Salah satu pembicara adalah Abdi Wunanto Hasan, alumni Ilmu Kelautan Unhas angkatan 2007 yang telah malang melintang di urusan konservasi hiu. Menghabiskan lebih 10 tahun di Perairan Papua hingga Sumatera untuk konservasi pesisir dan laut.
PELAKITA.ID – Keikutsertaan Konservasi Indonesia dalam forum global kembali ditegaskan melalui partisipasi aktif dalam konferensi Sharks International Sri Lanka 2026 yang akan digelar pada 4–8 Mei 2026 di Colombo.
Forum ini dikenal sebagai salah satu konferensi terbesar di dunia yang secara khusus membahas hiu, pari, dan kelompok ikan bertulang rawan lainnya (chondrichthyes), serta mempertemukan ratusan ilmuwan, praktisi konservasi, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara.
Dalam konferensi yang diselenggarakan setiap empat tahun ini, Konservasi Indonesia akan diwakili oleh dua narasumber yang membawa hasil riset terkini dari perairan Indonesia.
Kehadiran keduanya tidak hanya menunjukkan kontribusi Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan kelautan, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam diskursus global terkait konservasi spesies laut, khususnya hiu paus (whale shark).
Dua narasumber tersebut adalah Iqbal Herwata dan Abdi Wunanto Hasan.
Iqbal Herwata akan memaparkan hasil riset mengenai pelacakan satelit jangka panjang untuk memahami pola musiman dan perilaku hiu paus.
Dia akan membawakan topik “Long-term satellite tracking reveals seasonal and behavioral niche partitioning in Whale Sharks”.
Hasil penelitian ini menggunakan pelacakan satelit jangka panjang untuk memahami pola musiman dan perilaku hiu paus, khususnya bagaimana mereka membagi habitat atau relung ekologisnya.
Iqbal Herwata, adalah “Focal Species Conservation Senior Manager – Konservasi Indonesia.
Sementara itu, Abdi Wunanto Hasan akan menyajikan studi tentang segregasi habitat dan pola tinggal hiu paus di wilayah Paparan Sunda dan Sahul berdasarkan data pelacakan satelit.
Baca kisah Abdi di sini.
Judul paparannya adalah “Habitat segregation and residency of whale sharks between the Sunda and Sahul Shelves: evidence from fin-mount satellite tracking data” yang menjelaskan bahwa studi ini meneliti perbedaan penggunaan habitat dan pola tinggal (residency) hiu paus di dua wilayah besar—Paparan Sunda dan Paparan Sahul—berdasarkan data pelacakan satelit yang dipasang pada sirip.
Secara khusus, kehadiran Abdi Wunanto Hasan memiliki makna tersendiri. Ia merupakan alumni Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin angkatan 2005, yang kini berkiprah di tingkat internasional sebagai peneliti konservasi.
Partisipasinya menjadi bukti nyata bahwa sumber daya manusia dari perguruan tinggi di Indonesia mampu berkontribusi signifikan dalam riset global, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda di bidang kelautan.
Melalui forum ini, Konservasi Indonesia tidak hanya berbagi hasil penelitian, tetapi juga memperkuat jejaring kolaborasi internasional dalam upaya perlindungan spesies laut yang semakin terancam.
Konferensi ini menjadi ruang penting untuk bertukar pengetahuan, memperkenalkan inovasi berbasis sains, serta mendorong kebijakan yang lebih efektif dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut dunia.
Rektor Universitas Hasanuddin menyambut dengan penuh rasa bangga kabar keterlibatan alumni dalam forum global Sharks International Sri Lanka 2026.
Ia menilai partisipasi tersebut bukan hanya menjadi capaian personal, tetapi juga mencerminkan kualitas pendidikan dan kontribusi nyata perguruan tinggi Indonesia dalam percaturan ilmu pengetahuan dunia, khususnya di bidang kelautan dan konservasi.
“Ini adalah kabar yang sangat membanggakan bagi kami. Ketika alumni mampu tampil dan berkontribusi di forum internasional, itu menunjukkan bahwa apa yang dibangun di kampus memiliki relevansi global. Kami berharap ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan alumni lainnya untuk terus berkarya, meneliti, dan memberi dampak bagi dunia,” ujar Rektor saat dihubungi Pelakita.ID, 5 Mei 2026.









