Dari Medan Tempur ke Peta Peradaban: Jalan Sunyi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara

  • Whatsapp
Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara

Di tangannya, transmigrasi berubah menjadi strategi besar pembangunan nasional. Ia memperkenalkan konsep Transmigrasi 4.0 yang bertumpu pada STEM, industrialisasi, hilirisasi, dan digitalisasi kawasan. Tidak berhenti di sana, ia melompat lebih jauh dengan Transmigrasi 5.0: green development, smart village ecosystem, artificial intelligence, hingga big data-driven planning.

PELAKITA.ID – Di sebuah zaman ketika banyak orang memandang transmigrasi sebagai program tua yang nyaris kehilangan relevansi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara justru melihatnya sebagai pintu masa depan Indonesia.

Ia bukan birokrat yang lahir dari meja rapat panjang dan lorong kementerian. Jalan hidupnya ditempa oleh debu medan operasi, disiplin militer, diplomasi internasional, hingga dunia investasi global.

Dari lorong Akademi Militer Magelang, Aceh yang bergolak, Lebanon yang penuh puing perang, sampai ruang-ruang strategis pemerintahan, Suryanagara berjalan membawa satu keyakinan: negara hanya bisa besar jika wilayah pinggirannya ikut tumbuh bermartabat.

Lahir pada 10 Maret 1977, Suryanagara dikenal sebagai lulusan terbaik Akademi Militer 1999. Namun karier militernya tidak berhenti pada prestasi simbolik.

Ia menjalani tugas tempur di Aceh pada masa paling sulit konflik bersenjata, menyaksikan bagaimana ketakutan, kemiskinan, dan keterasingan bisa merusak harapan sebuah generasi.

Tetapi perang juga mengajarinya sesuatu: pembangunan tidak cukup dibangun dengan senjata. Ia membutuhkan pengetahuan, keberanian berpikir, dan keberpihakan pada manusia.

Setelah tsunami Aceh membuka jalan damai, Suryanagara terlibat dalam operasi kemanusiaan. Dari sana, perspektifnya berubah. Negara, baginya, bukan hanya kekuatan pertahanan, tetapi kemampuan menghadirkan harapan di tempat-tempat yang lama merasa dilupakan.

Ia kemudian dikirim ke Lebanon sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB. Di negeri yang pernah koyak oleh perang itu, Suryanagara melihat bagaimana konflik dapat dipulihkan melalui institusi, pendidikan, dan pembangunan ekonomi.

Pengalaman internasional itu membentuk cara pandangnya yang khas: keamanan nasional sejatinya berakar pada kesejahteraan rakyat.

Berbeda dengan banyak perwira lapangan lainnya, Suryanagara juga menempuh jalan literasi. Ia menulis tentang strategi militer, hubungan sipil-militer, mitigasi bencana, hingga diplomasi pertahanan. Baginya, tentara profesional bukan sekadar mahir bertempur, tetapi juga harus “knowledgeable” dan “open-minded.”

Ia mengutip Clausewitz, Sun Tzu, hingga Samuel Huntington bukan sebagai ornamen intelektual, melainkan sebagai cara memahami bahwa negara besar selalu dibangun oleh gagasan-gagasan besar.

Dua puluh tahun mengabdi di militer akhirnya membawanya pada sebuah keputusan penting: pensiun dini. Reformasi TNI mengharuskan militer menjaga jarak dari bisnis dan politik praktis. Maka ketika ia mulai membangun jaringan investasi, konsultan, dan kerja sama internasional, Suryanagara memilih keluar dengan terhormat.

Namun sesungguhnya, ia tidak pernah benar-benar meninggalkan pengabdian.

Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, kedua dari kanan, bersama perwakilan perguruan tinggi (dok: Istimewa)

Dunia bisnis memberinya perspektif baru tentang ekonomi, investasi, dan bagaimana modal bekerja membentuk peradaban. Dari situ ia melihat satu kenyataan yang lama luput dari perhatian: Indonesia terlalu lama membangun pusat, tetapi sering lupa menyalakan pinggiran.

Ketika dipercaya menjadi Menteri Transmigrasi pada Oktober 2024 dalam Kabinet Merah Putih, Suryanagara datang membawa gagasan yang berbeda. Ia menolak memandang transmigrasi sekadar proyek pemindahan penduduk.

“Transmigrasi hari ini bukan lagi sekadar soal memindahkan penduduk, tetapi membuka jalan masa depan bagi jutaan rakyat dan bangsa,” katanya dalam berbagai forum nasional.

Di tangannya, transmigrasi berubah menjadi strategi besar pembangunan nasional. Ia memperkenalkan konsep Transmigrasi 4.0 yang bertumpu pada STEM, industrialisasi, hilirisasi, dan digitalisasi kawasan. Tidak berhenti di sana, ia melompat lebih jauh dengan Transmigrasi 5.0: green development, smart village ecosystem, artificial intelligence, hingga big data-driven planning.

Bagi Suryanagara, kawasan transmigrasi bukan lagi halaman belakang republik. Ia ingin menjadikannya laboratorium peradaban baru Indonesia.

Visinya terdengar nyaris utopis, tetapi justru di situlah daya tariknya.

Ia berbicara tentang desa-desa cerdas yang terhubung digital, energi hijau di kawasan terpencil, korporasi rakyat berbasis tanah melalui Badan Usaha Milik Transmigran (BUMT), hingga ekonomi yang tumbuh tanpa mencabut akar budaya masyarakat.

Yang menarik, ia tidak menjual mimpi melalui statistik semata. Ia gemar menceritakan kisah-kisah kecil: transmigran yang dulu pergi karena utang lalu berhasil menyekolahkan anaknya hingga sarjana; keluarga yang dahulu diejek kini menjadi penopang ekonomi kampungnya sendiri.

Di mata Suryanagara, transmigrasi adalah kisah tentang martabat manusia.

Karena itu, ia berupaya menghapus ego sektoral antar kementerian. Ia mendorong kolaborasi lintas lembaga agar transmigrasi tidak lagi berjalan sendiri, melainkan menjadi orkestrasi besar pembangunan wilayah.

Dalam RPJMN 2025–2029, transmigrasi kini ditempatkan sebagai motor pertumbuhan kawasan, basis ketahanan pangan dan energi, sekaligus simpul industri baru di wilayah 3T.

Mungkin di situlah inti dari seluruh perjalanan panjang Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara: dari seorang perwira tank menjadi arsitek gagasan tentang Indonesia yang lebih merata.

Ia pernah melihat perang. Ia pernah melihat keterasingan. Dan mungkin karena itu pula ia memahami bahwa keadilan bukan hanya soal hukum, melainkan tentang memastikan setiap wilayah memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh.

“Transmigrasi adalah salah satu jawaban Indonesia atas ketimpangan wilayah, penguatan NKRI, dan masa depan keadilan antargenerasi.”

Kalimat itu terdengar seperti visi. Tetapi bagi Suryanagara, tampaknya itu adalah misi hidupnya.

Editor K. Azis