Sutawijaya, Penguasa PKM di Masanya dan Jejak Aktivisme yang Berubah Arah

  • Whatsapp
Sutawijaya (dok: Istimewa)
  • Tantangan terbesar justru berada pada level implementasi—khususnya dalam komunikasi, kedewasaan sikap, dan kemampuan mengelola perbedaan.
  • Pengalaman masa lalu, termasuk rekan-rekan yang mengalami cedera akibat aksi yang tidak terukur, menjadi pelajaran bahwa militansi harus diimbangi dengan kecerdasan.

PELAKITA.ID – Nama Sutawijaya—akrab disapa Suta—menjadi salah satu figur yang dikenang dalam dinamika kehidupan kampus era 1990-an, khususnya di lingkungan PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa).

Perjalanannya tidak lahir dari kemapanan, melainkan dari proses panjang yang penuh keterbatasan. Lulus SMA pada 1988, ia sempat harus menunda kuliah selama setahun karena kendala ekonomi.

Di masa “menganggur” itulah, benih intelektualitasnya justru tumbuh.

Dia berkisah tentang jejak pendidikan dan harapannya pada kehidupan kampus yang efektif kepada Penulis beberapa waktu lalu.

Mari simak

Ia aktif mengikuti pelatihan jurnalistik melalui kegiatan remaja masjid, belajar menulis secara otodidak, hingga berhasil menembus media lokal lewat cerpen yang dimuat di Pedoman Rakyat.

Bakat dan ketekunan menjadi pintu masuknya ke dunia kampus—sebuah dunia yang kelak membentuknya sebagai salah satu figur kuat di PKM.

Di kampus, Sutawijaya menjalani kehidupan yang keras sekaligus membentuk. Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun di PKM, bahkan hingga hampir sembilan tahun masa studi yang diwarnai kerja sambilan demi membayar biaya kuliah.

Ia pernah bekerja di hotel, meminjam uang untuk bertahan hidup, dan menjalani hari-hari dengan kondisi serba terbatas. Namun justru dari ruang-ruang itulah, diskusi, perdebatan, dan pembentukan karakter intelektual berlangsung intens.

PKM pada masa itu bukan sekadar tempat berkegiatan, tetapi menjadi “kawah candradimuka” bagi mahasiswa untuk mengasah gagasan sebelum turun ke ruang publik.

Menurut Sutawijaya, aktivisme mahasiswa di masanya sangat ditopang oleh kekuatan konsep. Demonstrasi bukan sekadar aksi turun ke jalan, melainkan puncak dari proses diskusi panjang yang matang.

Mahasiswa terbiasa berdebat, menyusun argumen, dan menawarkan solusi konkret sebelum menyampaikan kritik.

Ia mengingatkan bahwa gerakan tanpa konsep hanya akan menjadi kebisingan—bahkan bisa merugikan diri sendiri dan masyarakat.

Pengalaman masa lalu, termasuk rekan-rekan yang mengalami cedera akibat aksi yang tidak terukur, menjadi pelajaran bahwa militansi harus diimbangi dengan kecerdasan.

Namun, ia juga melihat adanya pergeseran paradigma dalam kehidupan kampus hari ini. Atmosfer aktivisme tidak lagi sama seperti dulu. Jika sebelumnya ruang diskusi menjadi pusat pengkaderan, kini pola interaksi lebih tersebar dan digital.

Menurutnya, perubahan ini bukan berarti kemunduran, tetapi menuntut adaptasi. Organisasi seperti BEM tetap relevan, namun harus mengedepankan pendekatan yang lebih sistematis, terjadwal, dan terintegrasi dengan sistem pendidikan kampus.

Aktivisme, dalam pandangannya, tidak lagi cukup mengandalkan spontanitas, tetapi perlu dikelola sebagai bagian dari proses pembelajaran yang terstruktur.

Sutawijaya juga menyoroti pentingnya peran senior dan institusi kampus dalam membimbing mahasiswa. Ia menekankan perlunya sistem yang jelas—mulai dari kaderisasi, jadwal diskusi, hingga mekanisme penyampaian aspirasi—agar konflik internal dapat diredam dan energi mahasiswa diarahkan secara produktif.

Demonstrasi tetap sah sebagai alat perjuangan, namun harus dilakukan dengan kesiapan konsep dan kesadaran sosial, termasuk tidak merugikan masyarakat luas seperti menghambat aktivitas publik.

Di sisi lain, ia mengakui bahwa dinamika internal organisasi mahasiswa, termasuk konflik antarindividu dan infiltrasi kepentingan eksternal, merupakan realitas yang tidak bisa dihindari. Namun, baginya, kunci utama tetap pada tanggung jawab personal dan integritas.

Setiap individu memiliki pilihan, dan dari pilihan itulah kualitas kontribusi terhadap kampus dan masyarakat akan dinilai.

Menutup refleksinya, Sutawijaya melihat bahwa sistem manajemen kampus saat ini sebenarnya telah berkembang ke arah yang lebih baik.

Tantangan terbesar justru berada pada level implementasi—khususnya dalam komunikasi, kedewasaan sikap, dan kemampuan mengelola perbedaan.

Ia percaya bahwa dengan kombinasi antara sistem yang baik, kepemimpinan yang adaptif, serta mahasiswa yang kritis dan solutif, kampus akan tetap menjadi ruang penting dalam melahirkan agen perubahan.

Kisah Sutawijaya bukan sekadar nostalgia tentang masa lalu, melainkan cermin tentang bagaimana aktivisme mahasiswa seharusnya bertumbuh: berakar pada gagasan, ditempa oleh realitas, dan diarahkan untuk memberi makna.

___
Editor Denun