi terhadap perubahan iklim, baik yang bersifat teknologi seperti energi surya dan angin, maupun solusi politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Peliputan solusi bukan berarti menjadi aktivis atau pendukung suatu agenda. Sebaliknya, jurnalis perlu menguji dan mengevaluasi berbagai solusi tersebut agar publik dan pembuat kebijakan memahami mana yang efektif dan mana yang tidak.
8. Waspadai Greenwashing
Perusahaan dan pemerintah semakin menyadari tuntutan publik terhadap praktik yang lebih ramah lingkungan. Namun, banyak klaim “hijau” yang sebenarnya hanya strategi pemasaran untuk menutupi praktik bisnis yang tidak banyak berubah.
Jurnalis perlu bersikap adil tetapi kritis terhadap janji-janji besar mengenai produk “berkelanjutan” atau target “nol emisi bersih”, terutama dari pihak-pihak yang selama ini berkontribusi besar terhadap permasalahan lingkungan.
9. Perlakukan Aktivis sebagai Narasumber Berita
Sebagian ruang redaksi masih menganggap meliput aktivisme sebagai bentuk keberpihakan.
Pandangan ini perlu ditinjau kembali. Meliput aksi protes, kampanye lingkungan, atau gerakan masyarakat tidak menjadikan seorang jurnalis sebagai aktivis, sebagaimana meliput pertandingan sepak bola tidak menjadikan seorang jurnalis sebagai atlet.
Aktivis adalah bagian dari aktor yang membentuk peristiwa publik dan perlu diliput secara akurat, adil, dan kritis, sebagaimana pejabat pemerintah atau pelaku usaha.
10. Jangan Mudah Terpengaruh Narasi yang Dibangun Pihak Tertentu
Liputan iklim sering kali kompleks dan sarat kepentingan. Karena itu, jurnalis harus berhati-hati terhadap berbagai upaya pembingkaian informasi atau spin dari narasumber yang memiliki agenda tertentu.
Politisi, pemimpin perusahaan, dan kelompok berkepentingan sering datang dengan pesan yang telah disiapkan sebelumnya.
Untuk menghindari bias tersebut, lakukan riset mendalam, periksa rekam jejak pernyataan mereka, dan konsultasikan dengan pakar independen sebelum menyusun laporan.
11. Jangan Memberikan Panggung bagi Penyangkal Perubahan Iklim
Memberikan ruang kepada penyangkal perubahan iklim demi menciptakan kesan “berimbang” justru dapat menyesatkan publik. Konsensus ilmiah mengenai perubahan iklim sangat kuat dan tidak ada argumen ilmiah yang sah untuk menyangkalnya.
Jika pandangan penyangkalan iklim muncul dari tokoh publik atau pejabat penting dan harus diliput, jurnalis perlu memberikan konteks yang jelas bahwa pernyataan tersebut bertentangan dengan bukti ilmiah yang ada.
12. Pilih Visual dengan Cermat
Gambar atau foto memiliki pengaruh besar terhadap cara audiens memahami isu iklim. Karena itu, visual yang digunakan harus mencerminkan realitas peristiwa yang dilaporkan.
Misalnya, berita tentang gelombang panas ekstrem akan lebih tepat menggunakan foto masyarakat yang berupaya mencari tempat teduh atau pusat pendinginan dibandingkan foto orang-orang yang tampak menikmati cuaca cerah di pantai.
13. Jaga Diri Anda
Meliput perubahan iklim bisa menjadi pekerjaan yang berat secara emosional. Menyaksikan masyarakat terdampak bencana, membaca proyeksi ilmiah yang mengkhawatirkan, atau melihat lambannya respons kebijakan dapat memicu stres dan kelelahan.
Karena itu, penting bagi jurnalis untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Ketika membutuhkan istirahat, ambillah waktu untuk beristirahat. Ketika membutuhkan bantuan, jangan ragu untuk mencarinya.
Jurnalisme iklim yang baik tidak hanya menginformasikan publik tentang krisis yang sedang berlangsung, tetapi juga membantu masyarakat memahami konteks, dampak, dan berbagai pilihan yang tersedia untuk meresponsnya.
Terjemahan ini sudah diadaptasi agar lebih sesuai dengan konteks jurnalisme Indonesia, pelatihan media, dan diskusi tentang peliputan perubahan iklim.
Sumber dan terjemahan dari https://coveringclimatenow.org/resource/climate-reporting-best-practices/









