PELAKITA.ID — Pemerintah Kabupaten Takalar terus memperkuat langkah strategis untuk menjadikan daerahnya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi maritim di Indonesia Timur.
Komitmen tersebut ditegaskan melalui pertemuan antara Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye dengan Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan pada 7 Mei 2026 di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah membangun sinergi dengan pemerintah pusat dalam mendorong transformasi sektor kelautan dan perikanan Takalar menuju hub perikanan terpadu yang modern, produktif, dan berkelanjutan.
Seluruh arah pembangunan tersebut berpijak pada filosofi maritim “Jalanidhitah Sarva Jivitam” yang berarti “Laut Merupakan Sumber Kehidupan”.
Filosofi ini menjadi dasar visi Pemerintah Kabupaten Takalar dalam mengelola potensi pesisir dan laut sebagai sumber kesejahteraan masyarakat. Itu pula yang dipaparkan di depan Wamen KKP.
Berikut deskripsi lengkap potensi, peluang dan capaian kemajuan pembangunan Kelautan dan Perikanan serta agenda ke depan.
Posisi Strategis Takalar di Jalur Maritim Nasional
Secara geografis, Kabupaten Takalar memiliki posisi strategis dalam peta maritim nasional. Wilayah seluas 566,51 kilometer persegi itu memiliki garis pantai sepanjang 74 kilometer dengan delapan kecamatan pesisir dari total 12 kecamatan yang ada.
Sebanyak 41 persen desa di Takalar merupakan desa pesisir, menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat.
Takalar juga berada di jalur strategis Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II, salah satu koridor pelayaran penting dunia. Posisi ini membuka peluang besar bagi Takalar untuk berkembang tidak hanya sebagai kawasan penangkapan ikan, tetapi juga sebagai pusat distribusi logistik dan layanan ekonomi maritim.
Keberadaan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Beba semakin memperkuat posisi Takalar sebagai pintu gerbang ekonomi kelautan di wilayah selatan Sulawesi Selatan, dengan dukungan akses yang dekat ke Kota Makassar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kawasan.
Dengan jumlah penduduk mencapai 335.846 jiwa pada 2025 dan kepadatan sekitar 593 jiwa per kilometer persegi, sektor kelautan dinilai menjadi ruang strategis untuk menciptakan lapangan kerja produktif sekaligus mengoptimalkan bonus demografi daerah.
Perikanan Tangkap dan Identitas Nelayan Patorani
Pemerintah Kabupaten Takalar menempatkan sektor perikanan tangkap sebagai salah satu prioritas pembangunan ekonomi daerah. Saat ini, sektor tersebut menghidupi sekitar 14.824 nelayan dengan dukungan 1.162 armada kapal dan 1.356 Kelompok Usaha Bersama (KUB).
Produksi perikanan tangkap Takalar pada 2025 tercatat mencapai 26.458 ton.
Salah satu komoditas unggulan daerah adalah telur ikan terbang yang dihasilkan oleh nelayan Patorani. Tradisi penangkapan telur ikan terbang bukan hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga menjadi identitas budaya maritim masyarakat Takalar yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Pemerintah daerah menargetkan produksi telur ikan terbang mencapai 250 ton pada 2026. Untuk mendukung target tersebut, Pemkab Takalar mendorong penguatan pendampingan perizinan, modernisasi pelayanan dokumen kapal, hingga penerapan sistem digital traceability berbasis barcode guna meningkatkan kepastian hukum dan penerimaan negara dari sektor kelautan.
Budidaya Perikanan dan Rumput Laut
Selain perikanan tangkap, Takalar juga dikenal sebagai salah satu sentra budidaya perikanan dan rumput laut di Sulawesi Selatan. Kabupaten ini memiliki tiga ekosistem budidaya, yakni laut, tambak air payau, dan perairan tawar.
Total produksi budidaya perikanan pada 2025 mencapai 643.967 ton.
