Dukung Kementrans, UNHAS Berpartisipasi pada Tim Ekspedisi Patriot 2026

  • Whatsapp
Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, kedua dari kanan, bersama perwakilan perguruan tinggi (dok: Istimewa)

Dari Infrastruktur hingga Smart Village di Papua

PELAKITA.ID –  Kementerian Transmigrasi menunjukkan langkah strategis baru dalam membangun kawasan transmigrasi berbasis ilmu pengetahuan dan pengabdian masyarakat dengan menunjuk 10 perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia untuk terlibat dalam program nasionalnya.

“Dari seluruh kampus yang dipilih, Universitas Hasanuddin menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang berasal dari luar Pulau Jawa,” kata Dr Ilham Alimuddin, salah satu fasilitator asal Unhas untuk program TEP 2026 ini.

Ilham menyebut, penunjukan ini menegaskan posisi strategis Universitas Hasanuddin sebagai representasi kekuatan akademik kawasan timur Indonesia.

“Kehadiran Unhas di antara kampus-kampus elite nasional bukan hanya menjadi simbol pengakuan kapasitas institusi, tetapi juga memperlihatkan pentingnya perspektif Indonesia timur dalam agenda pembangunan dan transmigrasi masa depan,” ujar pria yang juga dosen di Fakultas Teknik Unhas ini.

Sebagai bentuk dukungan terhadap program strategis Kementerian Transmigrasi, Hasanuddin University mulai menyiapkan tim khusus untuk mendukung pelaksanaan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026.

Pengelolaan program di tingkat universitas dikoordinasikan oleh Rijal Idrus selaku Ketua Tim Pokja Pengelola TEP Unhas, dengan dukungan tim reviewer internal yang terdiri dari Prof Darmawan Salman, Prof Agussalim, dan Prof Jasmal.

Tim ini akan berperan dalam proses seleksi, penguatan substansi proposal, hingga memastikan kesiapan akademik dan teknis para peserta yang akan diterjunkan ke kawasan transmigrasi prioritas di Indonesia.

Tentang TEP 2026

Kementerian Transmigrasi tengah menyiapkan sebuah langkah besar yang dapat mengubah wajah kawasan transmigrasi di Indonesia. Melalui program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026, pemerintah tidak lagi melihat transmigrasi sekadar perpindahan penduduk atau pembangunan permukiman baru.

Ilustrasi kegiatan

Kini, kawasan transmigrasi diposisikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berbasis riset, teknologi, dan rekayasa sosial-ekonomi.

“Program ini lahir dari mandat Peraturan Menteri Transmigrasi Nomor 3 Tahun 2026, yang menjadi fondasi kebijakan baru pembangunan kawasan,”kata Rijal Idrus.

“Pendekatannya pun berubah total: dari model birokratis administratif menjadi pembangunan berbasis data dan kajian ilmiah. Dengan kata lain, setiap keputusan pembangunan ke depan harus memiliki dasar akademik yang kuat dan terukur,” tambahnya.

Dalam regulasi tersebut, pemerintah menargetkan pengerahan sumber daya manusia unggul. Namun dalam implementasinya, arsitektur program berkembang menjadi lebih besar dengan melibatkan total 1458 personel yang dibagi ke dalam 243 tim.

Tim-tim ini akan bekerja di 41 lokus prioritas kementerian serta dua lokus khusus selama periode 2026 hingga 2027.

“Mereka bukan sekadar peneliti lapangan. TEP dirancang sebagai instrumen strategis negara untuk menghasilkan rekomendasi pembangunan yang nantinya wajib menjadi rujukan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan 2027–2029,” jelas Rijal.

Dari Infrastruktur hingga Smart Village

Salah satu kekuatan utama TEP 2026 adalah pendekatan pembangunan yang menyeluruh. Pemerintah menyusun dua belas pilar tematik yang saling terhubung satu sama lain, membentuk sebuah ekosistem pembangunan kawasan yang modern dan berkelanjutan.

Pilar pertama menyangkut tata kelola dan reformasi agraria. Pemerintah ingin memastikan kepastian hukum atas tanah dan aset masyarakat agar konflik lahan dapat diminimalkan sekaligus membuka ruang investasi yang sehat.

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur dasar dan konektivitas menjadi prioritas penting. Jalan, akses logistik, dan jaringan distribusi dipandang sebagai kunci untuk menurunkan biaya ekonomi kawasan sehingga produk lokal mampu bersaing di pasar nasional.

TEP juga memberi perhatian besar pada kualitas sumber daya manusia. Pendidikan, layanan kesehatan, dan peningkatan kapasitas masyarakat ditempatkan sebagai fondasi utama agar kawasan transmigrasi tidak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga melahirkan masyarakat yang produktif dan kompetitif.

Pendekatan hilirisasi dan industrialisasi menjadi agenda strategis berikutnya. Kawasan transmigrasi didorong tidak lagi hanya menjual komoditas mentah, melainkan mulai mengembangkan industri pengolahan yang menciptakan nilai tambah ekonomi lebih besar.

