Dalam konteks kebudayaan dan pemikiran Nusantara, asta kerap digunakan untuk merumuskan prinsip hidup, laku kepemimpinan, atau cita-cita kolektif. Istilah seperti Asta Brata atau Asta Cita menunjukkan upaya menyusun nilai-nilai penting ke dalam satu kerangka yang utuh, agar mudah dipahami, diingat, dan dijalankan secara konsisten.
PELAKITA.ID – Infoka kalau adamaki di TKP Kopizone. Begitu pesan dari Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, Prof Amran Razak ke gawai penulis. Saya sedang di The Danau Mawang bersama keluarga saat pesan itu masuk.
Sore itu, saya pun bersua Prof. Amran Razak setelah diantar istri. Amran, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin yang juga berjuluk Demonstran dari Lorong Kambing itu hadir di Hometown Kopzone, 31 Desember 2025. dengan ciri khasnya topi krem nyaris kuning.
Hadir pula beberapa kolega seperti kakanda motivator dan leadership trainer Harun Al Rasyid, Dr Sakka Pati – dosen FH Unhas hingga Dr Nani Harlinda, dosen Fisip UIT. Bersama mereka ini saya mencatat sejumlah hal penting, terutama setelah ‘sesi pendalaman’ bersama Prof Amran Razak.
Dengan Prof Amran, kami berpisah pukul 18.30 Wita—lima jam tiga puluh menit sebelum tahun baru 2026 tiba.
Alumni Smansa Makassar angkatan 75 dan pernah sebagai Ketua IKA FEB Unhas itu menuju Tamalanrea, saya ke Tamarunang.
Pertemuan singkat di ujung tahun, namun meninggalkan gema panjang dalam pikiran.

Asta Hal
Dari obrolan santai yang jauh dari kesan menggurui itu, saya mencatat setidaknya ada ‘Asta Hal’ yang layak direnungkan.
Kata Asta memang lagi trend, Asta berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti delapan, sebuah angka yang dalam banyak tradisi dipahami bukan sekadar hitungan, melainkan simbol keutuhan, keseimbangan, dan tatanan nilai.
Dalam konteks kebudayaan dan pemikiran Nusantara, asta kerap digunakan untuk merumuskan prinsip hidup, laku kepemimpinan, atau cita-cita kolektif. Istilah seperti Asta Brata atau Asta Cita menunjukkan upaya menyusun nilai-nilai penting ke dalam satu kerangka yang utuh, agar mudah dipahami, diingat, dan dijalankan secara konsisten.
Hakikat asta terletak pada ikhtiar menjadikan nilai sebagai panduan etis, bukan sekadar slogan. Delapan prinsip yang dirumuskan di dalamnya saling terkait dan saling menguatkan, membentuk kesatuan arah dalam bertindak dan mengambil keputusan.
Dengan demikian, asta bukan hanya tentang jumlah, melainkan tentang komitmen untuk menjaga keseimbangan antara niat, pikiran, dan perbuatan—agar perjalanan individu maupun kolektif tidak kehilangan arah di tengah kompleksitas zaman.
Lalu ada saja Asta ala Prof Amran itu?
Pertama, tentang hakikat pengabdian seorang dosen di usia senja.
Bagi Prof. Amran, gelar guru besar bukanlah garis finis, melainkan tantangan baru.
Ia menuntut enduransi akademik sekaligus jelajah sosial kemasyarakatan. Tak heran jika dia selalu berupaya untuk hadir di kelas-kelas riset, kuliah kesehatan masyarakat bahkan masih mengiyakan ketika harus terbang dan berbagi pengalaman di pulau seberang terkait penyelenggaraan kebijakan kesehatan publik.
Bahkan sekadar menikmati satu-dua cangkir kopi bersama kolega seperjuangan, atau bercengkerama dengan adik-adik lintas pemikiran, adalah bagian dari kerja intelektual itu sendiri.
Kedua, tentang kerendahan hati untuk terus belajar.
Jika seorang sepuh tak lagi disapa adik-adiknya di tengah riuh pergerakan sosial dan lalu lintas pengetahuan mutakhir, maka tak ada salahnya ia yang lebih dulu menyapa.
Bertanya: apakah ada yang luput, apakah ada sesuatu yang sungguh penting di kekinian dan masa depan. Ketua Prodi Kebijakan Kesehatan FKM Unhas ini mengaku WhatsApp-nya selalu online—rugi rasanya menutup diri dari hal-hal baru di usia yang kian senja.
Ketiga, tidak mencampuri urusan orang lain. Campurannu, campurannku. Jika tak bisa terlibat dalam agenda perubahan berskala besar, memilih jalan sunyi bukanlah dosa.
Bekerja dalam senyap jauh lebih bermakna ketimbang sibuk mengurusi urusan orang hingga melukai harga diri sendiri: “beserekko nucalla agangnu, sipangnganreangnu.” Artinya (janganlah) sengketa, mencela teman, teman sepiring. Sebuah reminder bijak.
Keempat, nilai silaturahmi. Di tengah hidup yang makin kompleks dan tak pasti—ibarat benang yang ujung dan pangkalnya tak kita ketahui—silaturahmi membuat mata terbuka dan hati terpanggil.
Syukur jika tangan kanan bisa bekerja tanpa tangan kiri terangkat atau jari teracung. Cinikae! Lihat saya.
Kelima, belajar mendengar tanpa kehilangan keberanian bersuara.
Dengarkan orang lain, tapi jangan diam saat hak-hakmu diinjak—baik hak pada ideologi, pada kebenaran, maupun pada suara hati. Jika tekanan suara tak kunjung turun dan nyerocos terus berlanjut, bokoi! Tinggalkan.
Keenam, hakikat organisasi sosial, termasuk alumni. Ia adalah arena bertemunya kenangan, pengalaman, dan pengetahuan.
Punya kenangan, tak apa. Punya pengalaman, bagikan. Punya pengetahuan baru, bagikan. Tapi jangan pula selalu merasa palugada—apa lu mau, gue ada. Sare tawwa bageanna. Beri kesempatan ke yang lain untuk ko-eksis.
Ketujuh, tentang api perjuangan. Ia tetap menyala saat kita sadar bahwa menjadi bagian dari solusi tak harus besar. Yang penting ikut menjaga irama agar bisa dinikmati atau dijadikan arena semua orang.
Jangan sibuk merasa akan menjadi pemimpin atau paling iyakamma. Bahkan mendoakan pun sudah lebih dari cukup. Jangan nyinyir.
Kedelapan, tentang keterbatasan waktu dan kehangatan persahabatan.
Fisik boleh tak sekuat dulu, pertemuan bisa kian jarang, tetapi apa yang lebih asik dari merasakan penderitaan bersama sahabat sejati?
Apalagi jika sesekali bisa mereguk kenikmatan bersama, di tengah lalu lintas keluh kesah yang meriung di kepala banyak orang.
Pertemuan di Kopizone itu terasa singkat. Namun nasehat Prof. Amran Razak di pengujung tahun terasa seperti bekal sunyi untuk melangkah ke hari-hari yang belum tentu lebih mudah, tetapi semoga lebih jernih.
Selanat tahun baru 2026, wahai para Astawan dan Astawati.
__
Denun, Tamarunang, 1 Januari 2025
