Dialog Kebangsaan IKA Unhas Gowa, Adi S Culla: Iran Kuat Karena Ideologi, Kepemimpinan hingga Persenjataan

  • Whatsapp
Dr Adi Suryadi Culla (dok:Pelakita.ID)

Konflik global saat ini tidak lagi sekadar perang terbuka antarnegara. Persaingan kekuatan dunia kini melibatkan teknologi, perang informasi, kecerdasan buatan, bisnis persenjataan, hingga operasi intelijen yang bekerja di balik layar politik internasional. –

Dr. Adi Suryadi Culla, Dosen Fisip Unhas

PELAKITA.ID – Di tengah situasi global yang kian tak menentu, ruang-ruang dialog publik menjadi penting untuk membangun kesadaran kebangsaan dan memperkuat cara pandang Indonesia terhadap perubahan dunia.

Atas dasar itu, IKA Unhas Gowa menggelar Dialog Kebangsaan bertema “Gejolak Geopolitik Global dan Dampaknya terhadap Kedaulatan dan Pertahanan Negara” di Kedai Dewi, Sungguminasa, Sabtu, 9 Mei 2026.

Forum yang juga disiarkan langsung oleh Radio Rewako FM tersebut menghadirkan Anggota Komisi I DPR RI Dr. Syamsu Rizal MI atau biasa disapa Daeng Ical serta akademisi dan pengamat politik internasional Dr. Adi Suryadi Culla.

Dialog ini menjadi ruang refleksi atas meningkatnya rivalitas kekuatan besar dunia yang kini semakin mempengaruhi kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Ketua IKA Unhas Gowa, Irwansyah Sukarana, menegaskan bahwa keterbukaan Indonesia terhadap kerja sama internasional tidak boleh mengorbankan prinsip dasar kedaulatan bangsa.

Menurutnya, politik luar negeri bebas aktif harus tetap menjadi pijakan utama agar Indonesia tidak terseret dalam kepentingan negara-negara besar.

“Sebagai bangsa besar, keterbukaan terhadap kerja sama internasional tidak boleh dibayar dengan ‘gadaian’ kedaulatan yang memberi celah bagi intervensi asing dalam bentuk apa pun,” ujarnya.

Ada rivalitas yang sulit diprediksi

Dalam pemaparannya, Dr. Adi Suryadi Culla menilai dunia saat ini sedang bergerak menuju situasi yang semakin kompleks dan anarkistis. Perubahan dari tatanan bipolar menuju multipolar, menurutnya, membuat rivalitas global semakin sulit diprediksi.

“Kondisi dunia pascaperang dingin cenderung anarkistis. Perilaku anarkis para pemimpin dunia menjadi ancaman serius bagi ketertiban global,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa konflik global saat ini tidak lagi sekadar perang terbuka antarnegara. Persaingan kekuatan dunia kini melibatkan teknologi, perang informasi, kecerdasan buatan, bisnis persenjataan, hingga operasi intelijen yang bekerja di balik layar politik internasional.

“Ada bisnis persenjataan di balik ketegangan dunia yang sering kali tidak terlihat,” katanya.

Dr. Adi bahkan mencontohkan kasus Iran-Contra pada era Amerika Serikat tahun 1980-an sebagai gambaran bagaimana konflik internasional kerap berjalan beriringan dengan transaksi politik dan operasi intelijen rahasia. Dari perspektif hubungan internasional, situasi itu melahirkan logika “perang untuk damai”.

“Perang itu terjadi memang disengaja untuk menciptakan perdamaian. Tidak mungkin ada perdamaian dunia tanpa perang,” ujarnya.

Terlalu Berperspektif Barat

Dalam forum tersebut, ia juga mengkritik kecenderungan akademisi dan masyarakat di negara berkembang yang masih terlalu banyak menggunakan perspektif Barat dalam membaca perkembangan dunia.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan perspektif alternatif agar tidak hanya menjadi penonton dalam percaturan geopolitik global.

“Selama ini kita terlalu banyak melihat dunia dengan perspektif Barat. Kita membutuhkan perspektif alternatif dalam membaca perkembangan global,” tegasnya.

Lebih jauh, Dr. Adi menilai bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kualitas kepemimpinan nasional, ideologi, legitimasi moral, dan kemampuan menjaga persatuan masyarakat.

“Kalau mau melihat negara itu kuat, lihat pemimpinnya. Salah satu indikator negara kuat adalah legitimasi moral dari rakyatnya,” ujarnya.

Ia kemudian menyinggung Iran sebagai contoh negara yang mampu bertahan menghadapi tekanan geopolitik global karena memiliki fondasi ideologi, kepemimpinan, dan dukungan sosial yang kuat.

“Iran memenuhi syarat sebagai negara kuat: ideologi, kepemimpinan, geografi, dan kemampuan persenjataan,” katanya.

Konflik hingga ruang digital

Diskusi tersebut juga menyoroti ancaman baru terhadap kedaulatan Indonesia yang kini tidak lagi terbatas pada sengketa wilayah darat dan laut, tetapi juga telah merambah ruang udara, ruang digital, hingga perang informasi yang mampu memengaruhi stabilitas nasional tanpa invasi fisik secara langsung.

Dalam konteks itu, nilai-nilai lokal Sulawesi Selatan seperti Siri’ na Pacce dan semangat perjuangan Sultan Hasanuddin dinilai tetap relevan sebagai fondasi moral dalam menjaga harga diri bangsa di tengah tekanan global.

IKA Unhas Gowa yang diwakili oleh ketuanya, Irwansyah Sukarana – sekaligus moderator – juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dan organisasi kepemudaan dalam menjaga narasi kebangsaan di tengah derasnya arus informasi dan disinformasi global.

Menurut panitia, menjaga kedaulatan bangsa bukan hanya tugas negara dan aparat pertahanan, tetapi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

Di akhir pemaparannya, Dr. Adi mengingatkan bahwa dunia saat ini menghadapi krisis moralitas dalam hubungan internasional.

Karena itu, ia mendorong dunia akademik untuk lebih aktif mengembangkan perspektif geopolitik yang lebih manusiawi dan berkeadaban. “Kita membutuhkan moralitas dalam politik global, bukan hanya kekuatan dan bisnis persenjataan,” ujarnya.

“Bangsa yang besar bukan hanya kuat senjatanya, tetapi kuat ideologi dan kepemimpinannya,” tutupnya.

Redaksi