Komoditas rumput laut menjadi salah satu andalan utama, terutama di wilayah Mangarabombang, Laikang, dan Sanrobone. Varietas unggulan yang dikembangkan meliputi Eucheuma cottonii, Gracillaria sp., hingga Ulva lactuca yang berkembang di Galesong Utara.
Sementara pada sektor tambak air payau, masyarakat mengembangkan budidaya udang windu, vannamei, bandeng, serta sistem polikultur di berbagai kawasan pesisir.
Pemerintah daerah juga terus mendorong pengembangan budidaya air tawar di wilayah Polongbangkeng dan Sanrobone melalui sistem bioflok untuk ikan lele dan pengembangan budidaya ikan nila.
Takalar dan Strategi Swasembada Garam Nasional
Sektor pergaraman rakyat menjadi perhatian khusus Pemerintah Kabupaten Takalar dalam mendukung agenda ketahanan pangan dan swasembada garam nasional.
Takalar memiliki potensi lahan garam seluas 558 hektare yang tersebar di Kecamatan Mangarabombang, Mappakasunggu, dan Kepulauan Tanakeke. Namun hingga kini baru sekitar 30 persen lahan yang tergarap aktif.
Produksi garam pada 2025 tercatat sebesar 5.301 ton, menurun akibat pengaruh cuaca ekstrem. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat modernisasi tambak garam melalui penggunaan teknologi geomembrane guna meningkatkan kualitas dan produktivitas hasil produksi.
Optimalisasi lahan potensial yang belum tergarap dinilai sangat penting untuk mendukung target Swasembada Garam Nasional 2027 sebagaimana amanat Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025.
Kampung Nelayan Merah Putih
Sebagai bagian dari transformasi kawasan pesisir, Pemerintah Kabupaten Takalar juga mendorong pengembangan Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Program ini dirancang sebagai model kawasan pemukiman nelayan yang bersih, sehat, produktif, dan terintegrasi dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Berdasarkan hasil survei KKP hingga April 2026, empat lokasi utama telah ditetapkan sebagai kawasan prioritas pengembangan, yakni Boddia, Bontokanang, Sampulungan, dan Topejawa.
Berbagai infrastruktur pendukung telah disiapkan, mulai dari pabrik es portabel, gudang beku (cold storage), kios kuliner hasil laut, kantor pengelola kawasan, fasilitas sanitasi umum, hingga koperasi desa untuk memperkuat akses permodalan masyarakat nelayan.
Penguatan Infrastruktur dan Transformasi Digital
Dalam pertemuan bersama KKP, Pemerintah Kabupaten Takalar juga mengajukan sejumlah kebutuhan prioritas pembangunan yang sejalan dengan RPJMD Kabupaten Takalar 2025–2029.
Beberapa di antaranya meliputi transformasi digital sektor perikanan untuk mendukung pendataan real-time dan pelayanan berbasis teknologi, modernisasi sektor garam melalui bantuan geomembrane, serta penguatan infrastruktur dasar dan armada tangkap bagi nelayan.
Seluruh langkah tersebut diarahkan untuk mempercepat hilirisasi sektor kelautan dan meningkatkan daya saing produk perikanan Takalar di tingkat nasional maupun internasional.
Bupati Mohammad Firdaus Daeng Manye menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Takalar siap membangun kemitraan strategis dengan pemerintah pusat dalam mewujudkan Takalar sebagai hub perikanan terpadu yang mandiri dan berdaya saing.
“Laut bukan hanya ruang hidup masyarakat pesisir, tetapi sumber masa depan daerah dan bangsa. Karena itu kami berkomitmen menjaga dan mengelola potensi maritim Takalar demi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Dengan visi “Takalar Unggul Produksi Hasil Laut dan Budidaya Perikanan”, pemerintah daerah optimistis Takalar dapat menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi maritim baru di Indonesia Timur.









