Demi Masa: Memaknai Pengajian Rutin di Kampung Matoa

  • Whatsapp
Pengajian ini dihadiri oleh ibu-ibu dan anak-anak santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Baitul Mappakabaji Kampung Matoa, Kelurahan Pai, Kecamatan Biringkanaya, Makassar.

PELAKITA.ID – Makassar, 18 Januari 2026 — “Wal ‘Ashr. Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3).

Ayat tersebut menjadi tema utama pengajian rutin yang disampaikan oleh Ustadz Tauhid dari Lembaga Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, yang digelar di Kampung Matoa, Makassar, pada Sabtu sore (17/01/2026).

Dalam tausiyahnya, Ustadz Tauhid mengingatkan bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara.

Karena itu, waktu harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mempersiapkan diri dan keluarga, khususnya melalui peningkatan kualitas iman dan amal saleh. Ia menekankan pentingnya pendidikan bagi anak-anak agar kelak tumbuh menjadi generasi yang beriman dan berakhlak baik.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Tauhid mengingatkan bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara.

“Cukuplah kita sekarang yang menjadi pemulung. Anak-anak kita harus diberi kesempatan sejak dini untuk memperoleh pendidikan yang layak demi masa depan mereka, sehingga kelak mereka tidak perlu lagi memulung di jalanan,” tuturnya.

Sementara itu, Jumardi Lanta, mewakili Komunitas Jumat Berkah, menyampaikan bahwa komunitas tersebut telah hadir danhadur bersama warga Kampung Matoa sejak tahun 2023.

Ia menegaskan bahwa kehadiran tersebut dilandasi semangat persaudaraan, karena seluruh umat manusia—terlebih umat Islam—adalah saudara: sama-sama keturunan Nabi Adam AS dan umat Nabi Muhammad SAW.

“Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?” ujarnya. Ia juga mengaitkan nilai-nilai kearifan lokal Bugis-Makassar, seperti abbulo sibatang (pentingnya persatuan), accera sitongka-tongka (bekerja sama untuk mencapai tujuan), sipakainga (saling mengingatkan dan menasihati), serta siri’ na pacce (rasa malu jika membiarkan saudara dalam kesulitan tanpa bantuan).

Pengajian ini dihadiri oleh ibu-ibu dan anak-anak santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Baitul Mappakabaji Kampung Matoa, Kelurahan Pai, Kecamatan Biringkanaya, Makassar.

Mereka merupakan komunitas pemulung yang telah bermukim di Kampung Matoa selama lebih dari 10 tahun. Saat ini, sekitar 41 kepala keluarga menetap di kawasan tersebut, yang sebagian besar berasal dari Kabupaten Bantaeng dan Jeneponto.

Turut hadir Ibu Nahlang, koordinator Komunitas Jumat Berkah (KJB), yang pada kesempatan itu juga menyalurkan infak dari warga komunitas KJB kepada para peserta pengajian.

Menjelang akhir kegiatan, Ibu Nahlang berpesan kepada para santri agar belajar dengan sungguh-sungguh sehingga kelak mampu menjadi pendidik bagi adik-adiknya. Ia mencontohkan Asti, salah satu santriwati yang telah mampu membantu dan mendampingi gurunya dalam kegiatan belajar mengajar.