Selain itu, digitalisasi menjadi salah satu wajah baru transmigrasi. Konsep smart village diperkenalkan untuk memperpendek rantai distribusi, mempercepat layanan birokrasi, dan membuka akses pasar digital bagi hasil bumi masyarakat.

Pemerintah juga memasukkan ekonomi hijau, energi terbarukan, hingga pengembangan pariwisata berbasis budaya lokal sebagai bagian dari transformasi kawasan transmigrasi masa depan.

Kementerian Transmigrasi siap mendukung Program Presiden Prabowo Subianto (dok: Itstimewa)

Papua Menjadi Fokus Utama

Jika melihat distribusi personel TEP 2026, tampak jelas bahwa pemerintah memberi perhatian sangat besar pada Papua. Pendekatan pembangunan yang digunakan bersifat asimetris, artinya setiap wilayah diperlakukan sesuai tingkat tantangan dan kebutuhannya.

Di sebagian besar wilayah Indonesia, satu lokus hanya mendapat satu tim berisi enam personel. Namun di Papua, setiap kawasan memperoleh alokasi hingga 120 personel yang terdiri atas 20 ketua tim dan 100 anggota.

Langkah ini menunjukkan bahwa Papua diposisikan sebagai Kawasan Prioritas Nasional yang membutuhkan percepatan pembangunan secara terintegrasi.

Beberapa kawasan strategis yang menjadi fokus antara lain Klamono–Segun di Papua Barat Daya, Senggi di Papua, Lereh di Papua, Salor dan Muting di Papua Selatan, hingga Weri–Saharey di Papua Barat yang dipercayakan kepada Universitas Hasanuddin.

Menariknya, dari sepuluh perguruan tinggi negeri mitra yang dilibatkan Kementerian Transmigrasi, Universitas Hasanuddin menjadi satu-satunya kampus yang berasal dari luar Pulau Jawa. Kehadiran Unhas memperlihatkan bahwa perspektif pembangunan Indonesia Timur menjadi bagian penting dalam desain besar transformasi kawasan transmigrasi nasional.

Operasi Lapangan Selama Satu Tahun

TEP 2026 bukan program seremonial jangka pendek. Pemerintah menyiapkan skema kerja lapangan selama 12 bulan penuh.

Tahapan dimulai dari proses rekrutmen pada April hingga Mei 2026, dilanjutkan pembekalan teknis pada Juni sampai Juli 2026. Setelah itu, seluruh tim akan diberangkatkan serentak pada 31 Juli 2026 untuk menjalankan riset, kajian, dan pendampingan lapangan hingga Juli 2027.

Setiap personel diseleksi dengan standar akademik yang tinggi. Ketua tim minimal harus bergelar magister, memiliki publikasi internasional bereputasi, serta pengalaman memimpin riset.

Sementara anggota tim diwajibkan memiliki kapasitas akademik, pengalaman penelitian, dan kemampuan komunikasi dengan masyarakat maupun pemangku kepentingan daerah.

Pemerintah tampaknya ingin memastikan bahwa setiap rekomendasi yang lahir benar-benar memiliki kualitas ilmiah dan dapat diterapkan secara nyata dalam kebijakan pembangunan.

Investasi Besar untuk Masa Depan Kawasan

Keseriusan pemerintah juga terlihat dari skala anggaran yang disiapkan. Untuk wilayah Papua saja, total investasi program mencapai sekitar Rp180,4 miliar.

Angka ini digunakan untuk mendukung operasional 1.000 personel selama satu tahun penuh, mulai dari biaya hidup, peralatan riset, hingga fasilitasi lapangan.

Sementara untuk kawasan di luar Papua, pola intervensi lebih diarahkan pada optimasi kawasan yang dinilai sudah memiliki fondasi pembangunan awal.

Model ini menunjukkan bahwa pemerintah sedang menjalankan dua strategi sekaligus: percepatan pembangunan terkonsentrasi di Papua dan penguatan kawasan berkembang di wilayah lainnya.

Transmigrasi Memasuki Babak Baru

TEP 2026 pada akhirnya bukan hanya program riset biasa. Ini adalah upaya besar negara yang bisa dikontribusikan oleh 10 kampus ternama di Indonesia termasuk Unhas untuk menjadikan kawasan transmigrasi sebagai pusat ekonomi baru yang mandiri, modern, dan berdaya saing.

Selama bertahun-tahun, kawasan transmigrasi sering dipandang sebagai wilayah pinggiran yang identik dengan keterbatasan. Kini paradigma itu sedang diubah. Pemerintah ingin kawasan transmigrasi menjadi ruang tumbuh industri baru, pusat inovasi desa, sekaligus simpul ekonomi regional yang mampu menopang pertumbuhan nasional.

Dengan dukungan perguruan tinggi terbaik Indonesia, investasi fiskal yang besar, dan pendekatan pembangunan berbasis data, TEP 2026 berpotensi menjadi titik balik penting dalam sejarah pembangunan kawasan transmigrasi Indonesia.

___
Editor Denun