Penjaga Kearifan Lokal dan Penyelaras Alam itu Bernama “Punggawa Galung”

  • Whatsapp
Ilustrasi: Punggawa Galung

Ketika tikar mulai dilipat dan hidangan tersisa, saya kembali memandang Punggawa Galung. Tubuhnya renta, namun wibawanya menembus batas umur. Ia memahami bahwa sawah adalah tempat menanam padi sekaligus tempat menanam nilai—kesabaran, kejujuran, dan penghormatan pada siklus alam.

Muliadi Saleh
Esais Reflektif, Direktur Eksekutif Lembaga SPASIAL

PELAKITA.ID – Pagi menjelang siang di Desa Kalola, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, saya larut dalam suasana Syukuran Panen. Di atas pematang, tikar digelar memanjang seperti garis waktu yang menyambungkan generasi.

Hidangan lokal—sokko ketan yang masih mengepulkan uap, ikan asin yang menguar aroma laut, hingga sayur daun kelor nan sederhana—menggoda bukan hanya selera, tetapi juga ingatan akan masa ketika panen menjadi pusat kegembiraan desa.

Di tengah suasana itu, satu nama disebut dengan nada hormat: Punggawa Galung, sosok yang dipercaya membuka acara melalui doa. Dengan suara pelan dan tenang, ia memanjatkan doa seolah berbicara dari ruang waktu yang tidak pernah terburu-buru.

Bagi masyarakat, Punggawa Galung bukan sekadar tokoh adat; ia adalah penjaga alam yang memahami bahwa sawah bukan hanya ruang produksi, tetapi juga ruang spiritual.

Ketika tangannya terangkat, para petani menunduk, menyerap kata-kata yang lahir dari pengalaman panjang membaca tanda-tanda alam, dari kesadaran bahwa rezeki hanya datang melalui harmoni.

Di balik wajah keriputnya tersimpan arsip pengetahuan tentang kapan angin membawa kabar hujan, bagaimana air harus diarahkan agar tidak merusak tunas, serta etika menanam agar tanah tidak terkuras keserakahan manusia.

Ia membaca alam seperti kita membaca berita pagi—teliti, akurat, dan penuh makna. Dalam beberapa musim, padi membutuhkan kelapangan; di musim lain, manusia yang perlu belajar menahan diri.

Sosok seperti Punggawa Galung mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah resmi, tetapi merekalah alasan peradaban desa bertahan begitu lama. Mereka adalah institusi tanpa gedung, regulasi tanpa kertas, dan kebijakan tanpa rapat.

Mereka menjaga ritme kehidupan agraris tetap selaras, ketika dunia di luar desa bergerak cepat bersama alarm digital dan notifikasi yang tak henti.

Di era yang memuja kecepatan, Punggawa Galung mengajarkan bahwa tanah tidak bisa dipaksa, panen bukan hadiah bagi yang tergesa, dan ikhtiar harus selaras dengan alam, bukan menaklukkannya. Ketika menutup doa syukuran, suaranya rendah namun menggetarkan:

“Jangan ambil lebih dari yang menjadi hak kita. Tanah ini akan kembali memberi jika kita pun tahu diri.” Sebuah pesan yang lebih menenangkan daripada menggurui—seperti embun yang jatuh perlahan ke daun padi.

Syukuran panen hari itu bukan sekadar ritual, tetapi kelas besar tentang kearifan ekologis yang kian terpinggirkan.

Di pematang sempit itu kita diingatkan bahwa kedaulatan pangan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal menjaga hubungan yang sehat dengan bumi. Punggawa Galung berdiri sebagai pengingat bahwa kemajuan tanpa kearifan hanya menjadikan kita pandai membangun, namun gagap bertahan.

Ketika tikar mulai dilipat dan hidangan tersisa, saya kembali memandang Punggawa Galung. Tubuhnya renta, namun wibawanya menembus batas umur. Ia memahami bahwa sawah adalah tempat menanam padi sekaligus tempat menanam nilai—kesabaran, kejujuran, dan penghormatan pada siklus alam.

Di tengah modernisasi yang kerap melompati akar, sosok seperti Punggawa Galung penting bukan hanya bagi desanya, tetapi bagi kita semua.

Ia mengingatkan bahwa identitas bangsa ini lahir dari tanah yang diolah tangan-tangan sederhana, jauh sebelum industrialisasi dan digitalisasi datang. Bahwa kita dulu belajar dari alam, bukan melawannya.

Mungkin suatu hari jabatan seperti Punggawa Galung tidak lagi dikenal, digantikan sensor cuaca dan mesin pintar. Tetapi hari ini, ketika ia menutup syukuran dengan senyum sederhana, saya tahu satu hal: modernitas boleh mendominasi, tetapi tanpa penjaga kearifan lokal, kita kehilangan arah.

Dan hari itu, di pematang yang hangat oleh matahari dan aroma tanah basah, saya merasa sedang pulang—pulang kepada kearifan yang dijaga seorang tua bernama Punggawa Galung, pulang kepada nilai-nilai yang menjaga kita tetap utuh di tengah perubahan, pulang kepada diri kita sendiri.