Baginya, pendidikan adalah senjata dengan jangkauan terpanjang—menguatkan karakter sebelum kekuasaan, dan menajamkan nurani sebelum jabatan.
Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif & Arsitek Kesadaran Sosial
PELAKITA.ID – Menutup Januari 2026, tepat pada pagi 31 Januari, lembar duka itu tiba. Duka yang bukan hanya milik Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan, tetapi juga milik republik ini.
Mayjen TNI (Purn.) H. Salim S. Mengga berpulang di usia menjelang 75 tahun—tepat pada tahun pertama amanah politiknya sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Barat, mendampingi Suhardi Duka.
Kepergiannya datang bukan di ujung keheningan, melainkan di tengah jalan pengabdian yang masih berdenyut.
Permintaan Presiden Prabowo Subianto agar Salim dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata memiliki alasan sejarah dan etika.
Salim, Prabowo, dan Sjafrie Sjamsoeddin ditempa dalam rahim yang sama: Akademi Militer 1974. Mereka satu angkatan, satu zaman, satu sumpah. Kehormatan itu berdiri di atas ingatan kolektif tentang disiplin, loyalitas, dan pengabdian yang tak selesai oleh jabatan.
Salim Mengga adalah peraih Bintang Eka Paksi, Panglima ke-17 Kodam XV/Pattimura, Kasdam IV/Diponegoro (1995–1997), serta dua periode anggota DPR RI (2009–2018) dari Fraksi Demokrat dengan mandat Komisi Pertahanan dan Keamanan.
Dari seluruh usia hidupnya, 32 tahun diabdikan di militer dan hampir dua dekade di politik—dua medan keras yang sama-sama menuntut keteguhan watak.
Tidak banyak putra Mandar yang mencapai pangkat jenderal. Salim termasuk sedikit yang menembus puncak bintang dua. Karena itu, dimakamkannya ia di Kalibata menempatkannya dalam barisan putra Mandar yang diakui negara—bersama Baharuddin Lopa dan Komjen Pol. Sjafruddin Kambo.
Dari pesisir Mandar, disiplin dan keberanian memang terbiasa berlayar jauh.
Relasi pengabdian Salim juga bertaut dengan jejaring kepemimpinan nasional. Susilo Bambang Yudhoyono, pendiri dan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, adalah kakak asuh Salim semasa pendidikan di Magelang. Dari sana, jejaring etika kepemimpinan dibangun—sunyi, disiplin, dan konsisten.
Di arena elektoral, kegigihan Salim jarang tertandingi: lima kali Pilkada, tiga kali kontestasi legislatif, serta keterlibatan lintas partai—Demokrat, PKS, dan Perindo. Empat kali Pilgub Sulbar dan sekali Pilbup Polewali Mandar (2018).
Tiga kali sebagai calon gubernur dan sekali sebagai calon wakil gubernur, hingga akhirnya terpilih pada 2024. Menang dan kalah adalah fakta; tidak menjauh dari medan juang adalah wataknya.
Jejak itu juga adalah sejarah keluarga. Ir. Aladin S. Mengga, adik kandungnya, pernah menjabat Wakil Gubernur Sulawesi Barat (2011–2016).
Kakak perempuannya, Hj. Syarifah Aisyah “Puang Cici” S. Mengga, menautkan keluarga Mengga dengan jejaring intelektual-keulamaan nasional melalui Prof. Dr. Umar Shihab—kakak Prof. Dr. M. Quraish Shihab dan Alwi Shihab. Dari rumah yang sama, pengabdian mengambil rupa berbeda: militer, politik, dan ilmu.
Dari perspektif kajian kepemimpinan, figur seperti Salim merepresentasikan transisi kepemimpinan Indonesia—dari disiplin komando menuju etika deliberasi demokratis.
Dari kacamata sosiologi politik, ia mencerminkan ketahanan sosial: bertahan dalam kontestasi panjang tanpa memutus ikatan kultural dan martabat personal.
Bagi penulis, Salim Mengga bukan sekadar nama dalam arsip sejarah. Ada perjumpaan langsung yang berkesan dan tak mudah dilupakan—saat beliau maju sebagai Calon Gubernur Sulawesi Barat berpasangan dengan Hasanuddin Mas’ud, dan kembali berinteraksi pada fase terakhir pengabdiannya ketika mendampingi Suhardi Duka, gubernur yang didampinginya hingga ia berpulang.
Dalam dialog-dialog itu, Salim tampil lugas dan tenang. Kata-katanya tak berlebihan, sikapnya kokoh. Ia berbicara seperti prajurit yang berdamai dengan waktu—setia pada proses dan kehormatan.
Pada perjumpaan itu pula, penulis menangkap semangat dan kebanggaan yang jernih ketika ia bercerita tentang jalan militernya, tentang kebersamaan satu angkatan Akmil 1974 bersama Prabowo Subianto, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Ryamizard Ryacudu.
Bukan kebanggaan yang riuh, melainkan keyakinan tenang seorang prajurit yang memahami arti proses, disiplin, dan persahabatan dalam pengabdian.
Dari percakapan-percakapan itu, ada satu pesan yang tak pernah ia lupa dan selalu ia ulang: agar generasi muda tidak berhenti menempuh pendidikan setinggi mungkin. Dengan logat Mandar yang hangat, ia menegaskan,
“Da peosa passikola!”
Jangan pernah lelah belajar.
Baginya, pendidikan adalah senjata dengan jangkauan terpanjang—menguatkan karakter sebelum kekuasaan, dan menajamkan nurani sebelum jabatan.
“Sayyé Salim ini memang ikuti jejak ayahnya—berani, cerdas, dan teguh pendirian,” ujar sepupunya, Sayyid Djafar Thaha, di Pambusuang.
Para sufi mengingatkan: makna hidup bukan pada panjangnya jalan, melainkan pada kesetiaan terhadap niat. Jalaluddin Rumi menulis,
“Di luar benar dan salah ada sebuah ladang; di sanalah kita bertemu.”
Pada ladang itulah Salim Mengga kini beristirahat—setelah menempuh jalan panjang pengabdian, dari Mandar untuk Indonesia.
___
Muliadi Saleh
Menulis Makna, Membangun Peradaban
