Koordinator FIK Ornop Sulsel: Hilirisasi dan Ketahahan Energi Harus Berbasis Masyarakat

  • Whatsapp
Koordinator FIK Ornop Syamsang Syamsir pada seminar Hilirisasi dan Ketanahan Energi yang digelar Satgas PHKEP ESDM - UnhasTV (do:: Istimewa)

Hilirisasi berbasis masyarakat menjadi strategi penting untuk memastikan nilai tambah ekonomi berjalan seiring dengan kesejahteraan sosial.

Samsang Syamsir, Koordinator FIK Ornop Sulsel

PELAKITA.ID – Forum Informasi dan Komunikasi Organisasi Non Pemerintah Sulawesi Selatan (FIK ORNOP Sulsel) lahir dari semangat kolaborasi dan cita-cita besar untuk memperkuat peran masyarakat sipil dalam pembangunan bangsa.

Didirikan pada 4 Juli 1990, forum ini awalnya dikenal dengan nama FIK LSM (Forum Informasi dan Komunikasi Lembaga Swadaya Masyarakat) sebelum akhirnya berganti nama menjadi FIK ORNOP Sulsel pada 27 Mei 2000.

Di bawah kepemimpinan Samsang Syamsir, FIK ORNOP Sulsel terus bertransformasi menjadi wadah yang aktif memperjuangkan kemandirian, demokrasi, dan keadilan sosial.

Forum ini kini menaungi 51 organisasi masyarakat sipil yang bergerak di berbagai isu, mulai dari lingkungan hidup, pemberdayaan ekonomi, hingga penguatan tata kelola sumber daya alam.

Di depan peserta Seminar Hilirisasi dan Ketahanan Energi yang digelar oleh Satgas PHKEN Kementerian ESDM dan UnhasTV, Syamsang menegaskan, masa depan pembangunan Indonesia terutama yang bersumber pada energi harus berpijak pada kekuatan masyarakat.

Menurutnya, sumber daya alam (SDA) Indonesia yang melimpah — hutan, tambang, perikanan, dan pertanian — hanya akan menjadi berkah jika dikelola dengan bijak dan memberi manfaat nyata bagi rakyat banyak.

“Karena itu, hilirisasi berbasis masyarakat menjadi strategi penting untuk memastikan nilai tambah ekonomi berjalan seiring dengan kesejahteraan sosial,” ucapnya.

Masyarakat sebagai kunci

Dia menyebut hilirisasi tidak semata tentang industri dan teknologi, tetapi tentang kedaulatan ekonomi dan pemberdayaan komunitas lokal.

” Dengan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan SDA, membuka peluang kerja, dan membangun kapasitas mereka untuk terlibat langsung dalam rantai nilai ekonomi, hilirisasi dapat menjadi jembatan menuju kemandirian nasional,” tegasnya.

Namun, Samsang juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi: keterbatasan infrastruktur dan teknologi, kompleksitas regulasi, hingga lemahnya komunikasi antara masyarakat, pengelola, dan pemerintah.

Meski demikian, ia melihat peluang besar dalam hilirisasi untuk inovasi dan penciptaan lapangan kerja baru, sekaligus memperkuat kontrol negara terhadap sumber daya strategisnya.

Kata dia, FIK ORNOP Sulsel memandang bahwa masa depan Indonesia yang berdaulat dan berkeadilan hanya dapat terwujud melalui sinergi multi-pihak—pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat.

Disebutkan, hilirisasi pengelolaan SDA termasuk energi yang berbasis masyarakat bukan sekadar kebijakan ekonomi, tetapi gerakan moral untuk memastikan kemakmuran bangsa berpihak pada rakyat.

”Dengan komitmen, kolaborasi, dan keberpihakan yang jelas, Indonesia dapat menapaki jalan menuju masa depan yang mandiri, adil, dan berkelanjutan—sebuah masa depan yang lahir dari tangan dan kearifan masyarakatnya sendiri,” kunci alumni Fakultas Ilmu Budaya Unhas ini.

Redaksi