Refleksi Ekologis Memasuki Tahun Baru 2026

  • Whatsapp
Muliadi Saleh (ilustrasi penulis)

Memasuki Tahun Baru 2026, refleksi ekologis seharusnya menggeser orientasi kita: dari menaklukkan alam menuju bersahabat dengan alam; dari eksploitasi menuju perawatan; dari konsumsi menuju kecukupan. Inilah jihad sunyi zaman modern—bukan dengan senjata, melainkan dengan kesadaran.

Penulis : Muliadi Saleh , Esais Reflektif

PELAKITA.ID – Tahun-tahun terakhir mengajarkan kita satu hal penting yang pahit namun jujur yaitu krisis ekologis yang bukan semata krisis lingkungan, melainkan krisis batin.

Hutan yang runtuh, sungai yang sakit, udara yang sesak, dan laut yang menua sebelum waktunya—semuanya berakar dari cara pandang manusia yang memisahkan diri dari alam. Kita memperlakukan bumi sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai amanah Ilahi.

Dalam perspektif religius, alam bukan sekadar latar kehidupan, melainkan ayat-ayat Tuhan yang terbentang. Al-Qur’an menyebutnya ayat kauniyah—tanda-tanda kebesaran-Nya di jagat raya.

Ketika satu ayat dirusak, sesungguhnya yang tercabik bukan hanya ekosistem, tetapi juga kesadaran spiritual manusia.

Seorang sufi besar, Jalaluddin Rumi, pernah berbisik lirih kepada zaman: “Jangan kau perlakukan bumi seperti karpet yang kau injak, sebab ia adalah tubuh yang hidup, dan engkau bagian darinya.”

Kutipan ini terasa seperti teguran lembut yang terlambat kita dengar. Betapa sering kita menginjak tanpa merasa, mengambil tanpa menimbang, dan membuang tanpa menoleh ke belakang.

Refleksi ekologis menuntut lebih dari sekadar kampanye hijau atau jargon keberlanjutan.

Ia meminta pertobatan cara hidup. Sebab kerakusan bukan hanya soal industri besar, tetapi juga kebiasaan kecil yang kita anggap remeh: membuang sampah sembarangan, memboroskan air, menghabiskan tanpa rasa cukup. Dalam bahasa tasawuf, itulah penyakit nafs al-ammārah—nafsu yang ingin memiliki tanpa batas.

Ibn ‘Arabi, sufi filsuf besar Andalusia, menulis dengan kesadaran kosmik yang dalam: “Alam semesta adalah cermin Tuhan; siapa merusaknya, merusak kemampuannya sendiri untuk mengenal-Nya.”

Maka kerusakan ekologis sejatinya adalah kabut yang menutupi mata batin kita sendiri.

Memasuki Tahun Baru 2026, refleksi ekologis seharusnya menggeser orientasi kita: dari menaklukkan alam menuju bersahabat dengan alam; dari eksploitasi menuju perawatan; dari konsumsi menuju kecukupan. Inilah jihad sunyi zaman modern—bukan dengan senjata, melainkan dengan kesadaran.

Sosiologi lingkungan mengajarkan bahwa krisis ekologis selalu berdampak paling keras pada mereka yang paling lemah: masyarakat pesisir, petani kecil, anak-anak, dan generasi yang belum lahir. Maka merawat bumi adalah juga bentuk keadilan sosial lintas generasi. Kita sedang meminjam bumi dari anak cucu, bukan mewarisinya untuk dihabiskan.

Seorang sufi lain berkata sederhana namun mengguncang: “Kesucian hati seseorang dapat diukur dari caranya memperlakukan makhluk yang tak bisa membela diri.”

Bukankah bumi adalah makhluk paling sabar—terluka, tetapi tetap memberi?

Tahun baru tidak cukup dirayakan dengan hitungan mundur dan pesta cahaya. Ia layak disambut dengan niat baru: mengurangi yang merusak, menambah yang menyembuhkan.

Menanam pohon bukan hanya kerja ekologis, tetapi ibadah sunyi. Menghemat energi bukan sekadar efisiensi, tetapi bentuk syukur. Merawat alam adalah cara paling konkret untuk menundukkan ego.

Jika bumi masih setia bertasbih, maka janganlah manusia terus menjadi makhluk yang lupa.

Semoga 2026 menjadi tahun kembalinya kesadaran: bahwa bumi bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan Tuhan. Dan bahwa menjadi manusia beriman hari ini berarti menjadi penjaga kehidupan, bukan penghabisnya.

Ya Tuhan, ajari kami mendengar tasbih bumi, sebelum jeritnya berubah menjadi azab.

Selanat tahun baru 2026!.