Perguruan Tinggi dan Masa Depan Daerah, dari Malili untuk Luwu Timur

  • Whatsapp
Kiri-kanan, Kak Erik. Prof Chair Rani, guru besar FIKP Unhas fokus ekologi karang, lalu ada Prof Ical Putra Bulukumba spesialis GIS Sumber Daya Pesisir dan Laut alumni Kelautan Unhas 94, lalu ada Prof Adri letting-na @Fiz Haq Guru Besar Sosek Perikanan asal Bone, lalu di kiri saya Dr Chairul Paotonan, akademisi Teknik Kelautan Unhas. Ketemu di warung makan terbaik di Kota Malili. ----

PELAKITA.ID – Sebuah pertemuan – yang sesungguhnya tak terencana – sederhana di salah satu warung makan di Kota Malili menghadirkan percakapan besar tentang masa depan daerah.

Hadir dalam kesempatan itu sejumlah akademisi lintas disiplin dari Universitas Hasanuddin, di antaranya Prof. Chair Rani, pakar ekologi karang; Prof. Faizal, pakar GIS sumber daya pesisir dan laut; Prof. Andi Adri Arief, guru besar sosial ekonomi perikanan; serta Dr. Chairul Paotonan dari Teknik Kelautan.

“Orang-orang terhormat,” kata penulis ke Prof Adri, kawan, salah satu kontributor Pelakita.ID, 30 April 2026.

Mereka hadir di Luwu Timur untuk apa yang disebut oleh Prof Adri sebagai ‘titik awal penyusunan prakondisi’ proyek dredging dan energi listrik terbarukan di Luwu Timur.

Diskusi dengan mereka tidak sekadar teknis, tetapi menyentuh aspek mendasar pembangunan: bagaimana memanfaatkan ruang—mulai dari danau hingga kawasan pegunungan—dengan mempertimbangkan kelayakan sosial, ekonomi, dan ekologi secara menyeluruh.

Inilah contoh nyata bagaimana perguruan tinggi dapat berperan sebagai motor penggerak pembangunan berbasis ilmu pengetahuan.

Keterlibatan kampus seperti Universitas Hasanuddin menjadi penting karena mereka memiliki sumber daya intelektual, riset berbasis data, serta kapasitas analisis yang mampu menjembatani kepentingan pembangunan dan keberlanjutan lingkungan.

Di sisi lain, pemerintah daerah seperti Luwu Timur membutuhkan dukungan tersebut untuk memastikan bahwa setiap kebijakan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi juga keberlanjutan jangka panjang.

Pengelolaan sumber daya alam tidak lagi bisa dilakukan secara sektoral dan parsial.

Diperlukan pendekatan integratif yang mengedepankan prinsip good governance—transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik—agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara adil oleh masyarakat.

Pertemuan di salah satu spot kuliner di Kota Malili ini menjadi simbol “call from the region”: sebuah panggilan agar kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat diperkuat.

Ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan kebutuhan lokal, maka pembangunan tidak hanya menjadi proyek, tetapi menjadi proses yang berkelanjutan dan bermakna bagi generasi mendatang.

Berikut 5 hal yang dapat disimpulkan dari pertemuan tersebut

Kolaborasi lintas sektor adalah kunci
Sinergi antara PT Vale Indonesia, PT Lisi, dan LP2M Universitas Hasanuddin menunjukkan bahwa pembangunan efektif membutuhkan kerja sama industri dan akademisi.

Pembangunan tidak hanya soal teknis
Proyek dredging tidak sekadar pengerukan, tetapi juga mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi secara terpadu.

Peran akademisi sangat strategis
Keterlibatan perguruan tinggi memastikan bahwa proyek berbasis data, kajian ilmiah, dan analisis yang objektif.

Prinsip keberlanjutan menjadi fondasi utama
Pendekatan yang digunakan menekankan kehati-hatian dan dampak jangka panjang, bukan hanya keuntungan sesaat.

Potensi menjadi model praktik baik
Proyek yang berkaitan dengan keamanan proses dredging ini berpeluang menjadi contoh (best practice) dalam pengelolaan wilayah bantaran sungai, pesisir yang bertanggung jawab di Indonesia.


Penulis Denun